Opini

ISNU: Kereta Intelektual NU yang datang terlambat?

ISNU: Kereta Intelektual NU yang datang terlambat? Dr. Nurul Badriyah Damanh, SE. ME. Sekretaris Jurusan Ilmu Ekonomi FEB UB dan Bendahara ISNU Universitas Brawijaya. (FOTO: Istimewa)
Sabtu, 12 Januari 2019 - 13:26

TIMESINDONESIA, MALANG – Sejurus tema di atas menyajikan pertanyaan logis. Seberapa besar ISNU ( Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) memberi warna bagi ormas legendaris sebesar NU. Terbayanglah Nahdlatul Ulama, organisasi yang menitis di Surabaya, 31 Januari 1926. Angka keramat bagi perjalanan bangsa. Terhitung dua tahun kemudian peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Berujung di sebuah awal pergerakan. Nahdlatul Ulama didirikan berlatar ijtihad kebangsaan. Berdasarkan cita-cita keummatan persemaian kebudayaan Islam dunia. Komite Hijaz menandainya. Kyai Muda Wahab Hasbullah, kala itu pemuda tangguh yang menerjemahkan nawaitu Hadrotussyeh Kyai Hasyim Asyari, usai diplomasi Hijaz, merumuskan lahirnya NU.

NU besar karena didirikan dengan cita-cita yang besar. Menghimpun masyarakat, jam'iyah di desa dan kota. Siapa pun mereka, saudagar, petani,   pegawai, guru ngaji, remaja, kelompok ngaji, serta jejaring pesantren dan pengasuhnya mengelompok dalam satu harapan akan lahirnya sebuah negara. NU merawat mimpi dan berjuang untuk lahirnya Indonesia merdeka.

Hingga kemerdekaan tunai diproklamasikan, 17 Agustus 1945. NU tak pernah beranjak, ikut mempertahankan legalitas merdeka, dengan perjuangan santri  gagah berani karena tausiyah perjuangan KH Hasyim Asyari.
Lahirlah Hizbullah, pasukan pemuda santri, Sabilillah laskar para kyai  menandai peristiwa 10 November, kelak dicatat sebagai Hari Pahlawan. Pada masa pergolakan itu, santri NU belum bergabung dalam ISNU. Karena wadah sarjana NU belum terbentuk.

Melampaui masa 1960 an. Peristiwa politik luar biasa kecamuknya. Nahdlatul Ulama menjadi partai yang berjibaku dengan ragam model ideologi. Kelompok nasionalis, Islam pembaruan serta komunis menguat di jantung politik Indonesia era Soekarno.

Lesbumi ( Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) bergerak hadir  di tahun 1962. Tugasnya membantu NU menegakkan seni budaya Islam ke--Indonesiaan. Bersaing dengan PKI yang tersohor dengan LEKRA lembaga budaya komunis yang piawai membuat seni propaganda. 

Jurnalis :
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Loading...
Registration