Selasa, 18 Desember 2018
Peristiwa - Daerah

Capai Target Tertinggi, Begini Resep Dinkes Blitar Sukseskan ORI

Capai Target Tertinggi, Begini Resep Dinkes Blitar Sukseskan ORI Salah satu tindakan pencegahan, imunisasi langsung ke sekolah - sekolah di Kota Blitar. (FOTO: Happy L. Tuansyah/TIMES Indonesia)
Jum'at, 07 Desember 2018 - 13:25

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Berbeda dengan Kota Probolinggo, Kota Blitar, menjadi wilayah dengan capaian tertinggi imunisasi difteri atau ORI di Jawa Timur. Hal ini, tak lepas dari kerja keras seluruh pihak. Ada resep khusus yang diterapkan Dinkes setempat untuk mencapai prestasi pelaksanaan ORI atau  outbreak response immunization tersebut.

Kepala Dinkes Kota Blitar, M. Muchlis menjelaskan, butuh kekompakan dan tanggung jawab dari semua pihak, untuk mensukseskan imunisasi difteri. “Baik dari internal kami, maupun eksternal Dinkes. Termasuk pihak swasta,” kata Muchlis, ketika media visit bersama Unicef di ruangannya, Jumat (7/12/2018).

Begitu mendapat kabar bahwa ada suspect difteri di wilayahnya, Muchlis segera menyusun prosedur penanganan dan pencegahan. Yakni imunisasi difteri pada anak usia satu hingga 19 tahun. Namun demikian, jika dilakukan oleh pihak Dinkes, hal itu tidak mungkin. Dengan target ORI sekitar 50 ribu lebih.

Berbekal program pencegahan dan penanganan, Dinkes kemudian melibatkan semua pihak. Mulai dari instansi pendidikan, kesehatan, kader posyandu, hingga aparat penegak hukum. Termasuk kepala daerah, sebagai pemegang komando pemerintahan tertinggi di wilayah tersebut. “Pokoknya kami libatkan semua. Sampai tidak ada yang dilibatkan lagi,” ujarnya kemudian.

Disinggung soal anggaran, Muchlis menyebut tidak ada dana khusus untuk itu. Bahkan instansi kesehatan swasta, juga ikut terlibat dalam mensukseskan imunisasi difteri.

Salah satu dokter rumah sakit swasta Budi Rahayu, Kota Blitar, Kartika menyebut, walaupun tidak dibayar, pihaknya merasa punya tanggung jawab untuk menjamin kesehatan warga. “Sebagai tenaga kesehatan, kami terpanggil untuk melaksanakan tugas ini. Karena prinsipnya, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Kalau sampai ada yang sakit, kan akhirnya kami juga yang harus menanganinya,” katanya.

Sebagai informasi, wilayah Jawa timur, ditetapkan sebagai wilayah KLB Difteri. Dengan total 16 korban meninggal, dari 400 kasus yang ditemukan sepanjang 2017 - 2018.

Kota Probolinggo sendiri, berada di urutan terbawah, capaian imunisasi difteri. Per tanggal 6 Desember 2018, kota ini masih mencapai 40,85 persen. Untuk itulah, Unicef, mengajak serta jurnalis Probolinggo, mengunjungi kawasan dengan capaian tertinggi. Dengan harapan, mampu memberikan efek positif pada daerahnya. Terutama dalam membantu mensukseskan imunisasi difteri atau ORI (outbreak response immunization). (*)

Jurnalis : Happy L. Tuansyah
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Probolinggo

Komentar

Registration