Senin, 25 Maret 2019
Peristiwa - Daerah

Sirkular Ekonomi, Cara KLHK RI Wujudkan Indonesia Bersih Sampah 2025

Sirkular Ekonomi, Cara KLHK RI Wujudkan Indonesia Bersih Sampah 2025 Salah satu pemateri dari KLHK menyampaikan materi dalam Sosialisasi Pengembangan Bank Sampah dalam Menunjang Sirkular Ekonomi Masyarakat, di Gedung KPRI Budi Luhur, Kabupaten Lamongan, Jum'at (15/3/2019). (FOTO: MFA Rohmatillah/TIMES Indonesia)
Jum'at, 15 Maret 2019 - 21:54

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Gaung dari konsep Sirkular Ekonomi masih belum terlalu nyaring terdengar. Konsep inipun mulai dicuatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK RI) untuk menanggulangi persoalan sampah dan mewujudkan Indonesia bersih sampah 2025.

“Jadi ada perputaran ekonomi di situ (dari sampah). Itu yang namanya sirkular ekonomi,” tutur Teddy S Mahendra, Kasubdit Penilaian Kinerja Pengelolaan Sampah, Direktorat Pengelolaan Sampah, KLHK, dalam sosialisasi Pengembangan Bank Sampah dalam Menunjang Sirkular Ekonomi Masyarakat, di Gedung KPRI Budi Luhur, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Jum'at (15/3/2019).

Lebib lanjut, Teddy membeberkan, selama ini sampah menjadi persoalan yang terus menerus meningkat, karena produksi sampah setiap hari semakin meninggi, sehingga konsep sirkular ekonomi menjadi salah satu jalan yang dipilih untuk mengurangi sampah sebesar 30 persen, dengan harapan Indonesia Bersih Sampah 2025. 

"Nah di dalam pengurangan sampah itu banyak yang harus dilakukan, di antaranya bagaimana masyarakat menjadi peduli lingkungan, karena ini persoalan orang per orang," kata Teddy. 

Atas dasar itulah, konsep sirkular ekonomi sampah sebagai kampanye untuk menjadikan sampah bernilai jual kembali, dalam penerapannya diyakini akan membuat cara berbisnis lebih ramah lingkungan.

Untuk mewujudkan itu, kata Tedy, pihaknya mengajak masyarakat untuk membuang paradigma lama untuk penanganan sampah yang sebelumnya kumpul, angkut kemudian buang, menjadi kumpul, kelola sedekat-dekatnya dengan sumber, sisanya baru buang.

"Artinya di tengah ini harus ada yang dilakukan, inilah yang namanya pengurangan. Salah satunya adalah bank sampah, kaitannya dengan sirkular ekonomi, sampah itu harus jadi berkah, bukan jadi musibah," tuturnya.

Menurut Tedy, pembentukan ekonomi kreatif dari sampah bukanlah hal yang mustahil, hanya saja memang harus disiapkan secara matang, terutama menyediakan pasar untuk produk dari sampah tersebut.

"Begitu juga dengan bank sampah, jangan sampai masyarakat kepeduliannya sudah tinggi, mengumpulkan sampah disimpan di bank sampah, jangan sampai mandek, lapak besarnya harus ada juga. Jadi ada perputaran ekonomi di situ. Itu yang namanya sirkular ekonomi," ujar Tedy.

Sementara Anggota Komisi VII DPR RI, Nasyirul Falah Amru, menilai Kabupaten Lamongan menjadi satu di antara daerah yang sukses dalam menangani sampah, itu dibuktikan dengan penghargaan Adipura yang diraih.

Namun dikatakan Falah, Kabupaten Lamongan akan semakin memiliki nilai tambah jika dapat menjadikan sampah untuk peningkatkan perekonomian masyarakat.

"Sampah bisa kita kelola dan kita daur ulang menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah dan nilai ekonomis, bisa menjadi pupuk, kalau dari sampah plastik bisa dijadikan biji plastik," kata Falah.

Hanya saja, untuk mewujudkan hal tersebut, dikatakan Falah, Kabupaten Lamongan tidak bisa berjalan sendiri, sebab membutuhkan biaya yang sangat besar.

"Saya pikir ke depan Pemerintah Kabupaten Lamongan bisa menggandeng perusahaan atau investor yang mumpuni dalam bidang itu," ucap Falah, usai mensosialisasikan Sirkular Ekonomi bersama KLHK RI, untuk mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2025. (*)

Jurnalis : MFA Rohmatillah
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Lamongan

Komentar

Loading...
Registration