Pendidikan

Ikatan Geografi Indonesia Usulkan Geografi Jadi Pelajaran Wajib

Ikatan Geografi Indonesia Usulkan Geografi Jadi Pelajaran Wajib Ikatan Geograf Indoensia (IGI) ketika mengikuti Lokakarya Nasional Geografi dan Pendidikan Kebencanaan di UGM, berapa waktu lalu. (FOTO: Humas UGM/TIMES Indonesia)
Sabtu, 12 Januari 2019 - 17:28

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTAIkatan Geografi Indonesia (IGI) mengusulkan agar memasukan mata pelajaran geografi sebagai buku ajar wajib pada pendidikan dasar (SD) dan menengah (SMA). Usulan itu, dilakukan mengingat adanya rencana memasukan pendidikan kebencanaan pada kurikulum sekolah.

“Pendidikan kebencanaan kepada masyarakat di Indonesia belum menyentuh setiap warga bangsa. Sehingga, anak-anak kita sedini mungkin perlu dikenalkan dengan geografi agar mereka tahu dan mudah memahami apa itu bencana alam,” kata Ketua IGI, Prof Dr Hartono pada Lokakarya Nasional Geografi dan Pendidikan Kebencanaan, berapa waktu lalu.

Acara tersebut diadakan oleh Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang Geografi (Forpimgeo), Ikatan Geograf Indoensia (IGI) dan Fakultas Geografi UGM. Hadir sebagai peserta dosen geografi dari 16 perguruan tinggi di Indonesia dan perwakilan guru TK, SD, SMP, dan SMA asal berbagai daerah di tanah air.

Menurut Hartono, upaya pemerintah memasukan kurikulum kebencanaan dalam proses belajar patut diapresiasi. Sebab, saat ini kurikulum pendidikan dasar dan menengah belum banyak memuat pendidikan kebencanaan. Apalagi, tingkat SMA, pendidikan geografi belum diberikan pada semua individu.

“Hanya kelas IPS saja yang mendapatkan pelajaran geografi yang didalamnya terdapat materi kebencanaan,” terang Hartono.

Kondisi ini tentu berbeda dengan kebijakan pendidikan yang ada di sebelas negara maju di dunia. Seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Australia, Finlandia, Perancis, Hungaria, Belanda, Selandia Baru, dan Singapura. Mereka telah mengajarkan wajib materi geografi dan sejarah masing-masing negara sebaga dasar wawasan setiap negara.

 “Padahal Indonesia negara yang rawan bencana karena berada dalam posisi geografis ring of fire dunia. Data BNPB 2018 mencatat jumlah kejadian bencana tahun 2018 sebanyak 1.999 kejadian dengan korban jiwa tercatat terbanyak sejak 2007. Sementara tahun 2019 Indonesia diprediksi akan mengalami kejadian bencana hingga 2.500 kejadian,” terangnya.

Dirjen Riset dan Pengembangan Kemenristek Dikti, Dr Muhammad Dimyati  menyambut baik upaya yang dilakukan oleh komunitas geografi di Indoensia yang telah menyusun policy brief untuk menjadikan pelajaran geografi sebagai ruh pendidikan kebencanaan.

 “Policy brief ini akan bagus jika disampaikan ke pembuat kebijakan dan bisa menjadi sebuah kebijakan nasional,” kata Dimyati.

Karena itu, ia mendorong pada komunitas geografi di Indonesia untuk segera menyampaikan rekomendasi tersebut kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Dengan demikian rekomendasi dari Ikatan Geografi Indonesia dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” jelasnya. (*)

Jurnalis : Umi Musaropah (MG-62)
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Loading...
Registration