Kopi TIMES

Guru Cerdas Era Revolusi Industri 4.0

Guru Cerdas Era Revolusi Industri 4.0 Ika Rachmawati, S. Pd (Grafis: TIMES Indonesia)
Jum'at, 26 April 2019 - 17:08

TIMESINDONESIA, MALANGINDONESIA adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk 267 juta jiwa (tahun 2019) dan menempati peringkat 4 dunia negara terpadat. Jumlah penduduk yang besar akan menjadi beban bagi negara bila tidak diimbangi dengan tingginya kualitas SDM. Inilah tantangan bagi dunia pendidikan. Bagaimana cara dunia pendidikan di negara kita bisa mencetak generasi yang cerdas, handal, dan tangguh  dalam  menghadapi tantangan revolusi  industri 4.0.

Pendidikan merupakan proses untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik. Melalui pendidikan inilah semua potensi yang dimiliki oleh peserta didik akan berubah menjadi kompetensi. Kompetensi mencerminkan kemampuan  dan kecakapan peserta didik dalam menyelesaikan tugas yang diembannya. Hanya peserta didik yang memiliki kompetensi yang tinggi yang mampu menghadapi tantangan revolusi industri 4.0.

Guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan  harus mampu mewujudkan tujuan dari sistem pendidikan nasional  umumnya dan K-13 khususnya.  "Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sedangkan  tujuan  dari K-13 adalah mencetak peserta didik yang cesdas spiritual, cerdas sosial, cerdas pengetahuan, dan cerdas keterampilan. Hanya guru yang cerdaslah yang mampu mencetak generasi yang cerdas.

Dunia pendidikan  mendambakan memiliki guru yang cerdas. Karakteristik yang dimiliki guru cerdas antara lain: Pertama,  kreatif dalam kegiatan pembelajar. Sebuah ide kreatif seorang guru sangat diperlukan untuk dapat mengubah situasi pembelajaran menjadi menarik dan efektif sekaligus mengajak siswa lebih aktif. Jika saat ini adalah era teknologi digital, ada kemungkinan ide pembelajaran yang kita kembangkan adalah lebih banyak berhubungan dengan teknologi digital karena secara mayoritas siswa akan lebih tertarik menghadapi sesuatu yang up to date. Dalam era globalisasi persoalan-persoalan yang muncul dalam pembelajaran salah satunya harus diantisipasi dengan inovasi-inovasi terhadap model pembelajaran atau media pembelajaran. (Tyas  Kusuma, Kompsiana).

Kedua, penuh dengan inovatif. Guru sebagai inovator pembelajaran mau tidak mau harus meningkatkan kemampuan diantaranya : 1) Teknologi yang merupakan kekuatan pendorong terhadap inovasi dan kesuksesan. Teknologi memang merupakan salah satu sumber inovasi, akan tetapi bukanlah satu-satunya. Kenyataannya saat ini banyak guru yang berupaya meraih keberhasilan untuk berinovasi. 2) Ada kreativitas yang tergantung gagasan-gagasan yang dimunculkan. Seorang inovator adalah orang yang berhasil mengambil peluang-peluang untuk mewujudkan gagasan-gagasan yang ada dan secara realita dapat dikembangkan. (Tyas  Kusuma, Kompsiana).

Ketiga, guru pembelajar. Guru  pembelajar adalah guru ideal yang terus belajar dan mengembangkan (upgrade) diri di setiap saat dan dimanapun. Guru terus belajar dan mengembangkan diri bukan untuk pemerintah atau  kepala sekolah, tapi memang sejatinya setiap pendidik atau guru adalah pembelajar. Hanya dari guru yang terus belajar dan berkarya akan muncul generasi pembelajar sepanjang hayat yang terus menerus berkontribusi pada masyarakat di lingkungannya. Guru pembelajar adalah guru yang senantiasa terus menerus belajar selama dia mengabdikan dirinya di dunia pendidikan . Oleh karena itu ketika seorang guru memutuskan untuk berhenti atau tidak mau belajar maka pada saat itu dia berhenti menjadi guru atau  pendidik. (Tuti Widiastuti,  Kompasiana)

Salah satu tantangan yang harus dihadapi guru di era digital ini (revolusi industri 4.0) adalah pertama, mengatasi penyakit TBC (tidak bisa computer). Perlu diingat, peserta didik yang dihadapi guru saat ini merupakan generasi millenial yang tidak asing lagi dengan dunia digital. Jangan sampai timbul istilah, peserta didik era industri 4.0 diajar oleh guru industri 3.0 atau diajar guru industri 2.0, bahkan yang lebih parah lagi diajar oleh guru industri 1.0. Jika  ini terjadi , maka pendidikan kita akan terus tertinggal dibandingkan negara lain yang telah siap menghadapi perubahan besar ini. Jika guru tidak mempersiapkan kedatangan revolusi digital ini, guru bukan hanya dikalahkan dengan teknologi, guru juga akan dikalahkan oleh peserta didiknya.

Kedua, problem pengelolaan kelas. Guru seringkali mengeluh ketika mengajar di kelas, apalagi jika kelas yang dikelolanya adalah kelas yang menurutnya mayoritas peserta didiknya memiliki kecerdasan rendah, kurang disiplin, malas belajar, dan tidak patuh terhadap perintah guru. Guru yang cerdas pasti mampu menggunakan strategi untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan menggunakan variasi model dan media pembelajaran agar peserta didik tertarik dan termotivasi untuk belajar.

Ketiga, problem komunikasi. Guru sering kali memiliki kecenderungan untuk dimengerti dan dihargai oleh peserta didiknya. Padahal seharusnya gurulah yang harus mengerti kondisi mereka terlebih dahulu. Setelah guru mengerti kondisi peserta didik  secara tidak langsung peserta didik akan mau mengerti kondisi gurunya.

Kemampuan dan kreatifitas  guru cerdas dalam era globalisasi dunia pendidikan saat ini masih sangat dibutuhkan dan tidak bisa tergantikan oleh komputer maupun internet. Hal ini disebabkan peran guru sangatlah kompleks,  antara lain : a) guru memiliki peran sebagai pembimbing, b) guru berperan sebagai sebagai evaluator dan motivator, c) guru sebagai  konselor, dan d)  guru cerdas mampu mengembangkan kreatifitas dan inovatif peserta didik.  Selain itu, guru  cerdas juga harus mampu memilih strategi pembelajaran yang sesuai. Penggunaan strategi pembelajaran yang sesuai antara materi, metode dan media pembelajaran dapat mewujudkan tercapainya tolak ukur keberhasilan proses belajar mengajar. Sehingga dapat mencetak generasi cerdas dari rahim dunia pendidikan. Untuk mencetak guru-guru yang cerdas inilah pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam bentuk sertifikasi guru. Dengan sertifikasi guru inilah pemerintah berharap agar guru menuntaskan kewajibannya dengan terus mengasah kemampuan dan kreatifitas dalam mengajar.

Dari gambaran diatas, betapa pentingnya peran guru dan betapa beratnya tugas dan tanggungjawab guru. Seorang  guru yang cerdas mampu menghadapi dan mengelola tantangan menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan, memahami apa yang diajarkan, menguasai bagaimana mengajarkannya, dan tidak kalah pentingnya menyadari mengapa dia memilih dan menetapkan pilihan terhadap sesuatu kegiatan pembelajaran. Oleh  sebab itu setiap guru hendaknya selalu mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. (*)

* Penulis adalah Ika Rachmawati, S. Pd Guru IPS SMPN 1 Pujon yang saat ini sedang menempuh Studi S2 FPIPS di Unikama

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Loading...
Registration