Minggu, 17 Februari 2019
Opini

Jalur Begal Menuju Dua Wisata Legendaris Banyuwangi

Jalur Begal Menuju Dua Wisata Legendaris Banyuwangi Irfan Faiz, content creator Xplore Indonesia. (Foto: Irfan Faiz for TIMES Indonesia)
Jum'at, 04 Januari 2019 - 12:45

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Saya sebenarnya tidak ingin menulis judul yang kurang baik seperti itu. Sempat berpikir cukupkah kasus begal atau klitih ini terjadi di tempat saya tinggal, Yogyakarta. Di sini, kasus begal sangat meresahkan, hingga sebagian masyarakat tergerak melakukan langkah sendiri ketika menemui potensi kejahatanya.

Namun dengan tulisan ini, saya ingin mengungkapkan rasa kaget mendengar berita pembegalan yang terjadi di hutan jalur Karetan, Purwoharjo, Banyuwangi.

Memang saya tinggal di Jogja. Tapi bicara perkembangan pariwisata Banyuwangi, saya selalu update. Terlebih saat ini profesi saya sebagai content creator Xplore Indonesia.

Saya akui, panorama di Banyuwangi memang sangat layak dan pantas menjadi buruan penggila destinasi seperti saya.

Terkait lokasi kejadian, di hutan jalur Karetan, Purwoharjo, Banyuwangi, saya tentu sudah tidak asing dengan daerah tersebut. Jalur yang satu arah dan lokasinya tak jauh dari kantor Polsek Purwoharjo itu merupakan pintu menuju dua objek wisata legendaris Bumi Blambangan. Yakni wana wisata Grajagan dan wisata reliji gua Maria.

Saat ini pantai Grajagan mungkin kalah pamor dibandingkan pantai Pulau Merah. Tapi diakui atau tidak, nama pantai Grajagan merupakan ikon wisata pantai yang legendaris.

Sebelum banyak homestay, di pantai ini sudah berdiri hotel. Bahkan lagu tradisional kendang kempul Banyuwangi, yang khusus menceritakan pantai Grajagan bisa kita dengar di mana -mana. Tidak hanya itu, para surfer yang menikmati ombak di pantai Plengkung juga banyak berangkat dari pantai ini.

G-land sendiri konon mengambil maksud teluk yang berbentuk huruf G. Ada juga yang menyebut G adalah pantai Grajagan yang tersambung hingga ujung pantai alas Purwo. Intinya, objek wisata ini penting dan saat ini jalur menuju ke sana menjadi TKP tindak kriminal begal.

Sementara gua Maria merupakan lokasi yang menjadi satu kesatuan dengan gereja katolik. Gua ini sering dikunjungi warga baik dari Banyuwangi atau pun luar kota. Di samping untuk berziarah, mereka juga melakukan semacam meditasi. Tidak hanya itu, tradisi mantu kucing juga diadakan di lokasi di sekitar gua Maria.

Menjadi tidak menarik ketika profil objek wisata ini harus dikotori peristiwa kejahatan. Apapun alasannya, peristiwa ini menjadi renungan dan PR bagi aparat. Sudah saatnya pemerintah selain membangun jalan yang mulus dan nyaman, juga mulai memikirkan keamanan.

Mindset menyalahkan korban karena semestinya tidak ada. Mau sepi atau ramai kondisi lokasi itu, tentunyya semua harus memenuhi unsur keamanan. Tidak ada ruang untuk kejahatan.

Apalagi jika kejadian itu dikaitkan dengan waktu dan lokasi kejadian berlangsung. Kita harus ingat, petugas kepolisian pernah mendapat serangan teror di banyak tempat dan kapan saja. Semoga pasca peristiwa ini polisi bisa segera mengusut dan tidak malah memberikan permakluman secara tersirat kejadian itu. Baik karena korban sendirian, korban melintas malam hari atau apapun. (*)

 

Penulis adalah Irfan Faiz, content creator Xplore Indonesia

Jurnalis : Syamsul Arifin
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Banyuwangi

Komentar

Loading...
Registration