Pendidikan

Pastikan Kelancaran Ujian Siswa Difabel, Dewan Pendidikan Kota Kediri Sidak UNBK

Pastikan Kelancaran Ujian Siswa Difabel, Dewan Pendidikan Kota Kediri Sidak UNBK Dewan pendidikan lakukan sidak UNBK
Selasa, 23 April 2019 - 20:37

TIMESINDONESIA, KEDIRI – Hari Kedua Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMP sederajat, Dewan Pendidikan Kota Kediri menggelar inspeksi mendadak ke SMP Muhammadiyah 2 Kota  Kediri. Sidak tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan ujian berjalan dengan lancar khususnya terhadap anak berkebutuhan khusus atau siswa difabel.

Diketahui UNBK di Sekolah SMP 2 Muhammadiyah Kota Kediri ini diikuti oleh 162 siswa yang 3 diantaranya adalah anak berkebutuhan khusus.

"Ada 3 siswa berkebutuhan khusus di sini, yang satu terkena katarak yang dua autis," ujar Ketua Dewan Pendidikan Kota Kediri, Heri Nurdianto saat ditemui di SMP Muhammadiah 2, Selasa (23/4/2019). 

Dalam pelaksanaannya menurut Heri ketiga siswa berkebutuhan khusus tersebut berjalan lancar. Tidak ada kendala berarti yang ditemui ketiganya. "Ujian berjalan lancar. Tidak ada kendala yang berarti, termasuk anak yang berkebutuhan khusus," katanya.

Namun kata Heri, ketiga siswa tersebut harus mendapatkan pendampingan khusus oleh pengawas, untuk menuju ke proses ujian dengan komputer. "Mereka didampingi oleh guru pengawas. Apabila ada kesulitan bisa langsung diantisipasi," ucapnya.

Dewan Pendidikan melihat pelaksanaan UNBK hari kedua di SMK Muhammadiyah 2 Kediri berjalan lancar. Meskipun sekolah inklusi, tetapi tidak ada perbedaan antara siswa normal dengan ABK. Termasuk, standarisasi soal dan nilai ujian. 

Terpisah, Kepala SMP Muhammadiyah, Drs. Ludi Jantono menegaskan, tidak ada perbedaan perlakuan antara ABK dan siswa normal dalam pelaksanaan UNBK di sekolahnya. Hanya saja, siswa ABK mendapatkan pendampingan dari guru pengawas dalam menghidupkan komputer sebagai perangkat kerja UNBK. 

"Tiga peserta berkebutuhan khusus setiap hari masuk sesuai jadwal UNBK. Tidak ada perbedaan. Sejak berangkat diantar orang tua, sampai masuk ke ruangan, kita dampingi. Insya Allah kita bekali untuk ikut ujian. Dan materi soal standarnya sama," jelas Ludi Jantono.

Ia menambahkan, tujuan disatukannya para siswa berkebutuhan khusus tersebut adalah agar para siswa itu memiliki rasa percaya diri yang kuat dan tidak berfikir bahwa mereka memiliki kekurangan yang berarti.

"Jika dipisah saya rasa mereka (siswa difabel) justru akan kurang percaya dirinya, karena disendirikan di ruang kelas lain, dan itu lambat laun saya rasa akan berefek tidak baik untuk mereka. Jadi biarkan mereka berfikir mereka sama dengan siswa yang lain pada umumnya," pungkasnya saat menjelaskan kegiatan UNBK di sekolahnya. (*)

Jurnalis : Canda Adisurya
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Kediri

Komentar

Loading...
Registration