Wisata

Mengintip Keunikan 5 Adat di Magelang yang Masih Lestari Sampai Sekarang

Mengintip Keunikan 5 Adat di Magelang yang Masih Lestari Sampai Sekarang FOTO: goodnewsfromindonesia.id
Selasa, 29 Januari 2019 - 11:35

TIMESINDONESIA, MAGELANG – Sebagai kota tertua kedua di Indonesia, Magelang memiliki keragaman budaya dan adat. Masuknya arus modernisasi ke Magelang, tidak lantas melunturkan keduanya Hal itu dibuktikan dengan lima adat unik di Magelang yang tetap digelar sampai sekarang. 

Seperti keunikan adat tersebut? Simak ulasan berikut ini.

1. Sungkem Tlompak

Sungkem tlompak merupakan tradisi yang digelar oleh warga Desa Banyusidi yang tinggal di lereng Gunung Merbabu. Mereka mengadakannya setiap momen idulfitri untuk mengirim doa dan memohon keselamatan kepada Yang Mahakuasa.

Tradisi sungkem tlompak dirayakan dengan menyajikan tumpeng beserta lauknya. Ada juga sesajen kembang, sayuran, dan buah-buahan. Beberapa orang yang ikut dalam acara ini mengenakan kostum tradisional, seperti kostum penari topeng dan Gatotkaca.

Semua sesajen dan tumpeng lantas diarak menuju sumber mata air Tlompak. Proses arakan dimulai dengan tarian topeng, geculan bocah, dan gupolo gunung. Saat tiba di sumber mata air, sesepuh akan memimpin doa.

2. Sedekah Candi Gunung Wungkir

Anda pernah ke Candi Gunung Wukir? Situs ini menjadi lokasi ditemukannya prasasti tertua di Indonesia. Setiap setahun sekali, warga mengadakan ritual di Situs Gunung Wukir. Tujuannya, selain mengungkapkan rasa syukur, juga sebagai sarana mengenalkan prasasti yang ada di sana.

Ritual sedekah diawali dengan acara arak-arakan kelilingi desa. Warga yang ikut boleh menggunakan sepeda motor saat acara arakan. Setelah itu, mereka berhenti di sebuah kawasan, tempat upacara. Di sana sudah ada gunungan tumpeng beserta lauknya, tamu undangan, dan ketua panitia yang bersiap memulai ritual.

3. Ruwat Bumi di Gunung Tidar 

Jika biasanya gunung terletak di kawasan bukit, kali ini berada di tengah Kota Magelang. Itulah Gunung Tidar—yang disebut sebagai “pakunya tanah Jawa”. Tinggi Gunung Tidar hanya 503 Mdpl. Namun, untuk menuju ke puncaknya, Anda perlu melewati ratusan anak tangga.

Nah, di Gunung Tidar terdapat ritual yang dikenal dengan ruwat bumi. Acara ini dihadiri oleh masyarakat sekitar. Mereka mengenakan pakaian tradisional saat datang ke Gunung Tidar. Selain itu, tiap perwakilan kelurahan atau desa harus membawa tumpeng dan lauknya. Ada dua tumpeng yang disajikan, yakni tumpeng lanang dan wadon.

4. Ritual Pradaksina

Pradaksina diselenggarakan di Candi Borobudur saat matahari terbit. Ritual ini dilakukan oleh para biksu. Mereka mengenakan topi merah berbentuk jambul sambil berputar mengelilingi candi sebanyak tiga kali.

Sebagian dari mereka bertugas meniup terompet dan kerang serta membawa bunga teratai berbahan kertas. Bunga itu berisi lilin yang menyala. Usai ritual pradaksina, bunga teratai diletakkan di tepi candi.

5. Nikah Tembakau

Siapa bilang, hanya manusia yang bisa menikah? Di Magelang, tembakau pun dinikahkan. Pernikahan ini adalah adat rutin warga Magelang sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah dari Yang Mahakuasa. 

Ritual dimulai dengan kirab tumpeng hasil bumi, dan sepasang pengantin tembakau bernama Kyai Pulung Seto dan Nyai Srintil. Mereka membawanya menuju sendang Piwakan. Setelah tiba di sendang, tokoh masyarakat memimpin doa. 

Demikian tadi beberapa adat unik di Magelang yang tetap oleh masyarakat sampai sekarang. Anda bisa menelusuri beragam adat lainnya jika menginap lebih lama di hotel di Magelang. Jika ingin sekalian mengunjungi Yogyakarta, Anda dapat mencari hotel di Jogja melalui web Airy.

Situs tersebut menawarkan ratusan kamar hotel dan penginapan dengan tujuh fasilitas unggulan, seperti AC, TV, WiFi gratis, serta tempat tidur yang nyaman. Proses pemesanannya pun cepat dan praktis; Anda bisa bayar tagihan lewat kartu kredit atau transfer bank. (*)

Jurnalis :
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Loading...
Registration