Politik

Emrus Sihombing: Kedua Paslon Menahan Diri Dulu, Tunggu Real Count KPU RI

Emrus Sihombing: Kedua Paslon Menahan Diri Dulu, Tunggu Real Count KPU RI Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing (FOTO: Edi Junaidi ds/TIMES Indonesia)
Selasa, 23 April 2019 - 17:01

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing menghimbau, semua pihak hendaknya menahan diri dan  menunggu hasil perhitungan manual atau real count yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum RI (KPU RI).

Menurutnya, semuanya sama-sama ngotot melakukan berbagai syukuran. Padahal, KPU RI belum memberikan keputusan, dia menyesalkan itu semua terjadi pada petinggi negara yang seharusnya memberikan contoh demokrasi yang baik kepada seluruh rakyat Indonesia.

“Jangan sampai ada pihak yang ngotot merasa menang. Terkait Pilpres, para lembaga survei telah menyampaikan hasil perhitungan cepat. Hasil tersebut menunjukkan perbedaan perolehan suara oleh dua paslon Pilpres. Salah satu paslon berpeluang mendapat dukungan rakyat menjadi presiden dan wakil presiden, sedangkan paslon lain bisa sebaliknya. Jadi, hasil survei ini bukan pegangan, hanya sekedar peluang,” tutur Emrus Sihombing, di Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner tersebut menegaskan, bahwa terkait dengan pelaku survei para lembaga survei yang sudah terdaftar di KPU lebih memiliki semacam otoritas menyampaikan hasil surveinya kepada publik, daripada yang belum terdaftar di KPU.

“Bila ada lembaga survei yang belum terdaftar di KPU tetap bisa saja melakukan survei namun hasilnya bersifat internal. Karena itu, hasilnya tidak untuk disajikan ke ruang publik,” ujarnya.

Kalaupun memang hasil survei internal disampaikan ke publik,  lanjut dia, sebaiknya tidak hanya me-release hasilnya yang memposisikan paslon tertetu memperoleh angka lebih banyak dari paslon lainnya, tetapi yang paling utama membuka, mendiskusikan dan membongkar metodologi yang digunakan pada semua tahapan proses survei yang dijalankan.

Oleh karena itu, dari aspek penelitian survei, yang terutama diperbincangkan adalah metodologi yang digunakan, bukan sekedar penyampaian hasil dari suatu survei itu sendiri.

“Sebab, bila metodologinya sudah baik, tepat dan benar, maka hasilnya dipastikan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebaliknya, bila hasilnya yang dikedepankan dan melupakan metodologinya, maka hasil tersebut masih dapat dipertanyakan secara akademik,” ujar Emrus Sihombing. (*)

Jurnalis : Edy Junaedi Ds (MG-57)
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Loading...
Registration