Selasa, 23 April 2019
Wisata

Sanggring, Tradisi Unik dari Desa Tlemang, Lamongan

Sanggring, Tradisi Unik dari Desa Tlemang, Lamongan Masyarakat Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, mengantre supaya mendapatkan Sanggring, Senin, (4/2/2019). (FOTO: MFA Rohmatillah/TIMES Indonesia)
Senin, 04 Februari 2019 - 18:00

TIMESINDONESIA, LAMONGANDesa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menyimpan tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun silam, bernama Sanggring

Sanggring ini pertama kali dimunculkan oleh Ki Buyut Terik, sebagai jamuan untuk para tamu dan sedekah bumi yang kemudian diwariskan secara turun temurun di Tlemang, Kecamatan Ngimbang. Jumlah piring untuk jamuan para tamu, harus sebanyak 44 buah piring. 

"Ceritanya Sanggring ini untuk menjamu. Dulu kan ada seperti prajurit, mengundang teman-teman untuk jamuan makan, mengerahkan anak buahnya atau murid-muridnya untuk memasak Sanggring ini," tutur Aris Pramono, Kepala Desa Tlemang, Senin, (4/2/2019). 

Sanggring yang juga dipercayaan bisa sebagai obat ini, dikatakan Aris, harus dimasak oleh kaum laki-laki, karena Sanggring ini juga menjadi salah satu ritual pensucian. "Karena orang laki-laki kan nggak punya hadas,” katanya. 

Untuk menentukan yang memasak Sanggring, dikatakannya tidak ada ritual khusus sebelumnya bagi para juru masak. “Memang nggak ada kriteria tertentu, tapi ada salah satu orang sesepuh yang mendampingi," ucapnya.

Lantas apa itu Sanggring? Sanggring ini berupa masakan yang berbahan dasar ayam. “Masakannya mesti ayam,” ucapnya Yatono, salah satu warga Desa Tlemang menambahkan. 

Lalu berapa jumlah ayam yang dipotong lantas dimasak oleh warga? Yatono menyebut, jumlahnya ayamnya tergantung dengan jumlah penduduk Desa Tlemang. 

“Yang ngasih ya warga, tapi setiap keluarga memberi ayam sama bumbu jangkep sama kayunya juga,” katanya. 

Jurnalis : MFA Rohmatillah
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Lamongan

Komentar

Loading...
Registration