Kopi TIMES

Jokowi, TGB, dan NTB: Refleksi Ke-NTB-an Pasca Pilpres 2019

Jokowi, TGB, dan NTB: Refleksi Ke-NTB-an Pasca Pilpres 2019 Suaeb Qury, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NTB 2010-2014. (Grafis: TIMES Indonesia)
Senin, 22 April 2019 - 11:44

TIMESINDONESIA, MATARAM – Pesta Demokrasi Pemilu Presiden dan Legislatif yang telah berlangsung 17 April 2019 lalu, dan berjalan secara Damai, Jurdil dan Luber. Pesan-pesan kedamaian yang disampaikan oleh para Calon Presiden, acap kali direspon oleh masyarakat bernilai politik, begitu juga sampaiakan oleh para tokoh Agama para kiyai dan Tuan Guru. Padahal,  jika dipahami secara tekstual dan kontekstual pesan-pesan dalam kampanye Presiden, semuanya mengajak optimisme membangun Indonesia serta menjaga persaudaran berbangsa dan bernegara dengan bersumber pada nilai-niai luhur Pancasila dan UUD 1945. Bagi Bangsa ini, pemilu adalah perwujudan demokrasi yang sejatinya bagi kedaulatan rakyat yang telah memilih para pemimpinnya. 

Setidaknya Pemilu 17 April 2019 lalu, sudah berjalan normal dan maksimal, walupun secara resmi KPU RI telah menetapkan tahapan penghitunga secara berjenjang dalam menetapkan suara dan pemenang Pilres maupun Legialatif. Suatu kewajaran dalam setiap pertandingan pasti ada ueforia kemenagan, begitu juga yang dilakukan oleh pasangan Prabowo-Sandi dan pasangan Jokowi-Maruf di Pemilu 2019 .

Walaupun pada hasil sementara pengumuman melalui hitung cepat Quick Count beberapa lembaga survey disambut gembira dan penuh hidmad serta suka cita oleh berbagai kalangan di NTB,  begitu juga dengan deklarasi klaim kemenangan yang dilakukan oleh pasangan Prabowo-Sandi, tentu disambut gembira oleh pendukungnya. Pun juga hasil hitung cepat lembaga survey yang menampilkan unggulnya pasangan calon 01, begitu disambut bahagia oleh pendukungnya.

Kegembiraan dan kedamain disambut dengan positif  oleh semua kalangan di NTB, sebut saja para Tuan Guru,tokoh masyarakat dan pemuda, berbagai suku, agama dan etnis. Salah satunya adalah seorang tokoh kharismatik berpesan bahwa kemenangan Jokowi bagi TGH Turmudzi Baddrudin yang merupakan ulama panutan di Lombok, serta ia merupakan salah satu mustasyar PBNU, bagi beliau kemenanagan secara nasioanal 54.55 persen adalah capain maksimal yang dilakukan oleh semua unsur yang ada di Tim Nasioanal TKN Jokowi-Maruf dan begitu juga perolehan suara di NTB  yang mencapai 33 persen.  

Memang harus diakui juga, capain suara di NTB belum  begitu maksimal, tetapi suara di NTB juga cukup menjadi penambah.  Apa yang di persembahkan oleh masyarakat NTB dengan perolehan suara 33 persen, cukup tidak sebanding dengan apa yang telah persembahkan dan kepedulian Jokowi sebagai Presiden yang telah berkunjung sampai 13 kali, bukan itu saja berbagai program difokuskan di NTB, sebut saja  kepastian kawasan Kuta Mandalika sebagai pusat MotoGP berstandar Internasional, belum lagi anggaran yang dialokasikan untuk Kawasan Ekonomi Khusus mencapai Rp 5 Triliun lebih melalui BUMN ITDC.

Apa dengan kemenangan pasangan Prabowo-Sandi di NTB menjadi standar tingkat keterkenalan Prabowo atau kecintaan  masyarakat NTB yang mengidolakannya.  Bisa saja, ternyata  terbantahkan juga tesis berbagai kalangan yang menganggap bahwa masyarakat NTB sudah cerdas dan bisa melihat kenyataan yang ada. Apa yang sudah dilakukan oleh Jokowi selama 5 tahun buat Indonesia dan NTB cukup jelas, support nyata dalam membangun infrastuktur dan aspek lainnya di NTB. Namun apa yang terjadi kenyataan itu, bagi masyarakat NTB, hanyalah buih di lautan yang tidak bermakna apa-apa.  Begitulah antitesa yang bisa dialamatkan kepada masyarakat NTB yang memiliki suara, penghornatan dan pengharagaan terhadap seseorang yang telah berjasa dan berjuang memajukan NTB.

Begitu juga,  apa yang diperbuat oleh TGB tidak dianggap sebagai simbol, sebut saja TGB sebagai magnet dan tokoh penggerak pembangunan di NTB, selama 10 tahun telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat  NTB ke pentas Nasioanal dan Internasional dengan berbagai keberhasilan dan capain memajukan IPM dan Indeks Ekonomi NTB. Lalu Apa yang salah dengan hadirnya berbagai tokoh agama dan para Tuan Guru serta  partai politik yang menjadi faktor kunci dalam melakukan agregasi kepentingan bagi masyarakat.

Jika melacak peran  para tokoh agama, tokoh masyarakat dan para politisi serta Kepala Daerah di Kabupaten  Kota, ternyata dalam memberikan edukasi politik dan pemahaman kepada masyarakatnya yang tidak berimbang dengan penyebaran informasi bohong atau trendingnya Hoax yang memprovokasi mayarakat terkait berbagai isu, baik secara pribadi maupun kelembagaan terhadap calon Presiden dan khususnya pasangan Jokowi-Maruf . 

Mengembalikan karakter ke NTB-an kita,  tentu butuh waktu, akan tetapi dibutuhkan sikap optimisme dan ketauladan seorang pemimpin, seperti apa yang dilakukan oleh seorang TGB selama 10 tahun memimpin NTB. Dan bukti ketauladan TGB, dapat dilihat dari hasilnya pada Pemilu 2014,  jika kedepan kekuatan politik Islam yang mengatasnamakan agama di NTB semakain menguat, dengan berbagai isu khilafah, maka  bisa  dibayangkan betapa pondasi keragaman  yang sudah terbangun selama ini di NTB  bisa runtuh sekejap.

Tapi keyakinan itu,  tidak akan bisa terjadi bilamana rasa ke NTB-an kita dikembalikan pada titik awal. Dimana NTB dilahirkan dan dibesarkan oleh sejarah perjuangan  para ulama dan para Tuan Guru, dari masa penjajahan sampai di era kemerdekaan. 

Refleksi Ke NTB-an kita, bagi generasi penerus adalah untuk hari ini dan kedepan bagaimana mengembalikan peran strategis keulamaan dan para tokoh agama serta para cendikiawan  muda menjadi  pelopor dalam mentransformasikan serta filterisasi berbagai isu keagamaan.

Sebab jika para tokoh agama dan cindikiawan muda selalu absen dan tidak menjadi pelayan bagi umatnya, maka lambat launnya masyarakat NTB  dalam menerima berbagai informasi dan  isu akan berakibat pada hilangnya rasa memiliki NTB.  

Sebab pondasi ke NTB-an yang selama ini sudah tertanam dengan kuat, dengan toleransi suku agama dan ras adalah modal utama yang dimiliki NTB. Pondasi yang ditanamkan oleh para pendahulu, bukan tanpa dasar yang kuat, sebab NTB yang dihuni oleh dua pulau, Lombok dan Sumbawa serta tiga Suku besar,  Sasak, Mbojo dan Sumbawa mempunyai nilai-nilai dan spirit perjuangan mempertahankan ke NTB an, dari zaman penjajahan kolonial belanda sampai dengan Pasca kemerdekaan.

Mengembalikan Ke NTB an dengan semangat kebersamaan dan melupakan faksi dalam berpolitik pada pesta Demokrasi Pilpres kemarin adalah sebuah keharusan untuk menjaga NTB Kita Dan NTB untuk kesejahteraan. (*)

Penulis adalah Suaeb Qury, Pendiri Laboraturium Literasi Kader NU NTB dan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda  Ansor NTB 2010-2014

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Anugrah Dany Septono
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Mataram

Komentar

Loading...
Registration