Kamis, 19 September 2019
Pendidikan

Mahasiswa Sastra Jepang Unitomo Ajari Siswa SMA Upacara Minum Teh ‘Chanoyu’

Mahasiswa Sastra Jepang Unitomo Ajari Siswa SMA Upacara Minum Teh ‘Chanoyu’ Anisa Galuh Mayang Paramita, mahasiswa ekstra kurikuler atau Bukatsu Chanoyu Unitomo mempraktekkan tata cara menyajikan teh matcha dalam upacara Chanoyu, Minggu (17/3/2019). (FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Minggu, 17 Maret 2019 - 19:09

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Mahasiswa Fakultas Sastra Jepang Universitas Dr Soetomo atau Unitomo, mengajari para siswa SMA tentang tata cara upacara minum teh ala Jepang yang disebut Chanoyu

Dibutuhkan persiapan dan pelaksanaan yang cukup rumit untuk melangsungkan tradisi Chanoyu.

Alat untuk mendukung ritual minum teh ini  terdiri dari kama yaitu kompor dan teko, mizusashi atau tempat air bersih, kenshui atau tempat air kotor, natsumi atau tempat teh.

TIMES-Indonesia-Sastra-Jepang-Unitomo.jpg

Sedangkan setiap item dalam cawan didahului dengan kata ‘cha’, baru kemudian diikuti oleh kata benda. Seperti cha wan atau mangkok, cha saku atau sendok, dan cha sen atau pengaduk. Sedang lap kain kecil dinamakan cha kin dan kain besar disebut fukusha. 

Menikmati secawan teh matcha ala Chanoyu, umumnya didampingi kue atau manisan wagashi sebagai kudapan. Biasanya, pakaian khusus acara minum teh ini menggunakan yukata.

Proses penyajian ada tiga tahap, yaitu pembersihan, penyajian, dan penutup. Setelah selesai upacara minum teh, sesuatu yang kotor tidak boleh diperlihatkan kepada tamu. 

TIMES-Indonesia-Sastra-Jepang-Unitomo-2.jpg

Chanoyu mengusung filosofi ‘ichi go ichi e’ yang mempunyai makna jika pertemuan kali ini tidak bisa terulang kembali di pertemuan berikutnya. Artinya, situasi saat ini tidak akan sama dengan situasi berikutnya dengan tujuan agar menggunakan saat ini dengan baik.

“Tiap gerakan dalam Chanoyu memiliki filosofi. Apa yang kita ambil harus kita kembalikan lagi pada tempatnya. Sebagai tuan rumah, hindari memperlihatkan sesuatu yang kotor kepada tamu seperti dalam upacara minum teh ala Jepang atau Chanoyu,” jelas Hafiz Multazam, salah satu senior ekstra kurikuler Bukatsu Chanoyu di Unitomo, Minggu (17/3/2019)

Ritual Chanoyu telah dilakukan sejak jaman kekaisaran. Pada jaman dahulu, Chanoyu juga digunakan para samurai untuk menenangkan diri, menghilangkan rasa sedih dan dendam. Namun dalam perkembangannya, semua kasta dari seluruh kalangan melakukan upacara ini. 

Ruangan Chanoyu dinamakan chasitsu yang mampu menampung hingga 10 orang. Chasitsu ini berfungsi sebagai ruang untuk menjamu tamu. Biasanya ritual minum teh dilakukan pada waktu tertentu.

TIMES-Indonesia-Sastra-Jepang-Unitomo-3.jpg

Misal saat upacara pernikahan, serta acara khusus keluarga. Chanoyu dilakukan selama satu jam lebih. Karena selain dijamu, tamu juga diajak keliling sekitar rumah. 

Halaman luas orang Jepang memungkingkan mereka memiliki ruang Chanoyu. Jika dilihat pada jaman modern, sebagian orang Jepang masih memiliki tempat untuk Chanoyu namun jarang dimanfaatkan. 

“Karena sudah bergeser jaman,” terang mantan ketua Bukatsu tersebut.

Hafiz menambahkan, jika Fakultas Sastra Jepang Unitomo sendiri memiliki ekstra kurikuler atau Bukatsu yang khusus mempelajari Chanoyu. Selain Chanoyu ada origami, Karuta atau permainan kartu, Shodou atau kaligrafi Jepang, dan Tosokonan atau melihat film bersama, dan Ego dan Shock berupa permainan papan catur.

Pelatihan Chanoyu bagi siswa SMA ini merupakan bagian dari rangkaian Japan Fun Festival Bunkasai Unitomo bertema Harubiyori o Tanoshimou yang berarti mari merayakan musim semi. 

Lailatul Magfiroh (17), siswa dari Madrasah Aliyah Mambaul Ulum Mojosari Mojokerto, mengaku sangat tertarik dengan tradisi Jepang ini.

“Karena upacara minum teh ini ribet dan berbeda dari Indonesia, tapi unsur budaya Jepang memang menarik,” kata Laila yang hadir bersama kawan-kawannya di Festival Bunkasai Unitomo(*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Registration