Selasa, 17 September 2019
Peristiwa

Keranda Legendaris TPU Muslim Wanasari Denpasar, Tetap Bertahan Hingga 90 Tahun

Keranda Legendaris TPU Muslim Wanasari Denpasar, Tetap Bertahan Hingga 90 Tahun Keranda jenazah legendaris berwarna hijau diletakan di ponjok barat gedung Yayasan Pemakaman Muslim Wanasari Maruti Tiga Belas, Jalan Maruti, Kampung Jawa, Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara. Sabtu (4/5/2019).(FOTO Khadafi/TIMES Indonesia).
Sabtu, 04 Mei 2019 - 20:52

TIMESINDONESIA, BALI – Sebuah keranda jenazah berwarna hijau diletakan di pojok gedung sebelah barat Yayasan Pemakaman Muslim Wanasari Maruti Tiga Belas atau Tempat Pemakaman Umum (TPU) Islam Wanasari Maruti, Jalan Maruti, Kampung Jawa, Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara.

Sepintas keranda itu seperti pada umumnya yang digunakan untuk menggotong jenasah. Namun, di depan keranda yang terbuat dari kayu jati itu bertuliskan tahun 1929.

Keranda-jenazah-legendaris-b.jpg

Keranda tersebut adalah keranda pertama yang digunakan warga Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara atau lebih dikenal kampung Jawa.

"Dulunya tidak berwarna, tapi tahun 2005 kita cat dengan warna hijau. Keranda itu, awalnya dipakai oleh warga. Tapi sejak adanya keranda dari alumunium atau stenlis, keranda jati itu sudah tidak dipakai. Sekitar tahun 2005 sudah tidak digunakan," ucap H. Sumartono (60), Wakil Ketua Yayasan Pemakaman Muslim Wanasari Maruti Tiga Belas, Sabtu (4/5/2019) sore.

Sumartono juga menjelaskan, alasan lain keranda legendaris tersebut tidak bisa  digunakan selain ada keranda sumbangan dari bahan alumunium, juga saat digotong terasa berat.

Keranda-jenazah-legendaris-c.jpg

"Walaupun digotong 6 orang juga berat. Itu belum ada jenasahnya. Kalau beratnya ada sekitar 10 kilogram lebih. Tapi, hal itu jangan dikaitkan dengan mistis yah. Karena memang semua bahan keranda itu dari kayu jati dulu," ujarnya.

Karena terbuat dari kayu jati, keranda jati ini sudah puluhan tahun tidak ada bekas di makam rayap. Keranda tersebut, masih terlihat utuh tanpa ada bekas dimakan usia. Hanya saja, warna yang berbeda karena di cat hijau pada tahun 2005.

Sumartono menjelaskan, awal keranda tersebut ada dua. Namun, satu keranda yang sama dikirim ke kampung Kecicang Islam, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali.

"Kerandanya juga tidak dimakan rayap sampai sekarang. Mungkin, karena kita cat. Dulunya ada dua, yang satunya dibawa ke Karangasem Kecincang Islam kampung Muslim juga disana dan sekarang sudah tidak dipakai karena ada yang baru lagi," ujarnya.

Sumartono menambahkan,awalnya keranda tersebut diletakkan di Masjid Baiturrahman yang juga di Dusun Wanasari. Namun, ketika Yayasan  Pemakaman Muslim Wanasari di renovasi dan memiliki tempat pemandian jenasah dan akhirnya  dipindahkan ke TPU. 

"Dulu pun tidak taruh disini. Kan biasa (Keranda) itu diantara masjid dan kuburan. Karena disana (Masjid) sudah tidak ada tempat dan di sini sudah direstorasi maka dipindah kesini," ujarnya.

Sumartono, tidak bisa menjelaskan  awal sejarah keranda legendaris tersebut. Karena, saksi sejarah atau para sesepuh sudah ada banyak yang meninggal dunia. Namum, hanya ada beberapa orang yang masih hidup tapi sudah sering lupa. 

Namun, kalau dari cerita sejarah Dusun Wanasari, konon tanah di Dusun Wanasari adalah tanah hibah dari Raja Pemecutan. Karena, umat muslim di Denpasar khususnya, turut membantu perjuangan kerajaan Pemecutan untuk mengusir penjajah kolonial di Kota Denpasar.

"Untuk para sesepuhnya sudah ada yang  meninggal. Kita juga baru berencana mau buat sejarah tertulis dari mana ini asal usulnya (Keranda). Kalau keranda ini antara tahun 1918 atau 1928. Iya itu yang belum kami tau sejarahnya. Ada rencana di museumkan. Kita tunggu habis lebaran saja karena gedung ini mau dibongkar semua. Tapi kita cari dulu sejarahnya yang  valid," ujarnya.

"Kemungkinan keranda jenazah itu warisan  dari Raja Pemecutan. Karena tanah ini dihibahkan dari Raja Pemecutan. Tapi, itu kemungkinan," ujar Sumartono.(*)

Jurnalis : Muhammad Khadafi
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Bali

Komentar

Registration