Minggu, 17 Februari 2019
Opini

Meluruskan Tafsir Al Quran

Meluruskan Tafsir Al Quran Peresensi adalah Moh Mahrus Hasan, Pengurus PP Nurul Ma’rifah, Poncogati, Bondowoso dan guru MAN Bondowoso. (Grafis: Dena/TIMES Indonesia)
Rabu, 02 Januari 2019 - 15:46

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Selasa (25/12/2108), ketika saya membaca beberapa halaman di buku ini, anak pertama saya bertanya, “Abah, apa benar perahu Nabi Nuh terbuat dari pohon jati?” “Deden tahu dari mana?” saya bertanya balik. “Dari youtube,” jawabnya singkat. “Nah, pembahasan tentang itu dibahas di buku ini. Nanti Abah jelaskan,” jawab saya.

Begitulah. Warganet disuguhi postingan-postingan yang sekilas sangat meyakinkan karena dibumbui ayat dan hadits. Ada pula postingan di facebook yang membahas tentang ikan yang menelan Nabi Yunus.

Muncul spekulasi bahwa ikan yang mirip dengan paus yang dijuluki dengan Ikan Nun itu masih hidup hingga kini, bahkan sampai hari kiamat nanti. Dugaan itu diperkuat dengan tafsiran ayat 143 sampai 145 Surat Ash-Shaffat berikut:

Maka ia (Yunus) ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. (143). Maka kalau sekiranya ia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, (144). Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (145).

Masih menurut postingan tersebut bahwa berdasarkan tafsir dari berbagai sumber, makna “tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”, yakni perut ikan itu akan menjadi kuburnya sampai hari berbangkit.

Hal ini kemudian diasumsikan jika ikan tersebut masih hidup hingga saat ini. Postingan itu dilengkapi ilustrasi gambar pulau yang berada di punggung seekor ikan paus yang sangat besar.

Demikian pula dengan video di medsos yang diklaim sebagai Gunung Qaf, gunung yang sangat misterius. Penjelasannya juga menyertakan kutipan ayat.

Jauh hari sebelumnya, saat saya masih seumur anak SD, saya juga sering mendengar cerita tentang kelicikan ular. Kata sohibul hikayat, ularlah yang membawa iblis masuk ke surga dan berhasil membujuk Adam dan Hawa untuk makan buah khuldi, yang menyebabkan keduanya terusir dari surga.

Kala itu, tentu saja saya sangat mempercayai certita tersebut. Selanjutnya-masih kata sohibul hikayat-sebagai pelampaiasan kemarahan kami selaku anak cucu Adam dan balas jasa kami untuk keduanya, maka kami  harus membunuh ular, apapun jenisnya, dan kami mendapatkan pahala karenanya.

***

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Loading...
Registration