Kopi TIMES Opini

Belajar dari Kasus Audrey, Siapa yang Salah?

Belajar dari Kasus Audrey, Siapa yang Salah? Edi Junaidi ds. (Grafis: TIMES Indonesia)
Selasa, 16 April 2019 - 13:18

TIMESINDONESIA, JAKARTAPERUNDUNGAN atau biasa dikenal dengan istilah bully, kembali menjadi tema hangat setelah beberapa hari belakangan isu ini mencuat ke permukaan pubklik yang kemudian viral melalui beberapa media.

Entah itu permukaan media televisi, koran, lebih-labih permukaan media sosial (Medsos) yang sudah tampa mengunakan managemen perusahaan. Namun setiap personal adalah pengguna media sosial yang kita sebut sebagai netizen dan zitizen. Dalam satu minggu terakkhir mereka ramai-ramai membahas perundungan.

Sebut saja dia Audrey, dia adalah seorang siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat yang diduga di keroyok oleh 12 siswi SMA, di jalan Sulawesi dan taman Akcaya, Pontianak, Jumat 29 Maret 2019 yang lalu.

Dia saat ini sedang ramai-ramai diperbincangkan di seluruh indonesia. Mengundang haru, mengundag iba, tidak sedikit para tokoh mengecam kasus ini dan tidak sedikit pula para artis maupun figur baik domestic maupun internasinal memberi semangat kepada Audrey. Yang kemudian disusul dengan tagar #SaveforAudrey.

Mendengar kasus ini awalnya saya hanya terkejud dan awal mulanya ikut iba atas korban. Namun, tidak nerhenti di situ rasa penasaran untuk mempelajari lebih mendalam terkait kasus perundungan ini.

Kemudian selang dua hari kejadian perkara di Kalimantan Barat, penulis langsung dihubungi oleh senior yang kebetulan dia adalah pengamat senior dalam dunia pendidikan Indonesia, Indra Charismiadji.

Yang kebetulan juga ia sedang mengisi acara seminar pendidikan di Fame Hotel, Serpong, Tanggerang, Banten. Yang acara tersebut diikuti oleh seluruh kepala sekolah dari jenjang pendidikan SMP dan SMA di tanggerang selatan.

Disela kesibukan penulis sebagai Jurnalis, yang beraktivitas untuk liputan setiap harinya. Penulis lupakan rasa lelah kemudian langsung mengambil langkah cepat untuk dapat mempelajari lebih dalam terkait Audrey yang saat ini sedang ramai-ramai diperboncangkan oleh publik kepada ahlinya langsung.

Penulis bulatkan tidak naik motor yang kebetulan juga motor saya tidak cukup representatif untuk digunakan ke hotel, meluncur ke lokasi menggunakan kereta api dari stasiun Pondok Ranji ke Stasisun Serpong.

Setelah sampai serpong, dibela-belain naik Grab Car menuju lokasi yaitu Fame Hotel. Di sana harus ngantri untuk dapat bertemu dengan kanda indra, beliau rupanya sedang melayani wartawan Portadik untuk konfrensi pers, dan menunggu agar bisa berbicara secara empat mata dengan beliau hingga pada akhirnya saya betul-betul bisa berdiskusi bersama beliau.

“Permsis kanda, mohon maaf Edi terlambat, soalnya naik kereta turun di Serpong tadi,” tutur saya kepada pak Idra.

“Iya ngak papa kok mas Edi,” kata dia setelah selesai melakukan dorstop dengan para jurnalis yang hadir saat itu, yang kebetulan mereka sedang memburu sebanyak-banyaknya keterangan terkait kasus perundungan yang menimpa Audrey di Pontianak Kalimantan Barat.

“Kanda mohon izin, bagaimana menurut pandangan Kanda terkait Audrey yang ingin Edi pelajari kasusnya sesuai yang sudah dikomunikasikan melalui WhatAap kemaren?” Saya memulai perbincangan.

“Begini mas Ed, saya dari kasus ini tidak melihat ini hanya dari satu sisi perundunganya. Namun, juga dari keseluruhan perkara dan kejadian dari sektor pendidikan secara menyeluruh, saya menemukan ada kejanggalan bila kasus tersebut dibaca sebagai penganiyaan dan hanya memojokan salah satu dari mereka.”

Menurutnya, karena penganiyaan itu bisa dinamakan penganiyaan bila sang korban tidak melawan dan tidak menimbulkan kemarahan bagi pelaku.

“Terus bagaimana jika sudah ramai-ramai diperbincangkan seperti ini dan hujatan diberikan kepada pelaku dan kita juga ramai-ramai mengangkat hastag #SaveforAUDREY, itupun tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri ikut-ikutan memviralkan hastag itu,” tambah saya lebih kritis lagi degan tema ini.

“Mas Ed, viral bisa terjadi terhadap apa saja. Namun, dalam kasus ini saya tidak ikut-ikutan dalam membaca sesuatu. Saya menduga sebetulnya kejadian penggeroyokan itu si korban juga memberikan ujaran-ujran yang di luar batas kelayakan komunikasi kita sebagai publik sosial.”

Akan tetapi, ada kemungkinan si korban juga melakukan perlawan ataupun tindakan kesengajaan mempermalukan si pelaku sebelumnya. Sehingga si pelaku tidak terima dirinya dipermakukan oleh korban, kemudian si pelaku mengajak kekuatan komunitasnya sebagai kekuatan utama untuk menyerang korban yang kemudian kita bisa sebut ini sebagai Peopel Power.”

Selanjutnya jelas Indra, siapa yang mau kita salahkan dalam kasus ini. Saya tidak semerta-merta ikut menyalahkan si pelaku. Saya lebih pada ketelitian bahwa sii korban juga terlibat dalam penganiyaan tersebut kepada pelaku, bisa jadi mas si korban menganiyaya pelaku dengan mempermalukan mereka di media sossial sebelumnya karena menganiaya itu tidak hanya di dunia nyata loh.”

Mempermalukan di media sosial itu juga termasuk bagian penganiayaan di media sosial. Nah, ada kemungkinan tuh terjadi demikian karena kasus ini dimulai dari kasus -smara di media sosial dan adu komen-komenan, ejek-ejekan, ngompor-ngomporin kemudian bertengkar.

“Kemudian juga saya menduga si korban juga berpotensi melakukan sekenario untuk lebih mempermalukan si pelaku dengan memanfaatkan viralnya tuduhan pengeroyokan tersebut,” tegas pak indra mengulas ini panjang lebar.

“Terus bagaiman solusinya menghadapi fenomena demikian saat ini?” pertanyaan terakhir, sengaja saya mencari solusi dengan belajar dari kasus Audrey anak kalbar ini.

“Ya solusinya adalah, bagaiman pendidikan karakter itu kembali betul-betul diterapkan di sekolah dan tidak hanya menjadi sistem baku dari lembaga pendidikan. Karena itu bisa menjadi sendi dari etika yang baik, bisa menjadi dasar dari kesadaran pribadi siswa bahwa mereka sedang diididik untuk menjadi orang baik bukan dididik untuk jadi preman, selanjutnya berkenaan dengan korban.”

Belajar dari kasus Audrey di Kalbar. “Tips dari saya adalah perkuatlah anak dari rasa pecaya diri bahwa dirinya kuat, perkuatlah mental mereka bahwa tidak dapat dihindari bullying itu ada dimana- mana. Makanya mereka harus kuat mentaLnya, dan yang terakhir peran para pendidik untuk tidak hanya lagi berfungsi mengajar di kelas namun juga membimbing dan mengawasi para siswa kita, itu aja sih mas edi dari saya,” tutup pak Indra.

Kemudia setelah terjadi dialog berharga itu penulis tidak seperti anak-anak portadik yang lain. Melainkan penulis langsung meluncur ke Jakarta pusat yang kebetulan sekali ada diskusi di seknas Prabowo-Sandi di daerah Menteng Jakarta Pusat.

Disana hampir terlambat sampai di acara tersebut. Masih beruntung bisa ketemu beberapa narasumber untuk diwawancarai. (*)

*Penulis adalah Edi Junaidi ds, Jurnalis TIMES Indonesia

Jurnalis : Edy Junaedi Ds (MG-57)
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Loading...
Registration