Kopi TIMES

Menyelamatkan Pelajar dari Godaan Global

Menyelamatkan Pelajar dari Godaan Global Achmad Nur, Ketua Lakpesdam NU Situbondo. (FOTO: Istimewa)
Rabu, 13 Februari 2019 - 01:47

TIMESINDONESIA, SITUBONDO – Dewasa ini, dunia dalam pandangan George Ritzer, berisi masa kehampaan, segala jarak bisa dilipat menjadi satu tempat, begitu kata Yasraf Amir Pilliang, dan sifat mendasar manusia diciutkan menjadi satu dimensi  atau one dimensional man. Dalam istilah Herbert Marcus yaitu beralihnya dimensi organik manusia menjadi dimensi mekanik. 

Beberapa istilah di atas bukanlah asumsi yang tanpa dasar melainkan, asumsi yang berangkat dari realitas kehidupan manusia di dunia global atau modern.

Realitas masyarakat global diatas, membuktikan bahwa “globalization as a consept referest both to the compression of the world and the intensification of the world as a whole”.

Menurutnya globalisasi sebagai sebuah jembatan untuk menghilangkan dinding pemisah, antara global dan lokal. Segala pengetahuan barat berhak masuk di seluruh dunia termasuk di Indonesia. 

Globalisasi bisa berbentuk budaya, ekonomi, dan pendidikan disadari atau tidak, dunia telah dikelilingi oleh ranjau -ranjau budaya global yang akan menjerat penghuni dunia melalui berbagai citra pemberdayaan, kemajuan, kenikmatan atau hasrat pemenuhan akan kebutuhan hidup.

Dalam konteks komunikasi informasi, ranjau budaya tersebut dapat dilihat pada beberapa media yang di dalamnya tersimpan makna yang tak terkatakan di balik berbagai program tayangan yang disajikan pada audiens. Mulai sejak bangun tidur hingga tidur kembali, masyarakat seringkali dikelilingi oleh produk produk teknologi.

Hadirnya media massa ke dalam kehidupan masayarakat, baik cetak maupun elektronik (Koran radio,televisi), dan new media (internet) semakin mengikat masyarakat untuk melebur dan masuk dalam dunia informasi.

Untuk mengetahui kondisi masyarakat metropolis tidak perlu datang ke kota metropolis, untuk mengetahui pertikaiaan para petinggi Negara tidak perlu datang ke Jakarta, untuk mengetahui praktik kehidupan, dan budaya barat khususnya di bidang mode of fashion tidak perlu ke Amerika, dan Eropa, kesemuanya itu cukup didapat dan dinikmati hanya melalui media.

Potret di atas menyiratkan bahwa manusia modern adalah manusia yang telah menjadikan media sebagai sistem pengetahuan. Artinya, segala gerak langkah kehidupannya kerapkali dikendalikan dan dipandu oleh media.

Dalam dunia pengetahuan, keberadaan ini merupakan tantangan tersendiri bagi kaum cerdik pandai (pelajar) untuk terlibat dalam pentas percaturan global.

Tantangan yang dimaksud adalah dimensi negatif dari media yang kerap menghilangkan nilai kreativitas dan kritisitas manusia. Pertanyaannya adalah bagaimana budaya global menggoda kaum pelajar?

RAYUAN RAYUAN GLOBALISASI

Salah satu karakteristik dunia global adalah keterbukaan dalam mengakses pengetahuan dan kebudayaan. Keberadaan zaman tersebut sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun dibalik kenyamanan tersebut tersimpan dampak negatif yang juga sangat membahayakan bagi kemerdekaan manusia. Dampak negatif yang paling tampak adalah para generasi bangsa dengan mudah menyerap dan mengikuti budaya barat yang bercorak hedonis dan penuh hasrat untuk menjadi konsumen.

Pemuda kita lebih senang hura-hura dari pada belajar dan berpikir. Ironisnya, melalui kebebasan liar inilah pemuda Indonesia banyak terjerumus ke dalam lingkaran setan yaitu miras, narkoba, judi, prostitusi dan korupsi. Tindakan ini yang dinamakan desire to have (hasrat untuk memiliki).

Masyarakat hanya diasyikkan mengkonsumsi tanpa berpikir panjang atas dampak yang akan terjadi. Inilah karakter kapitalisme global yang oleh George Ritzer disebut sebagai nothing (hampa).

Dengan mengikuti Ritzer, kehadiran teknologi ternyata melahirkan kader kader muda yang bercorak McDonald. 

Budaya tersebut memiliki beberapa karakter atau prinsip kerja diantaranya adalah: efisiensi, yaitu menyajikan menu secara standar, porsi yang sama dan secara cepat, atau siap saji.

Dalam konteks kajian ini, teknologi baru mampu memberikan layanan siap saji, cepat, hemat praktis pada khalayak untuk memperoleh dan menyampaikan informasi berbentuk apapun.

Prinsip tersebut akan melahirkan pemuda yang bermental instan, statis, tanpa melalui proses dan dinamika. Pemuda bermental McDonald, akan malas belajar, berpikir dan berusaha, mereka hanya bergantung dan bangga pada produk produk orang lain.

Ketergantungan inilah yang melahirkan budaya membebek yang hanya larut dalam kenikmatan sesaat, dan mudah digiring pada kepentingan sesaat dan menyesatkan.

Pemuda Mcdonald, juga anti tradisi lokal karena dianggap kuno “gak gaul”, sehingga banyak meniru budaya-budaya orang barat yang dianggap “gaul” walaupun  kerapkali merusak mental dan jiwa pemuda bangsa Indonesia.

Agar pemuda khususnya pelajar muslim Indonesia, tidak tergoda oleh rayuan budaya global, ada beberapa langkah yang harus dilakukan:  Pertama, menanamkan tradisi berpikir dalam gerak langkah kehidupan. Kedua, menghiasi diri dengan pertanyaan. 

Sebelum melakukan proses pembacaan dan berpikir, terlebih dahulu dilakukan pertanyaan sebagai dasar berpijak. Dalam filsafat, ada tiga jenis pertanyaan yang menggiring pada kerangka berpikir sistematis. Apa?, pertanyaan ini melahirkan problem ontologis yang menekankan pada pencarian suatu makna dasar atau akrab disebut sebagai definiisi. Misalnya: berpikir tentang manusia, diawali dengan mendifinisikan apa itu manusia.

Bagaimana? Pertanyaan ini menggiring pada problem epistemologi yang bergerak pada ruang teoritis dengan mencari proses suatu objek. ketika manusia sudah didefinisikan, maka kemudian dicarilah proses kejadian manusia secara teoritis sesuai dengan paradigma yang digunakan.

Untuk apa? Pertanyaan ini melengkapi pencarian suatu objek yang berlabuh pada problem aksiologis dengan menekankan pada dimensi nilai. Setelah mengetahui proses penciptaan manusia, maka dicarilah tujuan diciptakannya manusia.

Ketiga, mendinamiskan pemikiran melalui interaksi sosial atau akrab disebut diskusi.

Keempat, membiasakan menulis. Dalam tahapan sejarah, karya tulis sangatlah berjasa bagi terpublikasikannya sebuah pemikiran seseorang. Melalui tulisan, pelajar bisa mengakses pengetahuan, memperkaya referensi dan memperluas wawasan. Melalui tulisan pula, pengetahuan tidak akan menjadi punah, bahkan akan menjadi inspirasi untuk melahirkan pengetahuan baru dengan model yang baru.  

Akhir kata, "Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya, sebaliknya, mereka belajar hanya untuk dapat nilai-nilai yang tinggi  atau sekedar untuk dapat ijazah," (Ki Hadjar Dewantoro)

 

*)Penulis: Achmad Nur, Ketua Lakpesdam NU Situbondo

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Loading...
Registration