Senin, 18 Februari 2019
Opini

NTB 60 Tahun: Desakralisasi Pejabat Publik

NTB 60 Tahun: Desakralisasi Pejabat Publik Mohamad Zakiy Mubarok, Ketua BPC Perhumas NTB (FOTO: Istimewa)
Minggu, 16 Desember 2018 - 13:38

TIMESINDONESIA, MATARAM – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berusia 60 tahun (1958-2018). Pada usianya ini, NTB telah beberapa kali mengalami pergantian kepemimpinan. Dan -meminjam sebuah ungkapan populer-setiap masa ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada masanya. 

Juni 2018, terjadi transfer kepemimpinan di NTB melalui proses politik Pilkada yang demokratis dari Tuan Guru Bajang (TGB) Dr HM Zainul Majdi-H Muhamad Amin, SH kepada pasangan Dr H Zulkieflimansyah-Dr Hj Sitti Rohmi Djalillah.

Pasangan ini dilantik 9 September 2018 oleh Presiden RI, Joko Widodo di Istana Negara. Itu artinya, jika dihitung mundur, kepemimpinan Zulkieflimansyah (Bang Zul)-Sitti Rohmi Djalillah (Ummi Rohmi) lebih kurang menginjak 3 bulan.  

Tampilnya Bang Zul-Ummi Rohmi, makin memparipurnakan sejarah kepemimpinan di daerah ini. Mengapa? Karena setelah melewati fase kepemimpinan -dengan latar belakang- militer di masa revolusi dan orde baru (R. Muhamad AR Ruslan Tjakraningrat, HR Wasita Kusumah, H Gatot Suherman, H Warsito) yang dilanjutkan dengan kepemimpinan birokratik pasca reformasi (Harun Al Rasyid), politisi (H Lalu Serinata), dan ulama-intelektual (HM Zainul Majdi), maka Bang Zul-Umi Rohmi dapat dikatakan mewakili kepemimpinan teknokratik-ilmuwan

Apa itu kepemimpinan teknokratik-ilmuwan? Kata Prof Dr Komarudin Hidayat (2013) pemimpin teknokratik-ilmuwan itu adalah mereka yang kemampuannya menonjol dibandingkan yang lain dalam bidang keilmuan, ahli dalam mengendalikan sebuah organisasi pemerintahan (layaknya memimpin sebuah perusahaan), menekankan profesionalisme, paham agenda apa yang mesti dilakukan dan menguasai cara bagaimana memenuhi tugas yang dibebankan pada jabatannya. 

Sebenarnya, warna kepemimpinan yang ditawarkan Bang Zul-Umi Rohmi sudah terlihat sejak masa kampanye Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur 2018. Bisa jadi sisi ini pula yang menjadi sebab mengapa keduanya mengungguli pasangan lainnya pada saat itu. Dan sisi teknokratik-ilmuwannya itu makin terasa setelah Bang Zul-Umi Rohmi resmi menjabat Gubernur-Wakil Gubernur NTB 2018-2023.

Simak beberapa program pembangunan di era yang oleh keduanya dikristalisasi dengan NTB Gemilang itu. Mengirim 1000 putra/putri NTB sekolah ke luar negeri, mengembangkan sains dan tekno-industrial park serta rumah industri kreatif, mendorong pengembangan industri olahan dan menghadirkan industri permesinan, mendorong penggunaan energi terbarukan dan menuntaskan kebutuhan air bersih, rumah layak huni, irigasi dan bendungan. 

Terkait "ambisi" menyekolahkan 1000 putra putri NTB, belum lama ini dihadapan sidang paripurna DPRD NTB, Bang Zul menjelaskan, dengan belajar ke luar negeri, diharapkan anak-anak NTB dapat lebih meningkatkan kepercayaan dirinya.

Karena melalui pengalaman dan penambahan wawasan setelah belajar di luar negeri, kiranya akan menjadi bekal berharga bagi upaya pembentukan karakter sebagai pemimpin yang berilmu dan bermoral di masa depan. 

Namun demikian, bukan berarti dengan pendekatan teknokratik masalah daerah ini selesai. Karena itu, selain program diatas, ada juga program yang berdimensi sosial, budaya dan ekonomi.

Seperti, memudahkan modal usaha dan akses keuangan bagi masyarakat, memantapkan Islamic Center sebagai pusat peradaban, memgembangkan NTB Care sebagai sistem penanganan masalah sosial darurat cepat tanggap, memfasilitasi pelayanan pada penyandang cacat dan masalah sosial, mendorong pesantren sebagai pusat gerakan perubahan sosial dan kultural.

Selain itu, mendorong pengembangan desa wisata dan bumdes potensial, memperbanyak penerbangan domestik dan international, serta optimalisasi manfaat destinasi unggulan dan kawasan strategis Mandalika dan Samota untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang produktif dan ramah, memperkuat peran perempuan sebagai ujung tombak pembangunan pendidikan dan kesehatan.

Penulis teringat suatu ketika usai shalat Maghrib di Musala kompleks pendapa Gubernur NTB, Bang Zul mengatakan, salah satu agenda penting lainnya adalah desakralisasi pejabat publik. Wallahu'alam. (*)

 

*)Penulis, Mohamad Zakiy Mubarok, Ketua BPC Perhumas NTB

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Anugrah Dany Septono
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Mataram

Komentar

Loading...
Registration