Opini

Tenaga Kerja Peternakan Indonesia Berdasarkan Sebaran Umur dan Status Pekerjaan

Tenaga Kerja Peternakan Indonesia Berdasarkan Sebaran Umur dan Status Pekerjaan ILUSTRASI - Peternakan Sapi. (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)
Jum'at, 08 Februari 2019 - 06:00

TIMESINDONESIA, BATU – Bagaimana kita menanggapi issue terkini bahwa usaha-usaha bidang pertanian kurang diminati para generasi muda dan lebih kental lagi yang relatif bertahan adalah mereka yang hidup dan bekerja secara teknolpgi subsisten, manual dan “gagap teknologi elektronik telekomunikasi”. Benarkah pernyataan ini? Mari kita simak data mengenai lapangan kerja berdasarkan kelompok umur angkatan kerja secara nasional hasil sensus angkatan kerja nasional (sakernas) bulan Februari 2017 dapat dilihat pada diagram berikut ini;

sub-sektor-peternakan-berdasarkan-kelompok-umur.jpg

 Tenaga kerja sub-sektor peternakan berdasarkan kelompok umur.  (FOTO: Istiemewa)

            Dari diagram gambar 5 dimaksud ternyata benar bahwa jumlah terbesar tenaga kerja bidang peternakan pada kelompok umur > 60 tahun, sejumlah 929.383 orang  (22,11 %), kemudian tengah generasi angkatan kerja yang patut sebagai estafet penerus adalah mereka yang berusia 35-39 tahun dan diharapkan mampu bertahan dalam mengelola usaha bidang peternakan sebesar 410.919 orang (9, 78 %).

Angka dan persentasi ini cukup menghawatirkan untuk kelangsungan kaderisasi bidang peternakan. Namun dari data dimaksud juga memperlihatkan bahwa usaha peternakan diminati segala kelompok umur, mulai usia 15 tahun hingga > 60 tahun. Kelompok usia 15-19 tahun yang berminat nampaknya cukup banyak yaitu 321.946 orang (7, 66 %).

Jika dihubungkan dengan kebijaksanaan program kementerian pertanian yang mulai terguguah melakukan pelatihan berorientasi pengenalan dunia pertanian pada siswa SLTP dan SLTA/sederajat non pertanian melalui Agric Training Camp (ATC) sejak tahun 2010-2017, di 10 Unit Pelaksana Teknis Balai dan Pusat Pelatihan, maka akan terdapat korelasi yang positif.  

 Pada saat mengikuti pelatihan mereka berusia antara 11 s.d 16 tahun, kemudian pada waktu disensus mereka berada pada usia 11 hingga 23 tahun. Dengan demikian pelatihan ATC memberikan dampak tumbuhnya minat usaha-usaha pertanian kepada gererasi muda.

Kiranya kurang benar bila generasi muda telah meninggalkan minatnya di bidang usaha peternakan atau pertanian. Namun jika dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang 265 juta memang ratio 321.946 orang pelaku usaha di bidang peternakan  ini relatif kecil. Lalu apa yang menyebabkan daya tariknya rendah? Kita simak diagram gambar berikut;

sub-sektor-peternakan-berdasarkan-statu.jpg

Sebaran angkatan kerja sub-sektor peternakan berdasarkan status pekerjaan, 2017.  (FOTO: Istiemewa)

            Dalam diagram pie gambar 6, terlihat bahwa angkatan kerja sub sektor peternakan dengan status pekerja keluarga tidak dibayar sejumlah 1.642.087 orang, kemudian jika dijumlahkan dengan kelompok angkatan kerja yang belum pasti dibayar dengan sistem dan jumlah nilai pembayaran bervariasi (tidak tetap) sejumlah 1.302.831 orang. Maka sekitar 70.06 % status pekerjaan mereka sangat bergantung pada keadaan keluarga atau pihak yang memerlukan mereka secara kebutuhan sementara, yang tidak menentu (memperoleh kesempatan yang tidak pasti).

Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan pekerjaan tersebut di bidang peternakan belum memberikan jaminan sebagai pekerjaan tetap, padahal generasi muda sekarang ini berpikirnya sangat realistis. Tentunya fakta ini merupakan petunjuk bagi kita untuk menyusun strategi dan pola pembinaan, pendampingan, sistem pendidikan, pelatihan dan penyuluhan yang lebih tepat dalam menyiapkan generasi muda di masa yang akan datang. (*)

*)Penulis: Ir. Tri Handajani, M.Agr/Widyaiswara kompetensi Penyuluhan BBPP Batu, 5-02-2018

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Loading...
Registration