Selasa, 17 September 2019
Politik

Survei Charta Politika: Masyarakat Masih Memaklumi Politik Uang

Survei Charta Politika: Masyarakat Masih Memaklumi Politik Uang ILUSTRASI - Uang. (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)
Senin, 11 Februari 2019 - 21:53

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Direktur Riset lembaga survei Charta Politika Muslimin mengatakan, masyarakat saat ini masih memaklumi adanya money politics atau politik uang. Hal itu terbukti dari hasil survei yang dilakukan di tiga dapil DKI Jakarta.

Muslimin menjelaskan, pihaknya melakukan survei di dapil I, II dan III DKI Jakarta pada 18-25 Januari 2019 lalu dengan jumlah responden 800 orang per dapil. Hasil survei menunjukkan tingginya angka politik uang di dua dapil DKI Jakarta.

"Sebanyak 58,2 persen responden di wilayah Dapil DKI Jakarta I memaklumi adanya politik uang. Sedangkan 31,3 persen tidak dapat memaklumi dan tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 10,5 persen," ujar Muslimin saat rilis hasil survei di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Hal yang sama juga terjadi di dapil II. Dimana 47,0 persen responden memaklumi politik uang, sedangkan 41,0 responden mengaku tidak dapat memaklumi dan selebihnya tidak menjawab.

Namun hasil yang berbeda ditunjukkan dari survei di dapil III. Angka tertinggi justru didapat dari responden yang menolak politik uang dengan 47,6 persen. Sementara 42,6 persen mengaku memaklumi dan sisanya tidak menjawab.

Selain itu, dari hasil survei juga diketahui bahwa masyarakat khususnya warga DKI Jakarta yang menjadi responden survei mengaku menyukai souvenir atau hadiah yang diberikan para caleg. Hadiah ini bisa berbentuk sembako, kaos, kalender, mukena, mug atau gelas, payung, topi, pin dan stiker.

"Dapil DKI I sembako 30,7 persen, disusul dapil DKI II 36,0 persen dan Dapil DKI III 40,8 persen. Kaos menempati urutan kedua semuanya dari dapil DKI I sampai III, masing-masing 23,7 persen, 14,5 persen dan 19,6 persen," papar Muslimin.

Mendapati kondisi ini, Muslimin menilai partai politik belum belajar bagaimana memperlakukan warga saat berkampanye. Sehingga cara yang terpikirkan adalah memberikan sebuah barang demi meraup suara.

Tak hanya itu, tingginya politik uang ini juga didukung oleh rendahnya pendidikan politik masyarakat. "Pendidikan politik terhadap publik memang masih sangat rendah. Terutama parpol dan caleg itu sendiri," tandas petinggi lembaga survei Charta Politika tersebut. (*)

Jurnalis : Rahmi Yati Abrar
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Registration