Selasa, 18 Desember 2018
Opini

Ninabobo NKRI Harga Mati

Ninabobo NKRI Harga Mati Ach Dhofir Zuhry, pendiri STF AL-FARABI dan pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen-Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)
Kamis, 29 November 2018 - 11:17

TIMESINDONESIA, MALANG – Saya, Anda, dan mungkin bersama para penghayat demokrasi lainnya di Nusantara ini, kerap tertawa sendiri, kadang saya terpingkal geli dan terbahak keras, lalu terdiam, diam yang paling sunyi, sampai ke jantung sepi. 

Harus diakui, kita bangsa Indonesia punya selera humor tinggi, sehingga, karena oknum-oknum tempurung jahat pengelola Negeri, baik elit politik, ekonomi, elit agama, kebudayaan dan bahkan pelawak sendiri, sulit tertawa, maka tugas tertawa itu dibebankannya kepada lebih dari 260 juta rakyat Indonesia. Ini jawaban dari mengapa banyak tingkah-polah para poli-tikus menjadi bahan tertawaan seluruh rakyat Indonesia. 

Para pejuang demokrasi di negeri ini mulai mengering air matanya kerana tangis tak berkesudahan, ironi-ironi pembangunan merebak menggerogoti ideologi garuda - setiap anak muda ingin menjadi artis dan politikus. 

Tak hanya itu, oknum ilmuwan dan akademisi terus membaptis diri menjadi cendikiawan menara gading dengan tingkat kepusingan ilmiah paling memuakkan. Sama dengan politikus, mereka kerap bicara yang mereka sendiri tidak mengerti dan orang lain tidak paham. 

Tiba-tiba, setelah bangsa ini dikepung dari berbagai penjuru ibarat hidangan yang dikerumuni mulut-mulut yang serakah dan lapar, terdengar teriakan "NKRI harga mati" di mana-mana. So what gitu loh?

Memang, bangsa ini sangat kreatif, pada saat yang sama paling senang membual dan aneh-aneh, bahkan sampai tingkat paling absurd dan konyol. Persis ketika menghadiri tahlil pada hari ketiga wafatnya Gus Dur, salah seorang di antara kami berteriak, "hidup Gus Dur! hidup Gus Dur!" Saya memaklumi itu sebagai ekspresi cinta. Apapun itu, semangat, etos dan eros seorang Gus Dur tetap hidup dan menyala bagi para pecintanya.

Nah, di antara kreativitas bangsa Indonesia adalah semaraknya perayaan Hari Santri-yang belakangan telah menjadi komoditas politik, gerakan sarungan dan tentu saja ramainya poster, pamflet dan pekik "NKRI harga mati" di dunia maya dan nyata.

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Registration