Jum'at, 22 Maret 2019
Pendidikan

Hadirkan Trainer Muhsin Budiono, ITS Surabaya Bekali Wisudawan

Hadirkan Trainer Muhsin Budiono, ITS Surabaya Bekali Wisudawan Muhsin Budiono saat memberikan Trainer di ITS Surabaya.
Minggu, 17 Maret 2019 - 08:08

TIMESINDONESIA, SURABAYAITS Surabaya (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya) melepas kelulusan mahasiswanya dengan menggelar acara wisuda pada Sabtu, 16 Maret 2019. Sebelum wisuda ke-119 ini, ITS menghadirkan Muhsin Budiono, satu-satunya Trainer Followership tersertifikasi internasional yang dimiliki Indonesia.

Kuliah pembekalan ini dibuat untuk menempa calon lulusan di Kampus Pahlawan ini saat berada di tengah masyarakat. Mereka harus siap menghadapi dunia pasca kuliah. Kuliah Inspirasi Followership for Millennials and New Normal Situation diselenggarakan pada Kamis (14/3/2019). 

ITS-Muhsin-2.jpg

Muhsin mengungkapkan, ilmu followership (kepengikutan) merupakan ilmu manajemen yang masih jarang dipelajari maupun diminati orang. Ilmu ini mempelajari tentang bagaimana penumbuhkembangan potensi dari pengikut serta hhubungan dan pengaruhnya terhadap lingkungan (organisasi, leaders maupun antar followers). 

Ilmu yang diperkenalkan di Amerika sejak 1988 ini berkembang lambat dibandingkan leadership. Di Indonesia sendiri ilmu followership cenderung dianggap remeh dan tidak penting dipelajari sebab berbagai alasan. 

Muhsin sendiri mempelajari followership melalui keanggotaan resmi International Leadership Association (ILA) dan ILA Followership Learning Community di Amerika sejak 2014 silam. Pada tahun 2017 Muhsin mengambil sertifikasi "Followership Trainer and Practitioner" langsung dari pakar followership dunia, Ira Chaleff di Brussel-Belgia.

Di Eropa dan Amerika, pemberian ilmu followership ini sudah cukup masif diajarkan. Buku-buku dan pakar followership mulai banyak bermunculan. Beberapa pakar followership yang cukup ternama, seperti Robert Kelley, Ira Chaleff, Barbara Kellerman, Jean Lipman Beaumen serta Marc Hurwitz telah memperkenalkan dan mengajarkan ilmu ini selama kurang lebih 30 tahun terakhir. 

Penyebaran dan pengajaran followership di Indonesia sendiri telah diinisiasi oleh Muhsin sejak 2013 melalui konsep The Jongos Ways. Konsep ini dibuat melalui media buku, website, video animasi singkat maupun seminar/pelatihan di sekolah, kampus, institusi publik dan beberapa perusahan swasta, BUMD maupun BUMN seperti Pertamina, Pelindo, Pelni, KAI, PT Inti, JakPro, dll.

Pada kuliah inspirasi yang digelar di Grha ITS, Muhsin menyampaikan beberapa poin penting terkait ilmu ini. Khususnya bagi generasi millenials. 

Alumnus ITS yang memantapkan karirnya di PT Pertamina (Persero) ini mengemukakan bahwa followership mengedepankan prinsip partnership berupa leaders-followers yang sejatinya tidak dapat dipisahkan dari leadership.

Menurut pria yang juga mengantongi sertifikasi trainer standar KAN dan SNI ISO 17024:2012 ini, materi yang diajarkan pada followership dapat dibilang sangat berkaitan dengan kepemimpinan. Karena dalam kepemimpinan tentu akan melibatkan pemimpin dan yang dipimpin. 

“Ketika yang dipimpin ini belum memahami bagaimana menjadi seorang followers yang paripurna, maka kepemimpinan juga akan sulit mencapai hasil maksimal," ujarnya.

Pelatihan upskilling karyawan/pekerja selama ini lebih difokuskan kepada mereka yang sejak awal sudah diproyeksi menjadi leader. Pendekatan yang diberikan umumnya menggunakan ilmu kepemimpinan (pelatihan leadership). 

"Nah, pendekatan one size fit all seperti ini cenderung mengabaikan peran followers. Padahal secara populasi jumlah followers jauh lebih banyak bila dibanding jumlah leaders. Akibatnya followers merasa tidak diperhatikan dan memilih stagnan atau mengembangkan potensi dirinya sendiri diluar proyeksi organisasi/perusahaan,” papar pria 34 tahun ini.

ITS-Muhsin-3.jpg

Muhsin mencontohkan, ketika seorang pengikut tidak memiliki kemampuan komunikasi dan negosiasi yang baik kepada pemimpinnya, di saat itulah ilmu followership ini diperlukan. Karena pada hakikatnya, seorang pengikut diharapkan mampu melayani tujuan bersama (common purpose) sehingga timbul shared values yang akan membuat organisasi/perusahaan lebih efektif dan produktif. Bukan sekadar menjadi bawahan yang pasif atau yes man person kepada atasannya.

Menurut Muhsin, followership masih jarang dipahami masyarakat Indonesia lantaran banyak hal. Di antaranya dianggap kurang penting dipelajari serta masyarakat beranggapan bahwa followership bersifat taken for granted sehingga akan sia-sia bila harus belajar untuk menjadi pengikut (bawahan). 

Milenial yang telah menulis lima judul buku ini menjelaskan bahwa anggapan seperti itu merupakan kekeliruan.

Followership saat ini sama seperti ilmu parenting sekitar 15 tahun yang lalu. Dulu orang menganggap ilmu parenting itu tidak perlu dipelajari. Sebab untuk menjadi orang tua tidak perlu sertifikat dan tidak perlu belajar. 

"Sekarang kondisinya berbeda, ilmu parenting sudah dianggap penting dan menjadi hal yang dicari untuk dipelajari setiap calon orang tua,” tutur Muhsin pada ratusan wisudawan yang hadir.

Selain itu, menurutnya jarang ada yang mau mendalami followership. "Selama ratusan tahun kita sudah terlanjur memuja dan memfokuskan diri pada leadership management dan menganggap followership sebagai ilmu kelas dua atau ilmu “rendahan” yang hanya cocok dipelajari oleh pekerja level bawah. Padahal, followership perlu dipelajari oleh siapapun termasuk para pimpinan/leaders agar organisasi dapat memaksimalkan potensi SDM miliknya," jelas pemuda yang pernah menjadi Trainer Followership untuk pengembangan SSDM POLRI (Kepolisian Republik Indonesia) ini.

Pada pembekalan wisudawan ke-119 ini dilaksanakan pula sosialisasi tentang Program Konversi Kartu Tanda Mahasiswa ITS menjadi Kartu Tanda Anggota IKA ITS (KTA IKA ITS). Disosialisasikan pula tentang organisasi IKA ITS terkait struktur, kelembagaan, tujuan dan aktivitasnya. 

Manfaat bagi wisudawan ITS Surabaya mengikuti program konversi yakni dibebaskan iuran keanggotaan selama 2 tahun, kemudahan mendaftar KTA IKA ITS dengan hanya mengklik tombol konversi dinotifikasi yang dikirim ke setiap email wisudawan, serta wisudawan tidak perlu input data dari awal. 

Tak hanya itu, tentu saja penyelesaian KTA IKA ITS Surabaya yang lebih cepat. Selain dihadiri Muhsin Budiono, beberapa pimpinan ITS juga hadir dalam pembekalan ini. (*)

Jurnalis : Kiagus Firdaus
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Loading...
Registration