Kopi TIMES

Langit Biru Sang Juara

Langit Biru Sang Juara Yunan Syaifullah (FOTO: TIMES Indonesia)
Sabtu, 13 April 2019 - 03:09

TIMESINDONESIA, MALANGSepak bola diakui selalu dipenuhi dengan teka-teki. Namun, siapa sebenarnya yang dapat merebut hati publik bola?

ADA pemandangan menarik di kehidupan masyarakat, bila berkaitan sepak bola. Sebut saja Cak Tam, sehari-hari hanya seorang sopir angkutan. Hari itu, angkutan yang dijalankan selama ini belum juga terisi satupun penumpang yang naik dan menggunakan jasanya meski sudah ditunggu sekian lama. Raut wajahnya tidak nampak kesal. Garis mukanya masih terpancar optimis. Meski hanya menjadi pengemudi angkutan kota, ia masih memiliki semangat. Karena, profesi itu dijalani dengan penuh hati dan gembira.

Wajah pengemudi itu, Cak Tam merupakan sketsa umumnya masyarakat kota/kabupaten Malang pada umumnya. Wajah-wajah yang dipenuhi semangat optimis dan kegembiraan. Dibalik wajah itu memiliki kejenakaan yang tidak luntur oleh kondisi yang sedang dihadapi.

Kejenakaan itu, disadari telah menjadi warna para tifosi kesebelasan Arema. Terlebih dalam edisi Piala Presiden 2019. Para tifosi dibuat tidak tenang dan nyaman. Tidak seperti biasa. Perjuangan Arema memang belum tamat. Terlebih untuk menjadi juara. Ditengah kesulitan yang sedang dihadapi ternyata para fans masih memiliki semangat, optimis dan rasa gembira yang tidak pernah surut.

Sepak bola diakui selalu dipenuhi dengan teka-teki. Namun, siapa sebenarnya yang dapat merebut hati publik bola di Malang ini? Jawabannya tidak lain adalah kesebelasan Arema dan suporternya, Aremania.

Skuad Arema, sekarang ini dihuni oleh para pemain dari berbagai tempat asal geografis dan bangsa. Namun, hampir semua skuad Arema telah demikian menyatu dengan watak orang Malang. Seolah melebihi orang Malang itu sendiri. Keras dalam berprinsip dan berkeyakinan. Terbuka dan bersahaja. Penuh semangat dan pasti rasa gembira itu selalu terurai. Itu yang menjadi watak orang Malang. Dari dulu, pemain manapun jika berada di skuad Arema, watak dan karakternya sangat khas.

Sepak bola memang ada kalah dan menang. Ketika, mengalami kekalahan ataupun masa-masa sulit dan penuh tekanan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini menjelang kepastian juara tidak perlu dijadikan alasan untuk tidak bergembira.

Kegembiraan itu memang membawa pikiran dan perasaan santai. Faktor ini yang menjadi bukti: prestasi. Selain itu ada faktor yang tidak boleh disangkal adalah kerja keras dan disiplin. Itu telah diperlihatkan semua skuad Arema.

Wajah gembira para skuad Arema. Wajah jenaka para Aremania sesungguhnya merupakan energi yang kini ditakuti oleh semua team ketika menghadapi Arema, baik itu di kandang sendiri ataupun di kandang lawan.

Wajah dan watak itu membuat langit itu makin menjadi biru. Langitnya harapan. Birunya semangat. Birunya sebagai jiwa yang menyatu ke seluruh kehidupan masyarakat. Hati publik bola disatukan dengan birunya harapan: Juara.

Terlebih jelang Final Leg 2, tanpa ada yang mengomando, dipicu oleh kesadaran lokal, secara serempak Pemerintahan Daerah di Malang Raya memberikan himbauan khususnya di instansinya seluruh aparat pemerintahannya untuk menggunakan jersey Arema saat bekerja. Tiba-tiba, setiap perkantoran berubah ujudnya menjadi biru.

Namun, semua publik sadar bahwa Arema tidak mungkin bisa menjadi seperti sekarang ini jika Arema belum atau tidak mampu merebut hati publik bola di Malang. Ternyata itu tidak benar! Kini, semua skuad Arema harus merelakan kehilangan sebagian privasinya.

Kemanapun mereka melangkah dikejar-kejar para penggemarnya untuk sekadar meminta foto bersama, tanda tangan dan lainnya. Bahkan, para penggemar belia pun harus rela menunggu setiap harinya di depan mess Arema.

Publik bola tentunya tidak ingin langit yang membiru ini berubah menjadi kelam. Publik bola telah berusaha sekuat mungkin menjaga langit itu tetap berwarna biru dengan caranya masing-masing. Karena, birunya harapan telah menyatu padu untuk satu keinginan dan harapan.

Hasil akhir itu menjawab optimisme dan harapan kolektif masyarakat Malang bahwa Piala Presiden edisi tahun ini dapat dipersembahkan.

Final Leg 2 menjadi suguhan menarik dan mendebarkan meski laga ini batal dihadiri Presiden Joko Widodo. Kedua kesebelasan memainkan permainan terbuka untuk ingin membuktikan sebagai yang terbaik.

Derbi klasik memang diwarnai banyak kisah menarik. Menjadi rugi untuk tidak disimak.  Tidak hanya semata soal bola yang dimainkan di lapangan. Namun juga masalah di luar lapangan yang tidak berhubungan langsung dengan bola mampu memberikan andil tentang dinamika pertandingan.

Ribuan bahkan jutaan mata yang tertuju satu titik: Stadion Kanjuruhan Malang. 42 ribu pasang mata sebagai saksi sejarah untuk memastikan tendangan kaki sang Juara. Sepak bola mampu menghopnotis saluran kehidupan. Sepak bola mampu menyatukan perbedaan atas nama fanatisme. Itulah fragmentasi bola. Meminjam istilah Franklin Foer (2004), memahami kehidupan lewat sepak bola.

Final Presiden 2019 setidaknya sukses ekonomi mampu diraih. Pendapatan kotor hasil seluruh pertandingan mampu meraih angka 18 milyar rupiah. Bisnis turunan dari sepak bola terbangun. Pedagang asongan menggeliat. Belum lagi usaha parkir. Usaha Transportasi pun memperoleh imbasnya.

Arema FC masuk ke lapangan memanggul harapan kolektif masyarakat untuk menjadi sang juara.

Satu hal yang menonjol dipertontonkan Arema FC mampu memperlihatkan bermain dengan hati dan jiwanya sebagai pejuang sejati untuk kemenangan. Harapan kolektif bukan beban. Harapan kolektif adalah energi bagi setiap diri pemain.

Hasilnya, mereka memiliki pikiran lepas, tidak dibebani  oleh hal lain. Ujungnya, para pemain Arema relatif lebih mudah senyum mengembang.

Kondisi hal itu tidak ada dan tidak diperlihatkan dalam wajah-wajah pemain Persebaya. Kondisi tersebut tidak lepas dari masalah bahwa Persebaya masuk ke lapangan untuk membuktikan sejarah baru. Selain juara dan untuk membuktikan selama ini bila bertanding di Malang selalu hasilnya nihil.

Final Piala Presiden 2019 dalam Leg 2 akhirnya benar-benar ditutup senyum dan bahagia kolektif melalui tendangan Sang Juara dari diri Kayame. Selamat sebagai Juara secara terhormat.

Birunya langit itu akan menjadi sejarah baru yang kini sedang dinantikan.

Sarangan Atas, 13/04/19 pukul 00.24
_________

* Penulis Yunan Syaifullah adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Penulis Buku Filosofi Bola, Penikmat Bola

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Loading...
Registration