Jum'at, 14 Desember 2018
Adv

I Way Yasa, Dosen "Goweser" Unram Itu Meraih Gelar Doktor 

I Way Yasa, Dosen Dr I Wayan Yasa ST, MT diapit koleganya setelah berhasil menyelesaikan program studi S-3 di Universitas Brawijaya Malang, 5 Desember 2018. (FOTO: Dok. Pribadi for TIMES Indonesia)
Jum'at, 07 Desember 2018 - 21:16

TIMESINDONESIA, MALANG – Kota Malang penuh kenangan buat Dr I Wayan Yasa ST, MT. Dosen Fakultas Teknik Sipil Universitas Mataram (Unram) yang penghobi berat Gowes ini, 5 Desember 2018, berhasil meraih gelar doktor di Universitas Brawijaya (UB). Itu merupakan raihan yang patut disyukuri oleh pria yang suka dijuluki I Way Yasa ini. Betapa tidak! 

Di usianya yang memasuki kepala lima, Dosen Statistik Probabilitas tersebut, baru memulai mengambil program studi S-3.

I-Way-Yasa-2.jpg

Kepada TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id), jebolan S-2 Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini mengaku semula ragu akan kemampuannya. Mengapa? 

"Usia saya sudah tidak muda lagi cak. Apa otak saya masih bisa diajak belajar," jawab pria kelahiran Badung1968 ini, saat nongkrong di resto sebuah plaza di Malang, akhir pekan lalu.

Namun, berkat semangat, motivasi, serta keluarga, akhirnya pada 2015, dia bangkit. "Saya ikut test dan masuk program S-3 di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil UB," tegas alumnus Universitas Mataram ini.

Memang, aku I Way Yasa, sejak diterima di UB, untuk menapakkan kaki kuliah di "Ngalam" terasa berat sekali. Sebab, ia harus mengubah pola hidupnya.  

"Habit (kebiasaan) dari kondisi sangat nyaman, seketika harus berada dalam kondisi yang semuanya harus disiapkan sendiri," ungkap Lektor Kepala ini.

Namun, berkat kondisi kampus yang asri, nyaman, serta rata-rata mahasiswanya berasal dari berbagai provinsi, akhirnya dia kian betah. "Semangat sekolah juga mulai muncul dan dapat menikmatinya," ucap Ketua Laboratorium Hidraulika dan Pantai ini.

Dia mengakui untuk mengikuti perkuliahan di masa usia lanjut, tidaklah mudah. Selain secara alami kemampuan otak dan fisik mulai melemah. Apalagi saat ada tugas dari mata kuliah yang harus segera diselesaikan.

I-Way-Yasa-3.jpg

Yang mendorongnya bisa menyelesaikan S-3 dalam tempo 3 tahun, adalah dorongan kuat rekannya. Sehingga dia kian tekun untuk mengejar target harus bisa menyelesaikan penelitian, penyusunan disertasi dan penulisan international jurnal.

"Akhirnya saya dapat menghasilkan sebuah temuan berupa model indek kekeringan hidrologi yang selanjutnya model tersebut diberi nama: Model Indek Kekeringan Hidrologi Iway (IKH Iway)," aku Yasa puas.

Model IKH IWAY ini, menurut dia dapat digunakan untuk menentukan tingkat keparahan kekeringan wilayah. Manfaatnya, untuk pengaturan alokasi air multi sektor pada saat terjadi peristiwa El-nino. Juga, mitigasi bencana kekeringan akibat perubahan iklim global di seluruh dunia.

Saat menyelesaian model IKH IWAY tersebut, diakui Yasa tetap ada kendala, masalah dan hambatannya. Namun berkat kerja keras, tidak putus asa, dan pantang menyerah, akhirnya model tersebut dapat diselesaikan tepat waktu.

Menurut dia, IKH IWAY menjadi sebuah temuan yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, serta untuk pengembangan dan pengelolaan air wilayah.

Yasa juga menyadari kendala dan tantangan selama penyusunan model itu, tidak ada bedanya ketika dia "Gowes" atau mengayuh sepeda. Filosofi bersepeda inilah yang ia gunakan selama menempuh program S-3. 

"Saat Gowes kita sering dihadapkan pada jalan yang memiliki superelevasi sangat ekstrim," jelasnya.

Nah, saat menghadapi tanjakan ekstrim itulah dia tidak mau menyerah. Apalagi sampai syok atau jatuh mentalnya.

"Di situ kita harus mengambil ancang-ancang mengatur nafas. Iramakan dengan kayuhan kaki," pesan Yasa yang saat berangkat kuliah sering menitipkan sepeda kayuhnya di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat untuk naik Kapal Legundi jurusan Tanjung Perak, Surabaya.

Saat posisi sepeda di tanjakan, "Kita harus tetap mengayuh walau sangat pelan dan jangan sampai terhenti di tengah-tengah tanjakan," akunya. 

Jika sampai terhenti, menurut dia, pasti untuk memulai mengayuh lagi akan sangat berat. Bukan tidak mungkin," Kita harus turun kembali ke jalan datar dan mulai mengayuh dari awal," ungkapnya.

Ia juga membeber kunci suksesnya adalah fokus, punya target dalam menyelesaikan perkuliahan. "Tidak harus setiap hari dan kemana-mana bawa buku, jurnal serta menunjukkan diri stress. Saya justru sebaliknya, santai, happy dan menikmati."

Salah satu yang ia lakukan adalah dengan bergowes ria dengan teman komunitas bersepeda di Mataram. Sehingga beban tugas diperkuliahan dapat dikurangi dan badan menjadi sehat.

"Mungkin orang melihatnya konyol. Masak kuliah Estiga kok santai. Setiap ketemu gowes terus? Haha...," Yasa terpingkal.

Padahal bagi dia, dengan gowes dan silaturahim, kondisi stress bisa berkurang, pikiran menjadi fresh kembali. "Tentunya badan menjadi sehat hingga bisa kembali fokus dan mampu menyelesaikan penelitian," ucapnya.

Keberhasilan seseorang, menurut dosen senior Unram yang kini bernama lengkap Dr. I Wayan Yasa, ST., MT ini ditentukan oleh dirinya sendiri. "Itu yang paling dimoninan". (*)

Jurnalis : Abdul Muis
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Mataram

Komentar

Registration