Senin, 25 Maret 2019
Pendidikan

5th International Student Conference On Humanity Digelar di Kampus UMY

5th International Student Conference On Humanity Digelar di Kampus UMY Dosen UMY Prof Dr Bambang Cipto (kiri) dan Prof Dr Magdy Behman (tengah) pada diskusi 5thInternational Student Conference On Humanity di Kampus UMY, Kamis (14/3/2019). (FOTO: UMY/TIMES Indonesia)
Kamis, 14 Maret 2019 - 19:22

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA5thInternational Student Conference On Humanity digelar di kampus UMY, Kamis (14/3/2019). Forum ini membahas masalah umat manusia semakin kompleks, mulai masalah politik, ekonomi, dan iklim yang sering berubah-ubah secara ekstrim.

“Perubahan iklim ekstrim tentu sangat berpengaruh bagi kaum miskin. Karena mereka tidak memiliki biaya untuk mengantisipasi terjadinya perubahan alam secara tiba-tiba,” kata Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Dr Bambang Cipto.

Selian itu, pemanasan global permukaan laut naik. Sehingga, beberapa daerah di dunia menjadi tenggelam dan mengakibatkan perpindahan penduduk ke wilayah lainnya.

“Tentu akan membuat kesenjangan ekonomi semakin besar. Hal ini lah menjadi masalah di bidang politik, yaitu kelompok atau orang yang memiliki banyak uang dapat mengontrol kaum miskin untuk mengikuti arah politik orang-orang kaya,” tandas Bambang.

Prof Dr Magdy Behman mengatakan, untuk mengatasi masalah yang ada di tengah masyarakat perlu menggunakan pendekatan agama dan budaya. Perbedaan agama dan budaya bukan menjadi masalah untuk mengelompokkan orang lain. Sebab, nilai-nilai yang terkandung di setiap agama seharusnya bisa saling memahami dan menerima perbedaan.

“Budaya itu tidak hitam dan putih, tapi memiliki banyak hal positif yang terkandung dan bisa membuat manusia saling memahami satu sama lain. Melalui pemahaman akan perbedaan, hal ini bisa memiliki kontribusi untuk bisa menyelesaikan permasalahan kemanusiaan,” terang Magdy.

Konsulat Republik Indonesia untuk Kota Kinibalu Andhika Bambang Supeno mengatakan, kerjasama antara pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Thailand sangat dibutuhkan bagi para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sebab, kerjasama itu untuk mendapatkan perlindungan hukum dari berbagai tindakan kejahatan seperti penipuan tenaga kerja illegal, penculikan, dan kekerasan.

“TKI sering kali menjadi korban dari kejahatan kemanusiaan. Untuk menyelesaikan masalah ini pemerintah Indonesia harus bisa melakukan diplomatik agar bisa memberikan advokasi bagi TKI,” kata Andhika di acara diskusi 5thInternational Student Conference On Humanity yang digelar di kampus UMY itu. (*)

Jurnalis : Ahmad Tulung (MG-65)
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Loading...
Registration