Selasa, 18 Desember 2018
Peristiwa - Internasional

Di Singapura, Peserta SMP Kemenag RI Pelajari Lembaga Pendidikan Komunitas

Di Singapura, Peserta SMP Kemenag RI Pelajari Lembaga Pendidikan Komunitas Perwakilan Institut PengajianTinggi Al Zuhri memberi paparan pada peserta Program SMP Kemenag RI. (FOTO: Imam Kusnin Ahmad/TIMES Indonesia)
Rabu, 28 November 2018 - 22:38

TIMESINDONESIA, SINGAPURA – Peserta program SMP (Student Mobility Program) Kemenag RI  mendapat kesempatan mengunjungi Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri. Sebuah lembaga pendidikan berbasis komunitas yang berada di Singapura.

Fathurrahman Daud, atas nama Pimpinan Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri, mengatakan umat Islam Singapura adalah minoritas. Untuk menjaga eksistensinya di bentuk wadah fungsional untuk mengembangkan dakwah melalui Amla (adminstrasi of muslim) dan Majlis Ugama Islam.

"Kami bersyukur dalam struktur pemerintahan  Singapura umat Islam memiliki menteri urusan agama Islam" kata Fathurrahman. Pemerintah memfasilitasi pengadaan tanah untuk lokasi pembangunan masjid dan masjid menjadi aktifitas pembinaan pendidikan Islam yang efektif.

Fathurrahman menerangkan saat ini ada enam madrasah di Singapura yang menawarkan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, yaitu, Aljunied Al-Islamiah, Irsyad Zuhri Al-Islamiah, Al-Maarif Al-Islamiah, Alsagoff Al-Arabiah, Al-Arabiah Al-Islamiah, dan Wak Tanjong Al-Islamiah. Empat di antaranya merupakan madrasah ko-edukasional, sedangkan dua lainnya merupakan madrasah yang menawarkan pendidikan secara eksklusif untuk anak perempuan.

Sistem dan metode pendidikan di Singapura adalah simultan, terprogram, bertahap. Materi pendidikan Islam diorientasikan pada ibadah praktis, tidak menjejali siswa dengan materi yg bersifat teoritik yg rentan pada perbedaan, terang Fathur.

Syafriansyah Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan atas nama Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada Al Zuhri. "Semoga mahasiswa dapat termotivasi dan terinspirasi dalam kunjungan studen mobility program," kata Syafri.

Mas'udin Syarifuddin, Executive Director at al-Zuhri Institute of Higher Education, mengatakan guna menghindari faham radikal dan intoleran masyarakat muslim Singapura membentuk Asatizah Recognition Schema. Hal ini sejalan dengan kondisi sosial politik Singapura yang mefokuskan pada pembangunan keamanan dan stabilitas nasional.

Terkait dengan kegiatan kemahasiswaan diarahkan untuk pengembangan akademik seperti KKN dan pendelegasian ke luar negeri. "Di sini tidak ada demonstrasi mahasiswa karena orientasi kami pada persoalan pragmatis untuk pengembangan SDM," kata Mas'udin.

Diantara Wakil Rektor/Wakil Ketua PTKIN yang ikut serta adalah dari IAIN Salatiga, IAIN Pekalongan, IAIN Padangsidempuan, STAIN Bengkalis, IAIN Bone, IAIN Parepare, IAIN Madura, IAIN Kerinci, IAIN Kediri, IAIN Curup, IAIN Tulungagung, IAIN Metro Lampung, IAIN Gorontalo, UIN Maliki Malang, UIN STS Jambi, UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, dan UIN Ar-Raniry Aceh.

Rihlah ilmiyah Program SMP dipimpin oleh Syafriansyah Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan Kemenag RI dan didampingi Ruchman Basori Kasi Kemahasiswaan, Otisia Arinindiyah Kasi Sarpras PTKIS dan Nur Yasin Kasi Sarpras PTKIN. (*)

Jurnalis : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Registration