Peristiwa - Nasional

Tirto.id Tersandung Meme Pilpres, Sapto Anggoro: Lakukan Kesalahan, Kami Minta Maaf

Tirto.id Tersandung Meme Pilpres, Sapto Anggoro: Lakukan Kesalahan, Kami Minta Maaf Pemred Tirto Sapto Anggoro. (FOTO: Twitter)
Senin, 18 Maret 2019 - 13:03

TIMESINDONESIA, JAKARTAMeme pilpres yang dibuat media online Tirto menuai kritik dan kecaman dari netizen. Pemred Tirto Sapto Anggoro pun mengakui telah melakukan kesalahan dan meminta maaf ke publik. 

"Kami melakukan kesalahan fatal, secara gegabah memotong sebuah kalimat," ucpa Sapto dalam rilisnya. 

Diungkapkan, pada meme itu, Tirto melakukan penggalan kalimat “zina [bisa] dilegalisir” diucapkan KH Mar'uf Amin. Penggalan itu dimaksudkan Tirto sebagai salah satu contoh hoaks yang diarahkan kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf (selain azan dilarang dan Kementerian Agama dibubarkan). 

"Penggalan kalimat itu sebenarnya didahului oleh pernyataan (1) pentingnya memerangi hoaks karena membahayakan tatanan bangsa dan dilanjutkan dengan pernyataan, (2) bahwa Ma'ruf Amin bersumpah akan melawan semua usaha untuk merealisasikan hoaks-hoaks itu," paparnya.

Begini kalimat utuhnya. “Kami juga mengajak kita semua untuk melawan dan memerangi hoaks. Karena hoaks merusak tatanan bangsa indonesia. Melawan dan memerangi fitnah, seperti kalau Jokowi terpilih kementerian agama dibubarkan, kementerian agama dilarang, azan dilarang, zina dilegalisir. Saya bersumpah demi Allah, selama hidup saya akan saya lawan upaya-upaya untuk melakukan itu semua."

Namun karena pernyataan sebelum dan setelahnya dipotong, dan yang dikutip hanya soal zina bisa dilegalisir, maka konteks klarifikasi yang sedang dilakukan Maruf menjadi raib. Bukan hanya itu, penggalan kalimat “zina [bisa] dilegalisir” yang dihadirkan secara visual dalam bentuk meme, bahkan seolah-olah menjadi pernyataan Ma'ruf Amin.

"Begitu redaksi menyadari konten tersebut sudah naik di akun twitter @tirtoid, redaksi memutuskan untuk menghapusnya. Masih pada malam yang sama, tim multimedia segera membuat revisi meme dengan mencantumkan konteks pernyataan Maruf Amin menjadi “Kami juga mengajak kita semua melawan dan memerangi hoaks, fitnah [...] seperti zina dilegalisir," papar Sapto.

Selain mengganti kalimat di meme, revisi meme itu dibagikan di akun @tirtoid disertai permohonan maaf. Bunyinya; “Visual ini memperbaiki kekeliruan sebelumnya yang memotong konteks ucapan Maruf Amin yang hendak mengklarifikasi hoaks. Tirto meminta maaf atas kekeliruan tersebut.”

"Untuk keteledoran fatal memenggal pernyataan itu, kami meminta maaf terutama kepada pasangan Capres-Cawapres 01 Jokowi-Ma'ruf Amin, terutama kepada Kiai Ma'ruf Amin sebagai yang paling dirugikan. Termasuk juga kepada Tim Kampanye Nasional (TKN) dan para pendukung pasangan 01, dan juga kepada publik," ucap Sapto. 

Selain tersandung meme tentang KH Ma'ruf Amin, Tirto juga membuat meme lain yang juga mendapat kritikan tajam. Meme itu mengomentari pernyataan Sandiaga Uno.

Isinya, janji Sandiaga Uno: “Kami akan hapuskan UN”. Kalimat it divisualkan dalam bentuk meme sembari dikomentari dengan kalimat: “Eh…? Kirain apus NU”.

"Komentar itu bukan hanya tidak perlu, melainkan juga insensitif dengan peran NU dalam konteks sosial di Indonesia. Kami meminta maaf terutama kepada nahdliyin dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)," aku Sapto.

Tirto sendiri masih meyakini bahwa mengutip artikel: Nahdlatul Ulama Didirikan untuk Membendung Puritanisme Agama yang ditayangkan pada 31 Januari 2018.

Isinya; “Sampai hari ini NU tetap konsisten menyerukan persaudaraan nasional antara rakyat Indonesia dari agama yang berbeda-beda (ukhuwah wathaniyah) dan membawa kaum ulama memperjuangkan kedamaian. Itulah salah satu peran terbesar NU.”

Sapto juga menegaskan bahwa seluruh konten visual, baik itu infografik di dalam artikel maupun yang dibagikan di kanal media sosial, menjadi tanggungjawab redaksi. 

"Yang telah terjadi menjadi pelajaran berharga untuk semakin memperketat lagi mekanisme gate-keeping bukan hanya di dalam artikel-artikel yang tayang, melainkan juga di kanal media sosial. Selama ini, konten media sosial, misalnya di Instagram, selalu melewati persetujuan redaksi, namun kali ini mekanisme gate-keeping ini gagal bekerja secara optimal," ungkap Sapto.

"Sekali lagi, kami meminta maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan (atas meme pilpres ini), juga kepada para pembaca sekalian. Mekanisme internal sedang dilakukan untuk memperbaiki dan menindaklanjuti kesalahan fatal ini," tandas Sapto Anggoro, pemimpin Redaksi Tirto. (*)

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Loading...
Registration