Peristiwa - Daerah

Tekan Rabies di Bali, Kementan Gencarkan Vaksinasi Rabies Massal

Tekan Rabies di Bali, Kementan Gencarkan Vaksinasi Rabies Massal Dijen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian ; I Ketut Diarmita, sedang memberikan keterangan mengenai rebies (FOTO: Rusman For TIMES Indonesia)
Jum'at, 15 Maret 2019 - 11:37

TIMESINDONESIA, BALI – Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) terus memantapkan komitmennya memberantas penyebaran virus rabies salah satunya dengan menggecarkan secara masif vaksinasi rabies massal agar tidak terjadi lagi kasus rabies baik pada manusia maupun hewan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita mengatakan bahwa Kementan telah mengalokasikan dana untuk Rabies di Bali sebesar 18 M dan menyediakan sekitar setengah juta lebih dosis khusus digunakan di Pulau Bali dalam pengedalian dan pemberantasan penyakit rabies.

"Bersama kita pastikan pelaksanaan vaksinasi rabies massal berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya," tegas I Ketut saat Pencanangan Vaksinasi Rabies Massal di Provinsi Bali (15/03/2019).

I Ketut menambahkan jika kegiatan vaksinasi rutin saja tidak cukup, kita perlu gebrakan yang menyadarkan seluruh elemen masyarakat khususnya di Bali untuk berantas penyakit rabies.

I Ketut melanjutkan, Pemerintah telah menjalankan program pengendalian dan pemberantasan rabies di Indonesia, antara lain melalui vaksinasi di wilayah tertular atau wilayah bebas yang terancam, surveilans, pengawasan lalu lintas hewan penular rabies (HPR), manajemen populasi HPR, serta bekerjasama dengan pihak kesehatan dalam rangka penanganan kasus gigitan yang terjadi.

Pemerintah menilai dampak penyebaran virus rabies di Bali sangat berpengaruh pada aspek ekonomi masyarakat, yang langsung dapat mencoreng citra positif pariwisata Pulau Bali sebagai destinasi dunia, selain itu juga menyebabkan efek buruk bagi psikologis masyarakat.

"Masyarakat akan menjadi tidak nyaman dengan adanya isu rabies sehingga ada rasa ketakutan apabila tergigit oleh anjing yang terinfeksi penyakit itu," ujar Ketut. 

Berdasarkan data ISIKHNAS, kegiatan vaksinasi yang dilakukan pada periode Maret -Oktober 2018 di Bali telah mencapai 83.32 % atau realisasi sebanyak 495.747 dosis. 

Oleh karena itu, komitmen dari petugas yang melaksanakan kegiatan vaksinasi perlu mendapat apresiasi, selain itu Kementan juga menghimbau kesadaran masyarakat agar hewan peliharaannya yang termasuk kategori HPR untuk divaksinasi rabies, hal ini menjadi bentuk kontribusi aktif dalam mewujudkan Bali Bebas Rabies. 

Dalam upaya mempercepat pelaksanaan vaksinasi massal, pada minggu ini telah dilakukan pelatihan vaksinator sebanyak 660 orang.

"Harapan kami dengan tim yang diturunkan untuk program vaksinasi yang lebih giat, intensif dan terkoordinir akan segera menekan terjadinya kasus penyakit rabies," ujar I Ketut. 

Semenatara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, I Wayan Mardiana menyampaikan untuk pelaksanaan kegiatan vaksinasi massal rabies dari sisi logistik dan Tim sudah siap dan segera melakukan vaksinasi di seluruh pulau Bali. 

Pelaksanaan vaksinasi diprioritaskan menyasar pada daerah zona merah yang merupakan desa tertular rabies lalu menginjak ke desa zona kuning atau desa yang aksesnya berdekatan dengan desa yang masuk zona merah.

Kemudian untuk memastikan tidak ada HPR yang tertinggal akan terus dilakukan penyisiran vaksinasi pada HPR. 

"Diharapkan warga yang punya hewan peliharaan yang masuk HPR (Hewan Penular Rabies), anjing, kucing dan kera, juga secara aktif untuk membawa hewan mereka ke posko yang telah disediakan," ujar dia.

Sementara itu, Chief Technical Adviser dari FAO Indonesia, Luuk Schoonan kembali menegaskan komitmennya untuk secara aktif berkontribusi dan memberikan dukungan teknis dalam program pemberantasan rabies di Indonesia, khususnya Bali. 

"FAO bersama pemerintah Indonesia dan Bali telah bekerjasama sejak tahun 2011 dalam program pemberantasan rabies di Bali ini. Banyak hal positif yang sudah dicapai di Bali, seperti tata laksana kasus gigitan terpadu (Takgit) yang saat ini menjadi salah satu komponen program pemberantasan rabies di Dunia. Banyak negara yg sudah mengimplementasikan Takgit yang awalnya dikembangkan di Bali," Jelas Luuk. 

Meski demikian, kata dia, masih perlu dilakukan perbaikan dalam program pemberantasan ini, seperti memastikan semua HPR, khususnya anjing yang dibiarkan berkeliaran di Bali dapat divaksinasi dengan tepat.

Pada kesempatan itu, I Ketut menyaksikan penandatanganan Pakta Integritas terkait pelaksanakan program pemberantasan rabies di Bali.

Mengakhiri kegiatan, I Ketut Diarmita menegaskan "Saya minta komitmen seluruh jajaran pemda di Bali, khususnya yang menangani kesehatan hewan untuk bersungguh-sungguh dan bekerja keras memastikan program vaksinasi massal rabies tahun ini berhasil. Saya juga meminta kepada seluruh petugas vaksinasi yang akan bertugas untuk memastikan seluruh desa di wilayah Bali didatangi, dan seluruh anjing divaksin. Anjing sehat, keluarga selamat," katanya. (*)

Jurnalis : Alfi Dimyati
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Bali

Komentar

Loading...
Registration