Jum'at, 14 Desember 2018
Pendidikan

Mengenal Dosen UGM Yang Meneliti Kejadian Hiperlasi Neo Intimal

Mengenal Dosen UGM Yang Meneliti Kejadian Hiperlasi Neo Intimal Hariadi Hariawan bersama keluarga. (FOTO: Humas UGM/TIMES Indonesia)
Selasa, 04 Desember 2018 - 18:36

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Indonesia menempati rangking ke-61 dunia dari negara dimana penduduknya meninggal karena penyakit jantung koroner. Dosen Universitas Gajah Mada (UGM) kini meneliti kejadian Hiperlasi Neo Intimal.

Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang ditandai adanya plak atau kerak aterosklerosis pada pembuluh darah arteri koroner.

Sehingga, pembuluh darah jadi menyempit kemudian menimbulkan gejala nyeri pada dada secara mendadak. Nah, salah satu upaya mengobatinya adalah tindakan bedah pintas koroner, angioplasti dengan balon atau pemasangan stent (ring jantung). Belakangan ini, penggunaan stent untuk pengobatan jantung koroner di Indoensia semakin meningkat.

“Karena itu, perlu upaya awal deteksi penyakit jantung koroner dengan menggunakan biomarker yang mempunyai peran penting dalam inisiasi dan resolusi dari inflamasi setelah adanya jejas vaskular,” kata Dosen spesialis penyakit jantung FKKMK UGM, dr Hariadi Hariawan.

Menurutnya, pemasangan stent bare metal (BM) bermanfaat secara klinis. Hanya, masih diikuti dengan terjadinya hiperplasi neo-intimal pada pembuluh darah yang dipasang stent karena adanya migrasi dan proliferasi dari sel otot polos vaskular.

“Untuk mengetahui efek dari pemasangan stent BM ini, perlu dilakukan penelitian kejadian hiperlasi neo intimal pada hewan yang dipasang stent bare metal,” papar Hariadi.

Hariadi sendiri telah melakukan percobaan pada sepuluh kelinci. Uji coba itu diterapkan pada enam ekor kelinci yang diberi stent BM dan empat kelinci sebagai kontrol tanpa stent. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan darah miRNA dan sitokin iflamasi.

“Dari sampel darah dilakukan pemeriksaann miRNA-2, miRNA-24, IL-6 dan IL-8 dan jaringan pembuluh darah aorta abdominalis dilakukan pemeriksnaan patologi anatomi untuk mellihat adanya hiperplasia neointima,” terang Hariadi.

Dari penelitian ini diketahui pada kelinci yang dipasang stent BM didaipatkan peningkatan rasio miRNA-21/miRNA-24 pada hari ke-7.

“Terjadi peningkatan hiperplasi neo-intimal dari kategori ringan menjadi kategori sedang,” ungkap Hariadi

Hariadi menjelaskan, pada hari ke-28 terdapat penurunan rasio miRNA tetapi terjadi peningkatan hiperplasi neointimal dari ketagerio sedang ke kategori berat.

”Kemungkinan hal ini disebabkan peran miRNA lain yang mempengaruhi terjadionya hiperplasi neo-intimal,” bebernya.

Meski baru penelitian awal, Hariadi mengatakan perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan hewan coba yang lebih mendekati kemiripan terhadap anatomi manusia seperti makak atau babi. "Selain itu, penelitian juga sebaiknya menggunakan stent yang dilapisi dengan obat," tukasnya. (*)

Jurnalis : A Riyadi
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Registration