Kopi TIMES

Menakar Kebutuhan

Menakar Kebutuhan Ahmad Dahri (Grafis: TIMES Indonesia)
Minggu, 14 April 2019 - 20:10

TIMESINDONESIA, MALANG – Abraham Maslow (1908-1970) dengan sangat teliti mengklasifikasikan kebutuhan manusia: primer, sekunder, dan tersier. Tiga  kebutuhan dasar manusia inilah yang erat kaitannya dengan pembahasan-pembahasan. Dengan demikian kondisi yang tercipta adalah setiap manusia berhak memenuhi kebutuhannya. Pandangan sosiologisnya adalah manusia membutuhkan manusia yang lain: ada wilayah ketergantungan yang sangat erat. Walaupun tidak semua, seperti kebahagiaan, otoritas kenyamanan personal, atau kebutuhan teologisnya. Sehingga bukan pada jumlah kebutuhannya, tetapi seberapa penting kebutuhan itu untuk dipenuhi. Karena poin utamanya adalah, apakah setiap hal yang menjadi satu keinginan, dipandang sebagai kebutuhan? Dan apakah harus selalu dipenuhi dan dikejar mati-matian?

Cerita tentang iblis yang menanyakan kepada setiap pemuka agama samawi, cukup memberi gambaran bahwa kebutuhan akan pengakuan adalah ritus yang suci dan selalu muncul di dalam personal manusia. Manusiawikah iblis ini? Tidak juga. Karena kebutuhan dasar manusia adalah melanjutkan kehidupan, maka ada wilayah yang manusiawi dan tidak manusiawi, artinya ada sisi di mana manusia lebih bergantung pada nafsunya ketimbang akalnya atau hatinya. Sedangkan iblis pada dasaranya sudah diakui sebagai makhluk yang memiliki sikap bersikukuh dengan pilihannya dan hal ini pastinya sudah ada komunikasi dengan Tuhan. Kekuasaan misalnya, siapa yang berhak berkuasa di muka bumi ini? Manusiakah? Ia hanya berkuasa atas dirinya sendiri, walaupun pada akhirnya ada kondisi di mana manusia menyerah dengan segala keinginannya. Pertanyaannya adalah seberapa penting sebenarnya manusia memenuhi kebutuhan yang bersifat gengsi atau lebih pada respon baik atau dihormati oleh manusia yang lain?

Jika lapar maka makan solusinya, atau jika kantuk melanda maka tidur, hal ini menjadi satu kondisi dalam kehidupan manusia yang dimaksudkan dengan kebutuhan. Dengan kata lain ada pemenuhan-pemenuhan. Namun begitu ada penyataan lugas tentang kebutuhan: bahwa tidak ada habisnya ketika hanya memenuhi kebutuhan yang didasari dengan keinginan.

“Lek nuruti karep ya ganok ente’e.”

Sedangkan ujaran ini muncul pada masyarakat dengan kondisi pola sikap dan pola pikir sederhana. Dengan demikian, bukankah kebutuhan adalah hal yang wajib untuk dipenuhi? Karena akibatnya adalah hanya akan memicu masalah baru jika apa yang dikatakan kebutuhan tidak sesegera mungkin untuk dipenuhi.

Bagaimana jika semua yang ada di sekitar manusia mengandung unsur kebutuhan? Maka seharusnya ada pembagian jangka waktu untuk memenuhinya.

Jika tidak ada pembagian jangka waktu maka tidak sedikit yang memilih 5000 sekarang dari pada 10.000 minggu depan.

Sehingga bukan lagi memandang kebutuhan jangka panjang atau jangka pendek, tetapi setiap apa yang dianggap kebutuhan harus dipenuhi “sekarang.”

Kebutuhan dan efesiensi waktu adalah dua hal yang menciptakan momentum. Karena pada dasarnya setiap kebutuhan memiliki ruang dan waktu masing-masing. Beragamanya kebutuhan setiap manusia pasti mempengaruhi pula pada ruang waktunya. Karena kebutuhan yang sama hanya terletak pada bagaimana melangsungkan kehidupan esok harinya.

Dengan demikian kebutuhan dan keingin adalah dua hal yang berbeda. Kebutuhan memiliki manfaat yang bagi personal dan siapapun di sekitarnya. Sedangkan keinginan cenderung bersifat individu. Sehingga menakar kebutuhan adalah salah satu langkah untuk menempatkan diri pada kondisi sebagai manusia. Bukan berarti yang cenderung mengedepankan keinginanannya adalah bukan manusia,

Tetapi apa yang menjadi kemanfaatan bersama adalah satu hal yang perlu dipertahankan.

2019

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Ahmad Dahri
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Loading...
Registration