Kopi TIMES

Hakekat Ilmu Laduni

Hakekat Ilmu Laduni Zulfan Syahansyah (Grafis: TIMES Indonesia)
Jum'at, 15 Maret 2019 - 07:17

TIMESINDONESIA, MALANG –  

 

Rasulullah SAW bersabda:

{من عمل بما علم ورثه الله علم ما لم يعلم}

"Barang siapa yang melakukan amalan dengan ilmu, niscaya Allah akan menganugrahkannya  ilmu yang belum diketahuinya" 

Ilmu tersebut merupakan pengetahuan yang berlandaskan amalan. Itu sejenis ilmu kasabi (diperoleh dari usaha).

Adapun ilmu syari'at, maka semuanya adalah ilmu wahabi (diperoleh karena anugrah Allah). Ilmu semacam ini didapat bukan karena sebab usaha.

Allah SWT berfirman:

{علم الإنسان ما لم يعلم}

"Dia mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya"

Ada dua cara mendapatkan ilmu. Keduanya terkumpul dalam firman-Nya:

{والله أخرجكم من بطون أمهاتهم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة لعلكم تشكرون}

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur" (QS. An-Nahl: 78)

Cara mendapatkan ilmu yang pertama melalui perantara pendengaran dan pengelihatan. Ini adalah ilmu yang didapat dengan berusaha (ilmu kasabi)

Jenis kedua adalah ilmu yang murni sebagai anugrah dari Allah (ilmu wahabi) melalui hati (fuadz).

Selain dua jenis ilmu tersebut, ada juga jenis ilmu ilmu kasabi-wahabi (berusaha dan anugrah) sekaligus. Dalam hal ini, Allah berfirman:

{واتقوا الله ويعلمكم الله}

"Bertaqwa lah kepada Allah, niscaya Dia akan memberimu ilmu" (QS. Al-Baqarah: 282).

Bertaqwa adalah bentuk usaha (kasabi), sekaligus cara pengajaran Allah kepada hamba untuk mendapatkan Ilmu Ladunni.

Ilmu Ladunni adalah pengetahuan yang  sangat penting, sekaligus menjadi ilmu dasar alami bagi penciptaan makhluk. Segala jenis binatang, burung, dan bayi manusia, semuanya mendapatkan ilmu jenis ini. Setidaknya untuk mengetahui segala apa yang bermanfaat dan membahayakan mereka.

Allah berfirman:

{وأوحى ربك إلى النحل}

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah" (QS. An-Nahl: 68)

Allah SWT memberikan ilmu dari sisi-Nya (min larunhu) kepada bayi yang baru dilahirkan. Ilmu jenis ini diberikan kepada si bayi tanpa harus mencarinya, atau menggunakan akalnya. Si bayi terus mendapatkan ilmu Ladunni (min ladunhu) sampai masa berfungsinya akal dan alam khayalnya. Semakin berfungsi akal seorang anak, maka semakin berkurang "jatah" ilmu Ladunni dari Allah untuknya. Dalam perkembangan selanjutnya, ruh seseorang membutuhkan asupan, baik dari pikiran dan akalnya, atau dari alam bawah sadar (khayal)nya.

Dari sini bisa disebut ada tiga daya:  daya ilmu, daya amal, dan daya fikir.

Semua makhluk, seperti tawon, laba-laba, burung, semua binatang, dan juga manusia, di awal-awal  pertumbuhannya mendapat anugrah ilahi untuk mengetahui dan beraktifitas. 

Daya ilmu dan amal dari Allah (min ladunhu), atau Ladunni terus berlanjut sepanjang kehiduapan seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia (tsaqalain). 

Tatkala jin dan manusia sudah memiliki daya fikir atau akal, ruh-ruh mereka mendapat asupan dari pikiran atau akal mereka sendiri. Daya fikir jin dan manusia posisinya serupa dengan hakekat ketuhanan bagi makhluk lainnya. Termasuk juga malaikat. Mereka (para malaikat) memiliki daya ilmu dan amal. Hanya saja, peningkatan malaikat berdasarkan ilmu, bukan amalan.
-------------------------------

Dinukil dari kitab Al-Kunuz Al-Asroh, dengan judul "Al-Ulama", karya Imam Salaheldin At-Tijani 

* Penulis adalah Zulfan Syahansyah Dosen Aswaja Pascasarjana UNIRA Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Loading...
Registration