Sabtu, 15 Desember 2018
Peristiwa - Nasional

KH Ma'ruf Amin Minta Polisi Perketat Pengamanan Pasca Penembakan Pekerja di Papua

KH Ma'ruf Amin Minta Polisi Perketat Pengamanan Pasca Penembakan Pekerja di Papua Calon wakil presiden KH Ma'ruf Amin (Foto: Dokumen TIMES Indonesia)
Kamis, 06 Desember 2018 - 22:47

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Cawapres nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin menyesalkan peristiwa penembakan terhadap 31 pekerja proyek jembatan di Distrik Yigi, Nduga, Papua. Karena itu, pihaknya meminta aparat kepolisian setempat untuk memperketat pengamanan agar kejadian serupa tidak lagi terulang. 

"Saya kira, kita prihatin masih ada penembakan. Ini memang harus dihentikan supaya tidak terjadi lagi. Perlindungan kepada warga masyarakat Papua harus lebih diketatkan, karena ini sifatnya perlindungan terhadap warga bangsa," ucap Ma'ruf, Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Kendati demikian, KH Ma'ruf tetap mendorong pemerintah untuk melanjutkan proses pembangunan infrastruktur di wilayah Papua. Jangan sampai, peristiwa penembakan ini menjadi penghambat program strategis pemerintah pusat di sana. Makanya, aparat kepolisian harus diterjunkan untuk pengamanan di sekitar lokasi proyek. 

"Pemerintah harus melanjutkan pembangunan, karena itu penting bagi rakyat Lapua dan dalam rangka pemerataan fasilitas kepada masyarakat dan juga untuk menghilangkan kesenjangan disparitas antara daerah terutama daerah di Papua," ucap Ketua MUI nonaktif tersebut. 

Beredar kabar terkait siapa kelompok yang mendalangi pembunuhan di Nduga, Papua. Kelompok tersebut ialah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM. Kabar tersebut disebarkan Sebby Sambom, yang mengklaim sebagai juru bicara komando nasional TPNPB-OPM.

Mengenai hal itu, Ma'ruf menegaskan bahwa tuntutan kelompok yang melakukan serangan itu bisa didialogkan dengan pemerintah selama tak terkait dengan pemisahan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Saya kira dialog itu selalu terbuka untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Dan tentu ada batasan-batasannya dalam kerangka NKRI. NKRI itu harga mati," ujarnya. 

"Sudah ada otonomi khusus untuk Papua. Otonomi khusus [Papua] ini kurangnya di mana? [hal ini] Bisa didialogkan, tapi ada limitatifnya [batasan], sepanjang itu masih dalam kerangka NKRI," tambah mantan Rais Aa PBNU tersebut. 

Meski demikian, KH Ma'ruf Amin yang berpasangan dengan capres petahana, Jokowi ini belum bisa memastikan pelaku penyerangan di Nduga adalah bagian gerakan separatis.  "Karena itu kita serahkan kepada pemerintah untuk memberikan penilaian yang utuh. Hari ini kita menyebutnya masih KKB," tandasnya. (*)

Jurnalis : Hasbullah
Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Registration