Selasa, 18 Desember 2018
Opini Resensi Buku

Orientasi Kepemimpinan yang Beriman, Berdaya, dan Bermartabat

Orientasi Kepemimpinan yang Beriman, Berdaya, dan Bermartabat (FOTO: Istimewa)
Kamis, 29 November 2018 - 22:32

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Tiga kata: beriman, berdaya, dan bermartabat adalah trilogi kepemimpinan Bupati Bondowoso ke-30 Amin Said Husni (ASH). Ketiganya menjadi cetak biru (blue print) dasar pembangunan daerah Bondowoso di bawah kepemimpinan pria kelahiran Pamekasan 19 Agustus 1966 ini. Dalam kajian sastra Arab (balaghah), trilogi itu memenuhi unsur ijaz (ma qolla lafdhuhu wa katsura ma’nahu, pendek kata sarat makna; simpel namun menjadi sampel; kata sederhana namun kaya makna).

Term beriman, berdaya, dan bermartabat itu merupakan hasil kontemplasi ASH untuk menjalankan kepemimpinannya dengan tantangan sekaligus potensi untuk membangun Bondowoso. Pertama, dalam pandangan ASH, pembangunan itu harus berorientasi pada dua dimensi: lahir (fisik) dan batin (spirit). Dalam konteks spiritual, pembangunan harus menitikberatkan pada pembangunan karakter dan kepribadian. Selain itu, masyarakat Bondowoso adalah masyarakat yang agamis dengan kultur kesantrian yang kental. Para tokoh agama, khususnya para kiai, menempati posisi sentral di tengah-tengah kehidupan sosialnya.

Opini-Resensi-Buku.jpg

Untuk mewujudkan trilogi itu, ASH menggagas Pendidikan 24 Jam (P-24). Pengarusutamaan P-24 tersebut menekankan bahwa pembentukan karakter anak tidak semata dibebankan kepada para guru di sekolah, namun juga harus melibatkan orang tua dan masyarakat. Dengan P-24, ketiga pilar pendidikan itu benar-benar menjadi gurunya manusia, sekolahnya manusia, dan orang tua-masyarakatnya manusia.

Untuk lebih memantapkan P-24 tersebut, ASH menggagas Gerakan Kembali ke Musala (GKM), yang merupakan salah satu implementasi P-24. Melalui Peraturan Bupati Nomor 9 tahun 2017, GKM ini bisa dianggap sebagai tindakan preventif sekaligus solutif di tengah merebaknya fenomena anak enggan mengaji di musala akhir-akhir ini, utamanya saat usia SMP sederajat. Mereka merasa malu mengaji di musala karena merasa sudah dewasa. Padahal dalam Islam, menuntut ilmu itu sepanjang hayat (minal mahdi ilal lahdi-long life education-life long learning).

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Registration