Senin, 18 Februari 2019
Wisata

Kampung Kaligrafi di Bondowoso Sajikan Seni Kontemporer

Kampung Kaligrafi di Bondowoso Sajikan Seni Kontemporer Achmad Zubairi seniman sekaligus penggagas Kampung Kaligrafi di Desa Penanggungan Kecamatan Maesan, sedang menunjukan karyanya, yakni senik kaligrafi kontemporer (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
Minggu, 06 Januari 2019 - 16:07

TIMESINDONESIA, BONDOWOSOKampung Kaligrafi di Bondowoso, tepatnya di Desa Penanggungan, RT/4 RW/2 Kecamatan Maesan menyajikan seni kaligrafi kontemporer.

Kampung tersebut dipenuhi dengan lukisan ayat-ayat suci Al Quran, yang mayoritas berbahan kayu. Mulai surat pendek, kalimat tauhid, hingga ayat yang agak panjang seperti ayat kursi.

TIMES-Indonesia-Kampung-Kaligrafi-di-Bondowoso-2.jpg

Pantau TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id), kampung yang dulunya kumuh itu, kini menjadi indah, dengan karya seni kaligrafi tiga dimemsi, di berbagai sudut. Bahkan, di pintu masuk, pengunjung disuguhi bacaan basmalah.

Di kampung itu, juga terdapat sebuah taman bunga kecil, yang dipagar dengan seni tulisan arab tersebut. Sampai tempat tongkronganpun juga tak lepas dari pernak-pernik kaligrafi. Tak ayal, pemandangan tersebut menjadi sangat indah, dan bernuansa religi.

TIMES-Indonesia-Kampung-Kaligrafi-di-Bondowoso-3.jpg

Kampug tersebut, digagas oleh seorang seniman kaligrafi, Achmad Zubairi, warga asli Penanggungan. Ia melibatkan masyarakat setempat. 

Kepada TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id), Zubairi mangatakan, bahwa awalnya ia berniat membagun kerukunan dan ekonomi warga sekitar, dengan mengajaknya menekuni dunia kaligrafi. Namun akhirnya, muncul gagasan untuk menciptakan Kampung Kaligrafi.

TIMES-Indonesia-Kampung-Kaligrafi-di-Bondowoso-4.jpg

Ia sendiri, sudah sejak tahun1998 menekuni seni tersebut, dengan bekerja di sebuah galeri, di Yogyakarta. Namun kemudian ia merintis usaha sendiri, kurang lebih satu tahun lalu. 

Dalam mebuat karyanya,  media yang dia gunakan adalah bahan bekas, seperti potongan kayu bekas mebel, bekas rumah tua, kertas, sandal tidak terpakai, hingga kacang.

TIMES-Indonesia-Kampung-Kaligrafi-di-Bondowoso-5.jpg

“Di sini ada bekas mebel, dulu dibuat kayu bakar, dibuang. Juga kayu bekas bangunan tua yang dimakan rayap,” katanya.

Kayu-kayu tersebut, kata dia, rata-rata mendapatkan dari masyarakat. Apalagi, memang pembenahan kampung itu, merupakan murni hasil swadaya.

“Karya ini murni, hasil karya saya sendiri, tanpa lihat di google, atau lihat di panduan khattot. Setiap karya pasti berbeda, ini kaligrafi kontemporer, tanpa berpatokan pada buku panduan,” jelasnya.

TIMES-Indonesia-Kampung-Kaligrafi-di-Bondowoso-6.jpg

Selain dijadikan hiasan di kampungnya, karya-karya Zubairi juga banyak yang dijual ke berbagai daerah. Mulai Yogyakarta, Semarang hingga ke Batam, dan berbagai daerah lain.

Sementara kisaran harga, mulai yang paling kecil harga Rp 5.000, hingga Rp 6.000.000. Tergantung ukuran, bahan dan kerumitannya. Dari usahanya itu, ia juga sudah mempekerjakan empat orang.

TIMES-Indonesia-Kampung-Kaligrafi-di-Bondowoso-7.jpg

Di kampung itu, ia juga mengadakan kursus kaligrafi gratis setiap Jumat sampai Minggu, kepada anak-anak. Tujuannya agar mereka punya keahlian, sehingga ada generasi yang melanjutkan.

Kampung Kaligrafi di Bondowoso itu, masih terbilang 40 persen, karena masih diakukan perbaikan-perbaikan, termasuk menambah karya kaligrafi kontemporer. Namun pengunjung sudah mulai berdatangan, untuk sekedar berswafoto. Dalam waktu dekat, akan dilauching sebagai kampung wisata(*)

Jurnalis : Moh Bahri
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Bondowoso

Komentar

Loading...
Registration