Opini

Medioker Menuju Unggul

Medioker Menuju Unggul Prof Dr Rochmat Wahab
Kamis, 14 Maret 2019 - 08:32

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Akhir-akhir ini banyak orang mengedepankan kelompok menengah, moderat, atau mutawasith. Kelompok yang dianggap aman dalam dunia politik. Tidak mau ekstrim kanan, atau tidak mau ekstrim kiri.

Beda dengan dunia akademik atau profesional, medioker diidentikkan dengan kelompok rata-rata, average, atau median. Medioker menunjukkan prestasi yang masih jauh dari membanggakan, karena dianggap jauh dari excellent.

Ada sejumlah alasan yang menjadikan medioker terjadi. Yaitu, (1) Sebagian besar orang tidak ingin gagal, (2) Mayoritas medioker tidak menghargai belajar, dan (3) Pemenang bertindak seperti pemenang, sebelum mereka benar-benar sebagai pemenang. Kemudian, (4) Banyak orang mencari uang dan gelar, bukan pengalaman dan transformasi, dan (5) Lebih banyak orang menghabiskan waktu untuk cemburu, bukan bekerja untuk raih kesuksesan.

Atas dasar inilah maka medioker muncul, terutama di tengah-tengah kehidupan orang yang tidak berani ambil resiko.

Medioker adalah posisi aman. Bersifat statik. Walaupun demikian, mental medioker tidak boleh dibiarkan. Medioker membuat individu tidak ada keberanian untuk berargumentasi dan maju.

Indonesia memang memiliki visi menjadi bangsa yang unggul dan kompetitif. Visi seharusnya diupayakan terus untuk dicapai. Namun pada kenyataannya kebijakan pemerintah belum berpihak kepada pengembangan SDM. Akibatnya tahun 2018 posisi Global Competitiveness Index (GCI) turun secara signifikan dari ranking #36 menjadi #45.

Sungguh patut dikhawatirkam bahwa GCI untuk Indonesia tahun 2019 akan turun lagi, karena pada 2019 aktivitas pemerintah lebih banyak energinya untuk tuntaskan infrastruktur dan hajat politik.

Setelah memperhatikan fenomena medioker, kita harus kencangkan ikat pinggang untuk fastabiqul khairat memperbaiki prestasi siswa. Berpacu untuk maju. Ada sejumlah langkah strategis untuk menjadikan siswa bisa keluar dari medioker, yaitu (1) melibatkan orangtua, (2) menanamkan kebiasaan membuat catatan, (3) mendorong penggunaan strategi belajar yang efektif, dan (4) menginvestasikan waktu dan ilmu untuk kemajuan siswa.

Selanjutnya, (5)mengelompokkan siswa-siswa lebih lemah dengan anak-anak Unggul, (6) menegakkan disiplin, (7) memberikan penugasan projek, (8) memberikan hadiah kepada siswa yang berprestasi, (9) membuat kegiatan di luar kelas, dan (10) memberikan umpan balik yang supportif. (Sharma, 2016).

Semakin banyak strategi ini diimplementasikan, semakin cepat para siswa bisa keluar dari kelompok medioker. Tidak boleh status medioker dipertahankan, kendatipun aman. Karena cepat atau lambat akan kelindas dengan kompetisi.

Demokrasi dan transparansi yang ditegakkan akan meminggirkan praktek KKN, terutama nepotisme. Di sinilah momentum terbaik untuk kawal penghapusan kemiskinan struktural. Asal memiliki keunggulan insya Allah apapun akan tembus memenangkan kompetisi.

Akhirnya, para siswa dan orang dewasa lainnya harus didorong dengan kuat untuk bisa keluar dari medioker. Sesuatu yang bisa menipu. Memang aman, tetapi tidak prospektif. Kalau ingin memenangkan masa depan, kita harus tunjukkan spirit dan kinerja beyond medioker.

Virus motivasi berprestasi (need of achievement). Kita harus istiqamah berikhtiar optimal untuk tunjukkan kualitas. Tiada hari tanpa kualitas, walau nol koma sekian strip. Getting better and better. Karena kulitas akan kalahkan segalanya. Ingat Firman Allah SWT:

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. 2: 249)

Semoga kita bisa perlahan-lahan bisa keluar dari jebakan dan lingkaran medioker. Aamiin. (*)

 

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Loading...
Registration