Opini

Jumawa dan Legawa

Jumawa dan Legawa Sugeng Winarno, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. (FOTO: Istimewa)
Rabu, 17 April 2019 - 21:28

TIMESINDONESIA, OPINIKATA jumawa dan legawa memang mudah diucapkan, namun tak gampang dipraktekkan. Hampir dalam setiap kompetisi, kata jumawa dan legawa selalu muncul sebagai nasehat bagi yang sedang berkontestasi. Yang memang jangan jumawa dan yang kalah harus tetap legawa, begitu kata bijak yang sering muncul. Jumawa itu sifat angkuh atau congkak, sementara legawa diartikan sifat sabar, iklas, menerima tanpa emosi dan dendam.

Proses pencoblosan dalam rangkaian Pilpres dan Pileg 2019 telah usai. Sekitar jam 13 WIB rata-rata TPS sudah ditutup. Proses dilanjutkan dengan penghitungan suara di masing-masing TPS.

Beberapa lembaga survei juga melakukan penghitungan lewat cara hitung cepat (quick count) dan exit poll. Pada tepat pukul 15 wib, sekitar 17 lembaga survei memublikasikan hasil surveinya di stasiun televisi, website, dan portal media online.

Beberapa hasil survei yang disiarkan televisi menunjukkan pasangan nomor 01 unggul. Sementara ada lembaga survei yang lain yang memenangkan pasangan 02.

Capres nomor 02 menyatakan dalam konferensi pers dengan mengatakan pihaknya unggul di beberapa lembaga survei. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Jokowi menyampaikan keterangan kepada sejumlah wartawan tentang pelaksanaan pemilu yang berjalan lancar dan jurdil.

Kalah Legawa, Memang Tak Jumawa

Dalam setiap kontestasi, menjunjung cara bermain yang jujur (fairplay) menjadi sebuah keharusan. Pemilu yang berjalan tanpa kecurangan akan membuat semua pihak yang ikut berkontestasi dapat menerima hasil kontestasi dengan baik. Namun kalau pemilu berjalan out off the track, maka bisa menyulut ketidakpuasan masyarakat. Rasa ketidakpuasan karena ada kecurangan biasanya akan membuat yang kalah sulit bisa legawa.

Menerima sebuah kemenangan, apalagi kekalahan memang tak mudah. Yang menang akan tergoda untuk lupa diri hingga lepas kontrol tanpa mempertimbangkan perasaan pihak yang kalah.

Sang pemenang akan cenderung jumawa. Sementara menerima sebuah kekalahan juga bukan persoalan mudah. Menang atau kalah dalam setiap kontestasi memang merupakan hal yang wajar. Namun tak gampang menghadapi kenyataan sebuah kekalahan.

Untuk itu perlu kebesaran hati dan jiwa dari kedua belah pihak. Semua pihak harus mampu menahan diri. Euforia kemenangan yang berlebihan bisa membuat luka pihak yang kalah. Yang terpenting adalah bagaimana sang pemenang mampu merangkul yang kalah. Bagi pihak yang kalahpun dengan kebesaran hati bisa legowo. Inti dari pemilu adalah pesta rakyat. Siapapun yang menang esensinya adalah kemenangan seluruh rakyat.

Para politisi yang berada di pucuk pimpinan partai hendaknya selalu melihat kondisi masyarakat di level bawah. Perseteruan dan saling menang sendiri yang sering didemonstrasikan politisi di level elite partai bisa jadi bibit persoalan di level bawah.

Tak jarang masyarakat level bawah kehilangan figur politisi yang bisa ditauladani perilakunya. Kesadaran bahwa apa yang dilakukan sang politisi di level atas bisa berdampak pada masyarakat bawah harus selalu dikedepankan.

Untuk itu sikap legowo dan tak jumawa perlu ditunjukkan oleh para elite partai agar masyarakat bawah mengikutinya. Apa yang telah ditunjukkan oleh pasangan capres-cawapres nomor urut 01 dan 02 ketika menyikapi hasil hitung cepat patut diapresiasi.

Jokowi menyatakan agar masyarakat bersabar menunggu hasil perhitungan KPU. Sementara Prabowo juga menyatakan agar masyarakat pendukungnya tetap tenang dan tetap menjaga persatuan.

Merajut yang Terkoyak

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam kontestasi pilpres dan pileg ini telah terjadi perpecahan. Saat kampanye masing-masing pendukung tak jarang saling menyerang dan menjatuhkan.

Rasa persatuan bangsa telah terkoyak. Gesekan antar pendukung pasangan calon yang berkontestasi terjadi cukup tajam. Tak jarang persaudaraan dan pertemanan jadi renggang gara-gara beda pilihan parpol, caleg, capres, dan cawapres.

Apa yang sudah terkoyak gara-gara pemilu harus segera dirajut kembali. Ini tugas semua pihak, terutama para politisi. Bagi pemenang kontestasi pemilu hendaknya mampu menjadi sarana untuk menyatukan masyarakat yang sempat terbela saat pemilu.

Pemilu adalah pesta demokrasi dari, oleh, dan untuk rakyat. Maka idealnya pemilu tak boleh menciderai rakyat. Untuk itu bagi semua yang kemarin berseteru karena berseberangan pilihan politiknya, maka sekarang saatnya mereka bersatu kembali.

Kontestasi pemilu 2019 ini sudah cukup banyak menyita waktu. Untuk kampanye saja memakan waktu enam bulan. Selama masa kampanye tak jarang orang saling caci maki.

Munculnya fenomena perseteruan seru antara kampret dan cebong di media sosial adalah salah satu contoh terkoyaknya rasa persatuan gara-gara beda sosok yang didukung. Maka segera berdamailah para cebong dan kampret, perseteruan itu sudah saatnya diganti dengan persahabatan.

Semua proses pemilu yang panjang dan melelahkan akan segera berakhir. Semoga segala urusan politik ini segera tuntas dan para pemimpin yang telah mendapat amanah dari rakyat segera bekerja untuk rakyat.

Segala harapan yang dititipkan oleh rakyat hendaknya menjadi komitmen sang politisi untuk mewujudkannya. Jangan khianati rakyat dengan mengingkari janji-janji politik yang pernah disampaikan saat kampanye.

Menang kalah dalam sebuah kontestasi adalah sebuah keniscayaan. Siapapun yang ikut berkompetisi harus siap memang dan siap kalah. Yang menang jangan sombong dan yang kalah jangan marah.

Semua harus lapang dada menghadapi kenyataan. Menjunjung rasa persatuan dan kesatuan bangsa harus yang utama. Kalau dalam kontestasi pemilu ada yang terpecah, maka sekarang saatnya yang terkoyak itu dirajut kembali.

Presiden dan Wakil Presiden terpilih adalah Presiden Indonesia, bukan presiden segolongan partai atau simpatisan pendukungnya semata. Tak ada lagi masyarakat pendukung 01 atau 02. Kita adalah Indonesia. Mari semua bersatulah! (*)

 

 *Penulis, Sugeng Winarno, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Loading...
Registration