Minggu, 17 Februari 2019
Opini Opini

Sufi(ral)kan

Sufi(ral)kan Ahmad Dahri (Grafis: TIMES Indonesia)
Sabtu, 09 Februari 2019 - 11:28

TIMESINDONESIA, JAKARTASUFI, Tassawuf, adalah ritus ajaran suci, pastinya dalam agama. Di mana manusia menempati posisi substansial, posisi yang bernaung dalam hati, bukan lagi menitik beratkan kepada Bungkus, atau apapun yang bersifat eksterior. Bahkan saking dalamnya ruang yang ditempati, tiada peduli terhadap apa yang sedang ia kenakan atau yang disangkakan orang lain terhadapnya. 

Cinta, jelas. Ini wilayahnya, katanya cinta butuh pengorbanan, ya itu pengorbanannya, adalah tiada perduli terhadap apa yang berada di luarnya. Ia fokus, khusyuk memperhatikan substansi dalam diri. Ia rela dicaci maki, dibully bahkan dibuang jauh-jauh dari hiruk pikuk keramaian, dan tanpa perduli akan hal itu, karena yang terpenting Tuhan tidak marah padanya. 

Sufi, Sebenarnya banyak sekali pendapat tentang pengertiannya. Di lain sisi ia menjadi perdebatan panjang oleh para fuqaha' (Ahli Syariat) sedangkan menjadi jalan menuju hakikat atau esensi Tuhan yang sesungguhnya di sisi lain. 

Ibrahim bin Adham misalnya, memandang tasawuf atau sufi sebagai luhurnya cita-cita menuju Tuhan tanpa ada sandungan perihal keduniawian.  tasawuf adalah luhurnya sebuah tujuan yang dicita-citakan setiap umat agar terhindar dari tergelincirnya langkah dan melakukan zuhud (Mencegah) dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allâh SWT, bukan dari sesuatu yang di haramkan Allâh SWT. 

Oleh karenanya Sufi atau Tasawwuf mengandung pelajaran yang sangat berharga, terutama dalam proses pengembangan sikap atau Moral - Personal. Bahwasanya Kejujuran dan Kemurnian adalah pondasi yang diperkuat oleh tasawwuf. Pastinya untuk selalu mendekatkan diri kepada yang Tak Terbatas. 

Kalau kemurnian (akal sehat) dan kejujuran (Hati) adalah pondasi yang perlu diperkuat maka bagaimana dengan hari ini? Kepentingan? Memangnya apa yang tidak dilandasi kepentingan? Apalagi kalau sudah darurat moral, darurat kesadaran, darurat gotong royong, darurat perut keroncongan, darurat sanjungan dari sanak kadang dan darurat-daruta yang lain. 

Namun, apapun kondisinya maka tasawuf memiliki ruang yang sangat luas, memiliki gambaran dan pandangan yang sangat luas dan pemikiran yang mendalam. Rasional? Ya pastinya. Karena ketika hiruk pikuk keduniawian (bagi para sufi) sudah penuh sesak maka tiada jalan lain selain meninggalkannya dan menambah porsi kedekatan kepada Tuhan. Caranya? Beragam. Bisa berdzikkir, atau karena ajaran tasawwuf lama yaitu Malamatia masih melekat, terkadang menjadi seperti orang gila adalah satu kewarasan tersendiri. Dalam artian cuek secuek-cueknya terhadap kondisi hiruk pikuk kehidupan. 

Sehingga menjadi kewajaran ketika ada sosok yang dianggap gila oleh sebagian banyak orang tetapi menjadi sasaran uluk salam bagi sebagian orang lainnya. Tujuannya? Barokah, Kebaikan, dan Cinta. Karena tasawwuf memiliki bahasa yang lugas, yaitu bahasa cinta. 

Lantas seberapa penting sufi untuk hari ini? Kehidupan adalah proses membaca batasan-batasan, di mana ego yang sering kali menjadi batas atas kesadaran. Kesadaran akan siapa sebenarnya diri kita. 

Hari ini, atau sejak jauh silam, sikap ngrumangsani seperti terkikis oleh ego-ego setiap personal. Banyaknya korupsi misalnya, atau menganggap golongan di luar dirinya adalah kafir misalnya, atau merasa paling bisa mensejahterakan kehidupan bangsa. Wong sudah sangat jelas bahwa manusia menjadi khalifah atas diri masing-masing, empan papannya harus jelas, karena ketika manusia selesai dengan dirinya sendiri maka ia mampu menyelesaikan persoalan yang lebih luas cakupannya, seperti keberagaman dan keberlangsungan hidup. Begitulah wa'tasimu bihablillah. Berpegang teguh kepada tali (perintah kebaikan) Tuhan. 

Sehingga berjalan atau menjalani hidup dengan pendekatan tasawwuf tidak hanya sebagai alternatif akhir tetapi menjadi prioritas keberlangsungan hidup, sosial, budaya, pendidikan dan agama. 

Lantas hari ini bagaimana?

Pojok Rumah, 2019

* Penulis Ahmad Dahri adalah santri Pesantren Luhur Baitul Hikmah dan Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Loading...
Registration