Peristiwa - Daerah

Instran Nilai KA Bandara Masih Minim Penumpang

Instran Nilai KA Bandara Masih Minim Penumpang kereta Bandara Soekarno-Hatta di Balai Yasa Manggarai, Jakarta (Foto: antara foto/Galih Pradipta)
Rabu, 09 Januari 2019 - 23:11

TIMESINDONESIA, JAKARTAKereta Api Bandara (KA Bandara) dinilai masih minim penumpang. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang.

Menurutnya, seharusnya KA Bandara mampu membawa total 19.040 penumpang perharinya dari Bekasi-Jakarta-Bandara Soetta pulang pergi (PP).

Namun, merujuk data PT Railink hingga November 2018, okupansi penumpang pada hari biasa 2.700 - 3.000, hari Jumat antara 4.700 - 5.000, serta hari Sabtu dan Minggu sekitar 2.000 - 2.500. Bila diambil angka paling banyak perhari 5.000 penumpang, maka okupansi keterisian masih 26 persen.

Suasana-Diskusi-di-Hotel-Sari-Pasific.jpgDiskusi bertajuk 'Revieu 1 Tahun Kereta Api Bandara, Akankah Mampu Menguraikan Kepadatan Lalu Lintas Jalan?' di Hotel Sari Pasific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (9/1/2019) malam. (Foto: Rahmi Yati Abrar/TIMES Indonesia)

"Okupansi 26 persen ini masih jauh dari harapan orang berpindah dari penggunaan kendaraan pribadi kepada transportasi berbasis rel menuju atau dari Bandara Soetta," kata Deddy dalam diskusi bertajuk 'Revieu 1 Tahun Kereta Api Bandara, Akankah Mampu Menguraikan Kepadatan Lalu Lintas Jalan?' di Hotel Sari Pasific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (9/1/2019) malam.

Deddy menuturkan setiap hari pergerakan penumpang mencapai 150.000 yang datang ke Bandara Soetta di hari normal. Sementara pada hari libur seperti Lebaran dan Natal lebih dari 200.000 penumpang.

Untuk meningkatkan pelayanan transportasi yang terintegrasi lanjutnya, harus dapat diwujudkan dengan target capaian tersusun dalam lndikator Kriteria Utama (IKU). Diantaranya pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum sebesar 40 persen pada tahun 2019 dan 60 persen pada tahun 2029.

Ia mengakui jika moda transportasi kereta api tidak dapat berdiri sendiri dalam melayani pengguna jika ingin okupansi bertambah. Itulah sebabnya di setiap stasiun pemberhentian kereta api diperlukan integrasi moda angkutan umum darat lain seperti angkot, bus feeder dan juga taksi.

"Jadi dalam hal ini tetap diperlukan sinergi strategis untuk integrasi antar moda dengan angkutan umum darat lain yang berbasis jalan raya," pungkasnya. (*)

Jurnalis : Rahmi Yati Abrar
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Loading...
Registration