Kopi TIMES

Geng Milenial dan Emak Milenial untuk Pilpres 2019

Geng Milenial dan Emak Milenial untuk Pilpres 2019 Kemala Hasanah. (Grafis: TIMES Indonesia)
Sabtu, 13 April 2019 - 14:20

TIMESINDONESIA, MALANGGENG Milenial sebutan kekinian untuk suatu komunitas atau generasi milenial digadang-gadang akan menjadi pemilih yang terbanyak pada Pilpres 2019. Menurut Sarah Nuarini Siregar, selaku  Koordinator Pusat Peneliti Politik LIPI, berdasarkan hasil survei lembaganya, ada sekitar 35-40 persen pemilih didominasi geng milenial.

Jumlah dari geng inipun hampir menyentuh 80 juta dari 192 juta pemilih tetap. Dan tak anyal geng ini sangat lekat dengan sebutan melek teknologi terutama pada media sosial.

Demikian juga dengan emak-emak milenial, yang sekarang sedang naik daun dengan sebutan “politik Emak-emak”. Entah dari mana asal muasal sebutan itu ditorehkan, mengingat kebanyakan dari emak-emak tersebut mengeluhkan harga sembako yang fluktuatif.

Patut diingat, bahwa kedua generasi tersebut merupakan target yang potensial bagi peserta pemilu. Jadi, awas akan adanya tunggangan politik atas pengklaiman generasi siapa akan memilih calon presiden siapa.

Emak-emak milenial menurut penulis lebih mengarah pada seorang ibu rumah tangga yang melek politik serta belajar dan mengajarkan pendidikan politik ke khalayak, tanpa ada 'identitas' yang mengukung.

Benar-benar seorang ibu rumah tangga yang memiliki jiwa nasionalis dan cinta terhadap tanah air. Namun, tak sedikit pula yang Emak-emak yang mengaku demikian. Namun secara terang-terangan mengakui memilih atau simpatisan atau relawan dari paslon presiden dan tetap menyebarkan hoaks.

Miris memang, namun susah-susah gampang untuk mengontrol atau tidak menyebarkan info bila tangan dan mata telah fokus menghadap layar kecil di genggaman.

Sebagai cara untuk menggaet kedua generasi tersebut, dari paslon dan timnya pastinya telah menyadari bahwa mereka mempunyai karakteristik masing-masing, dan kedua generasi tersebut bertemu dalam suatu wadah yaitu social media. Boleh dikatakan sebagai politik Instagram, politik Facebook dan politik shareinfowa.

Untuk geng milenial mungkin bisa merucut ke politik Instagram. Sedangkan Emak-emak politik shareinfowa.

Tidak dipungkiri bahwa banyak politisi yang sudah sadar terhadap pentingnya peran media sosial yang nantinya akan dapat mempengaruhi perolehan atau pendulangan suara pada pemilu nantinya. Instagram maupun Facebook itu sendiri memiliki fungsi atau fitur visualisasi yang kuat yang unggul dalam hal mempromosikam diri mereka (paslon).

Kebanyakan geng milenial dan Emak-emak hanya memiliki waktu yang terbatas untuk mencari informasi baik itu berupa tulisan, foto maupun video. Maka dari itu, dibutuhkan waktu yang cepat, apalagi didukung dengan mudahnya akses jaringan internet yang cepat. Dan bisa jadi karena untuk kampanye bertatap muka dan dangdutan menjadi hal yang membosankan dan konvensional.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa media sosial bisa lebih mendekatkan antara paslon (peserta politik) dengan para pemilih baik secara langsung maupun tidak langsung. Kendati demikian, baik tulisan, foto maupun video yang diunggah dapat diedit agar terciptanya kesempurnaan pencitraan, tetap saja menjadikan sosial media sebagai wadah bagi para paslon (peserta politik) untuk mendekatkan diri dan meraup suara.

Mengingat bahwa pada tahun 2014 angka golput mencapai angka 69,58 persen. Sedangkan pada tahun 2009 untuk Pilpres angka golput mencapai 71,17 persen. Dan diharapkan, dengan pendidikan politik melalui kekuatan meda sosial ini pada Pemilu Pilpres 2019 17 April ini, bisa meminimalisir suara tidak sah maupun golongan putih. (*)

*Penulis, Kemala Hasanah, Ibu rumah tangga yang menjadi Ketua TPS 17 di Kelurahan Kotalama Kota Malang, Jawa Timur

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Loading...
Registration