Kopi TIMES

Kontrol Diri

Kontrol Diri Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017. (Grafis: TIMES Indonesia)
Senin, 22 April 2019 - 22:36

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTAKontrol diri merupakan salah satu aspek mental yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Juga merupakan suatu kemampuan yang mengatur emosi, pikiran dan perilaku untuk menghadapi godaan dan gerak hati.

Bahkan merupakan suatu kecakapan personal yang sangat diperlukan untuk mengendalikan dan mengarahkan kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Sebaliknya jika kita memiliki kecakapan kontrol diri yang rendah, semakin sulit kita dalam mencapai tujuan.

Kontrol diri merupakan salah  satu aspek penting untuk meraih suatu keberhasilan, selain aspek kewaspadaan, inisiatif dan kepastian tujuan. Kontrol diri dapat juga disebut disiplin diri, karena menyangkut komitmen dan pengendalian diri. Jika perilaku tidak terarah, dan sedikit menyimpang dari tujuan, maka secara otomatis terjadi koreksi perilaku oleh diri sendiri.

Di sinilah kontrol diri memainkan peran penting. Dalam kehidupan kita sebagai orang beragama, sebenarnya tidak cukup kontrol diri itu mengandalkan pikiran saja melainkan yang jauh lebih penting adalah hati yang fungsional. Ingat bahwa hati adalah kompas kehidupan.

Begitu pentingnya kontrol diri bagi seseorang, Daniel Ndukwu, (2018) mengidentifikasi beberapa keuntungan. Diantaranya, (1) meningkatkan kapasitas pembuatan keputusan, (2) meningkatkan kesempatan untuk sukses, (3) dapat membantu kita membatasi perilaku, seperti bohong, pesta minuman keras, dan (4) memperbaiki fokus.

Kemudian, (5) memungkinkan untuk mendapatkan kekayaan, dan (6) mempromosikan kongruensi (aspek emosi, mental, dan hati). Kontrol diri memang banyak memberikan manfaat, tidak untuk diri sendiri secara fisik dan mental, melainkan juga bermanfaat bagi orang lain.

Kontrol diri pada hakekatnya bukan suatu kecakapan bawaan, melainkan kecakapan yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu, kita memiliki peluang untuk menanamkan kontrol diri pada anak sedini mungkin.

Scott Turansky memperkenalkan beberapa cara melatih kontrol diri, yaitu (1) mengajari anak untuk datang ketika dipanggil, (2) mengajari anak untuk merespon secara positif terhadap koreksi, dan (3) sejumlah keterampilan sosial menghendaki kontrol diri, misalnya: mendengar, tahu kapan dan bagaimana interupsi, dan mengontrol marah.

Berikutnya, (4) mendorong anak aktif ketika ada kegiatan untuk membangun disiplin diri, (5) ketika anak menerima hadiah dapat disempatkan membahas disiplin diri, (6) menggunakan waktu sebelum tidur mengajari tentang disiplin diri, dan (7) kegiatan rutin pagi hari dapat dijadikan momentum dalam mengajari tanggung jawab dan disiplin diri.

Sungguh banyak peluang yang bisa dimanfaatkan orangtua dalam melatih kontrol diri, misalkan waktu makan dan habis sholat berjamaah.

Kontrol diri hakekatnya bukan hanya waktu anak masih kecil, melainkan waktu anak dalam mengarungi masa-masa sekolah dan kuliah, bahkan waktu insan itu dalam bekerja, berkeluarga dan bermasyarakat. Termasuk juga dalam beragama. Tanpa kontrol diri yang kuat kita tidak akan bisa meraih sukses dalan studi, karir, dan hidup.

Kita bisa cermati suasana dan kondisi belakangan ini, bahwa kontrol diri sangat diperlukan dalam menghadapi perkembangan hasil rekapituasi hasil pilpres/wapres dan legislatif. Semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dituntut harus mampu tunjukkan kontrol diri, terutama yang terkait dengan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Kini dapat kita lihat terjadi claim kemenangan dari kedua belah kubu. Secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara, bahkan sampai pada kehidupan bermasyarakat.

Untuk menghadapi situsi ini perlu kontrol diri semua dan dibutuhkan tindakan jujur, adil dan objektif dalam melaksanakan tugas. Tidak boleh mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya tanpa mengabaikan nilai-nilai demokrasi.

Akhirnya, kita bisa menyadari bahwa kontrol hidup sangat dibutuhkan oleh semua, terlebih-lebih orang yang mendapatkan amanah. Jika kita semua bisa tunjukkan kontrol diri yang dilandasi dengan hati dan agama secara ikhkas, insya Allah kita semua dapat menjalani hidup dengan baik, yang bisa memberikan manfaat dan jauh dari hal-hal yang tidak kita inginkan. (*)

 

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Loading...
Registration