Selasa, 17 September 2019
Politik

Generasi Milenial Kota dan Desa Memiliki Kesempatan yang Sama

Generasi Milenial Kota dan Desa Memiliki Kesempatan yang Sama Ahmad Irawan saat berkeliling di desa-desa dalam upayanya memotivasi generasi milenial bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama dalam pemanfaatan kemajuan tehnologi. (FOTO: Istimewa)
Sabtu, 26 Januari 2019 - 10:53

Menurut dia, intervensi pemerintah disini sangat penting karena menyangkut usia produktif generasi milenial itu, menyangkut lapangan pekerjaan. "Jangan sampai mereka diabaikan dan oleh karena itu pendidikannya harus dipersiapkan sejak dini," tuturnya.

Budaya sederhana di pedesaan, menurutnya, memang tidak perlu harus dirubah. Tapi potensi yang ada di desa itu harus dioptimalkan. Milenial di desa dan dikota harus berkolaborasi untuk masa depannya. "Mereka harus dipertemukan dalam satu titik yang mereka saling menguntungkan," tegasnya.

Disebutkan, generasi milenial yang bisa membuka usaha kopi di cafe-cafe di perkotaan itu karena mereka memiliki akses permodalan harus menyerap hasil pertanian dari desa yang digarap oleh petani. Jadi millenial di desa tidak perlu gengsi jadi petani.

Ia tidak menampik bahwa selama ini memang budaya malu masih begitu kuat dari pedesaan yang kemudian bisa memunculkan rasa malas.  "Itu karena mereka tidak punya market. Tapi kalau mereka punya market dan ada contoh sukses, pasti mereka tidak malu lagi. Memang harus ada yang memotivasi. Disini pentingnya intervensi pemerintah melakukan intervensi lewat penyediaan sarana, pelatihan dan pemasaran. Tiga hal itulah kuncinya," tandasnya.

Untuk itulah,  lanjut Ahmad Irawan, generasi milenial di desa juga harus diberikan edukasi dan akses informasi. Kalau generasi milenial mereka diedukasi, mereka akan bisa membangun image brand mengenai apa yang dihasilkan di pedesaan seperti produk kopi, misalnya. Mereka bisa memasarkan sendiri.

"Kalau produknya dikenal, modal melalui financial technology (fintech) itu akan menjadi banyak dan mereka bisa mengakses itu. Nah generasi milenial di kota-kota besar sudah memanfaatkan itu. Termasuk di perkotaan di Malang. Itu yang saya sebutkan bahwa keadaan ini harus berimbang antara desa dan kota," ujar Ahmad Irawan(*)

Jurnalis : Widodo Irianto
Editor : Widodo Irianto
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Registration