Kopi TIMES

Tingkat Pendidikan Angkatan Kerja Sub-Sektor Peternakan

Tingkat Pendidikan Angkatan Kerja Sub-Sektor Peternakan ILUSTRASI - Peternakan Sapi. (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)
Jum'at, 08 Februari 2019 - 08:15

TIMESINDONESIA, BATU – Salah satu indikator untuk mengukur kualitas sumberdaya manusia yang di populerkan dengan istilah Human Development Index (HDI) adalah faktor pendidikan. Data statistik tahun 2017, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 70,81. Angka ini meningkat sebesar 0,63 poin atau tumbuh sebesar 0,90 persen dibandingkan tahun 2016. 

Bayi yang lahir pada tahun 2017 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,06 tahun, lebih lama 0,16 tahun dibandingkan dengan mereka yang lahir tahun sebelumnya. Anak-anak yang pada tahun 2017 berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,85 tahun (Diploma I), lebih lama 0,13 tahun dibandingkan dengan yang berumur sama pada tahun 2016.

Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,10 tahun (kelas IX), lebih lama 0,15 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2017, masyarakat Indonesia memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebesar 10,66 juta rupiah per tahun, meningkat 244 ribu rupiah dibandingkan pengeluaran tahun sebelumnya.

Bagaimana implementasi Analisa angka-angka tersebut bagi angkatan kerja di dunia peternakan? Betulkah rata-rata tingkat Pendidikan angkatan kerja di sub-sektor peternakan masih relatif rendah, karena untuk menikmati Pendidikan Diploma I (secara nasional baru akan tercapai sekitar 12,85 tahun lagi)?

Mari kita simak data sensus angkatan kerja nasional (sakernas). Dari data sakernas bulan Februari 2017 dapat kita lihat diagram tingkat Pendidikan mereka yang bekerja di sub-sektor peternakan sebagai berikut;

Angkatan-kerja-di-sub-sektor-Peternakan.jpg

Sebaran tingkat Pendidikan Angkatan kerja di sub-sektor Peternakan, data Sakernas 2017.  (FOTO: Istiemewa)

            Dari pembacaan diagram gambar 4, menunjukkan angka tertinggi angkatan kerja di sub-sektor peternakan teringgi pada tingkat Pendidikan tamat Sekolah Dasar, sejumlah 1.418.473 orang ( 33,7%) dan sejumlah 3.675.464 (87, 4 %) tidak berpendidikan hingga maksimal berpendidikan tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Hal ini sangat penting menjadi pertimbangan bagi pusat pelatihan pertanian, Kementerian Pertanian untuk membuat kebijakan terobosan agar kelompok mayoritas ini mendapat kesempatan lebih banyak menerima pelatihan dan pendampingan Teknik di bidang peternakan, sehingga kelahiran pedet yang cukup spektakuler tersebut mampu bertahan dengan kesehatan prima dan meningkatkan nilai jual, yang akan memberikan dampaK meningkatnya pendapatan bagi para peternak.

            Sejalan dengan luasnya potensi sumberdaya pertanian di Indonesia dengan jumlah daratan mencapai 1.904.569 KM persegi sumber mata air yang memadai untuk usaha bidang peternakan menyongsong era milinial sungguh menjadi tantangan yang perlu diperjuangkan dihubungkan dengan kondisi yang mayoritas angkatan kerja sub-sektor peternakan berpendidikan tamat sekolah dasar.

Menjadi titik perhatian bagi unit-unit pelaksana teknis (UPT) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) Pertanian bidang pelatihan peternakan. Bagaimana kelembagaan ini mampu menciptakan model pelatihan, penetapan sasaran dan melakukan perencanaan peningkatan ketrampilan/kompetensi SDM bidang peternakan dengan kondisi 87, 4 % pada level tidak bersekolah sampai dengan SLTP. Diketahui bahwa selama ini di Balai Besar Pelatihan, kementerian Pertanian lebih memprioritaskan yang berpendidikan minimal Diploma III.

            Tentunya konteks penyediaan sarana yang memadai, teknologi yang canggih belum cukup menjamin keberlangsungan tercapainya target program tanpa dibarengi kualitas SDM yang memadai, sehingga untuk mengimbangi terbatasnya jumlah sasaran yang dapat dilatih di UPT diklat perlu pendampingan dan penyuluhan di bidang peternakan. (*)

*)Ir. Tri Handajani, M.Agr/Widyaiswara kompetensi Penyuluhan BBPP Batu, 07-02-2018

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Loading...
Registration