Selasa, 18 Desember 2018
Opini

Abal-Abal itu Pilihan, Bukan Takdir

Abal-Abal itu Pilihan, Bukan Takdir Imam Wahyudi (Grafis: TIMES Indonesia)
Selasa, 04 Desember 2018 - 12:02

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Namanya Kanti. Tahun 2008-2010 dia adalah grandong-er sejati. “Grandong segrandong-grandongnya”. 

Begitu dia sering menyebutnya. Di Jawa Timur, grandong adalah istilah untuk menyebut seseorang atau sekelompok orang yang kegiatannya mengintimidasi, memalak dan memeras kepala desa, guru-guru, pegawai pemda atau kelompok masyarakat lain dengan ancaman pemberitaan. Korban yang “nurut” atau patuh, akan aman. 

Jika “mbalelo” atau melawan, mereka akan dibombardir dengan pemberitaan buruk. Singkat kata, grandong adalah wartawan abal-abal. Media mereka juga pers abal-abal.

Debut Kanti sebagai grandong terjadi pada 2008, setelah bisnis kayu-nya di Jember gulung tikar dan membuatnya dililit utang. 

Karena sumpek dan galau diuber-uber kreditur, dia kabur ke Kediri, sekitar 260 kilometer di sebelah barat Jember. Di kota itu dia bertemu dengan seorang “wartawan” dari media M yang berjanji akan mengajarinya menjadi wartawan dengan bayaran Rp 1 juta. 

Kanti terpikat. Namun, setelah dua minggu mengantongi kartu pers media M, Kanti dipecat dengan alasan tidak mampu membuat berita. Padahal, menurut Kanti, dia rela membayar agar diajari menulis berita. Dia ingin belajar menjadi wartawan. 

Kanti kemudian pindah ke media SN. Kali ini dengan membayar Rp 500 ribu. Belum genap 3 bulan, dia pun dipecat dengan alasan yang sama, tidak mampu mengoperasikan laptop dan menulis berita.

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Registration