Kopi TIMES

Taqdir: Catatan di Lauhil Mahfudz dan Ummil Kitab

Taqdir: Catatan di Lauhil Mahfudz dan Ummil Kitab Zulfan Syahansyah (Grafis: TIMES Indonesia)
Selasa, 12 Februari 2019 - 16:43

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Allah SWT berfirman: {يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب} "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab"

Ayat di atas menjelaskan tentang takdir serta ketentuan Allah yang bisa dirubah, dan yang tidak bisa berubah. Tentu saja semuanya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Dalam catatan taqdir umat manusia, ada yang tertulis di Lauhil Mahfudz, dan ada yang di Ummul Kitab. Bagaimana membedakan keduanya? Berikut penjelasannya.

Lauhul Mahfudz adalah kitab (ketetapan Allah) yang sudah tertulis, yang bisa dihapus atau ditetapkan sesuai kehendak-Nya.

 {وأرسلناه إلي مائة ألف أو يزيد}

"Maka Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih" (Ash-Shofat: 147)

Adapaun Ummul Kitab adalah kitab (ketetapan) yang ada di khazanah ghaib ilahiyyah yang tidak akan terhapus, tidak bertambah juga tidak berkurang, tapi tetap selamanya. 
{Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam satu kitab} (78:29)
{Dan Dia hitung segala sesuatu satu persatu}

Ketetapan Allah atas para hamba-Nya merupakan satu martabat murni. Jika sampai tahu ketetapan tersebut, maka mereka akan mati karena gemetar dan takut akan dahsyat dan keharusan menjalankan ketetapan itu. Martabat tersebut adalah beban yang tidak mungkin bisa diemban oleh manusia secara umum.

Kemudian Allah sertakan dalam martabat tersebut apa-apa yg dikehendaki-Nya, mulai dari Asma kelembutan-Nya, rahmat, kemurahan, kasih sayang,  keramahan-Nya, serta pengampunan Allah, sebagai Dzat yang Maha Mulia lagi Maha Baik.

Maka Allah akan menghapus kejelekan dengan pengampunan-Nya, dan dosa-dosa besar dengan dengan ampunan dan kasih sayang-Nya. Serta menghapus satu ketetapan dengan dengan do'a. 
Sabda Nabi:

{لا يرد القضاء الا الدعاء}

"Tidak ada yg bisa mencegah qada' kecuali do'a"

Allah juga akan menambah usia dengan perbuatan baik. Sebagaimana sabdanya:

{لا يزيد في العمر الا البر}

"Tiadalah yang menambah usia manusia kecuali kebajikan"

Rincian keterangan:
Sebagai contoh, umur seseorang tercatat 50 tahun di Lauhil Mahfud.

Lalu dia banyak melakukan kebaikan, dan menyebabkan usianya ditambah 10 tahun, maka menjadi 60 tahun.

Sedangkan dalam Ummul Kitab, umur orang tersebut memang tercatat 60 tahun, tanpa bisa dirubah lagi.

Dan rahmat Allah bisa menghapus adzab, dengan syafa'at Rasul SAW, sebagaimana sabda Nabi:

{ذرية آدم لا تعذب اليوم بالنار}

"Anak-cucu adzab tidak disiksa pada hari ini dengan api neraka"

Dan keteka Allah Yang Maha Perkasa menghapus siksa neraka {Dzat-Nya meletakkan kaki-Nya ke dalam api neraka hingga semua sisinya menepi dan neraka pun berkata: cukup, cukup}

Dan tiadalah satu ketetapan yang dirubah kecuali berlandaskan atas rahmat Allah yang mengalahkan segala sesuatu dan sangat luas.

{ورحمتي سبقت غضبي}

"Dan rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku"

{ورحمتي وسعت كل شيئ}

"Dan rahmat-Ku melampaui segala sesuatu"

Dan tiadalah siksaan (adzab), kecuali sesuatu yang terlampaui oleh rahmat-Nya.

Maka Ummul Kitab adalah Kitab yang mulia, dan ketetapan yang pasti mengenai taqdir para hamba dengan syafa'at 'Ar-Rahman' dan 'Ar-Rahim'.

Dan ketika kamu membaca {الرحمن الرحيم}, maka sesungguhnya kamu telah mambaca ringkasan yang ada di dalam Ummul Kitab; ringkasan dari seluruh ketentuan yang telah ditetapkan tanpa bisa dirubah lagi. Semuanya adalah ketetapan dalam ketetapan. 

Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah rahasia serta kode etik Ummul Kitab.

Itulah kenapa surat Al-Fatihah disebut juga dengan Ummul Kitab atau Ummul Qur'an. Hal itu karena pengulangan bacaan {الرحمن الرحيم} di dalamnya.

Maka ismu Allah al-A'dzam dan ketentuan-Nya yang sudah ditetapkan dalam kedua asma tersebut.

Dan jika para hamba bisa mengetahui apa yang tercatat dalam Ummul Kitab, maka sungguh mereka akan bersantai dan meninggalkan amal ibadah, karena luasnya rahmat dan ampunan Allah yang ada di dalam Ummul Kitab.

Dan ketika kamu membaca {الرحمن الرحيم}, maka sesungguhnya kamu telah mambaca ringkasan yang ada di dalam Ummul Kitab; ringkasan dari seluruh ketentuan yang telah ditetapkan tanpa bisa dirubah lagi. Semuanya adalah ketetapan dalam ketetapan.

Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah rahasia serta kode etik Ummul Kitab.

Itulah kenapa surat Al-Fatihah disebut juga dengan Ummul Kitab atau Ummul Qur'an. Hal itu karena pengulangan bacaan {الرحمن الرحيم} di dalamnya.

Maka ismu Allah al-A'dzam dan ketentuan-Nya yang sudah ditetapkan dalam kedua asma tersebut. 

Dan jika sekalian hamba dapat mengetahui apa yang tercatat dalam Ummul Kitab, maka sungguh mereka akan bersantai dan meninggalkan amal ibadah, karena melihat luasnya rahmat dan ampunan Allah yang ada di dalam Ummul Kitab

Hal yang sama jika sampai mereka mengetahui ketentuan Allah yang tertulis dalam kitab Qada' sebelum dirubah dan ditetapkan, maka mereka pastilah akan mati ketakutan.

Dan di sisi Allah itu sama antara Ummul Kitab secara batin dengan Ummul Qur'an secara dahir dalam surat Fatihah. 

Allah berfirman: 

{ولقد أتينا سبعا من المثاني والقرآن العظيم}

"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung"

Al-Matsani (berulang-ulang) itu lawan kata dari ifrad (tunggal). Surat Fatihah, pada pertengahan pertama merupakan bentuk tunggal uluhiyyah dan ubudiyyah. Sedangkan pada pertengahan kedua berisikan pujian Allah atas penghambaan segenap hamba-Nya terhadap ketuhanan dan keagungan Allah.

Rasulullah bersabda: "Allah berfirman:

{قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين، ولعبدي ما سأل، فإذا قال العبد: {الحمد لله رب العالمين} قال الله تعالى: حمدني عبدي، وإذا قال: {الرحمن الرحيم}، قال الله تعالى: أثنى علي عبدي، وإذا قال: {مالك يوم الدين}، قال: مجدني عبدي، وقال مرة: فوض إلي عبدي، فإذا قال: {إياك نعبد وإياك نستعين}، قال: هذا بيني وبين عبدي ولعبدي ما سأل، فإذا قال: {اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين}، قال: هذا لعبدي ولعبدي ما سأل}

"Allah berfirman: <Aku telah membagi solat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua pertengahan. Dan hamba-Ku mendapatkan apa yang dimintanya.

Jika hamba-Ku mengatakan 

{الحمد لله رب العالمين} 

Maka Allah berfirman: "Hamba-Ku telah memuji-muji Aku". 

Dan jika hamba-Ku mengucapkan: 

 {الرحمن الرحيم}،

Allah berfirman: "Hamba-Ku telah memuji-Ku"

Dan jika hamba-Ku mengucapkan: 

 {مالك يوم الدين}،

Allah berfirman: "Hamba-Ku telah memuliakan Aku", dan berfirman lagi: "Hamba-Ku menyerahkan segala urusannya kepada-Ku" 

Dan ketika hamba-Ku mengucapkan: 

 {إياك نعبد وإياك نستعين}، 

Allah berfirman: "Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku. Baginyalah apa yang dia minta".

Dan ketika hamba-Ku mengucapkan: 

{اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين}،

Allah berfirman: "Ini adalah hamba-Ku, dan baginyalah apa yang dia minta>"

Kalimat "إياك" merupakan uluhiyah, dan dua kalimat "نعبد" dan "نستعين" adalah ma'luhiyyah dan ubudiyyah.

Maha suci Dzat yang ini merupakan firman-Nya. (*)

* Penulis adalah Zulfan Syahansyah Dosen Aswaja Pascasarjana UNIRA Malang
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Loading...
Registration