Selasa, 18 Desember 2018
Opini

Surat Cinta Imam Busiri pada Muslim yang Tak Mau Membaca Maulid

Surat Cinta Imam Busiri pada Muslim yang Tak Mau Membaca Maulid Ahmad Patoni, S.S, Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. (Grafis: TIMES Indonesia)
Selasa, 27 November 2018 - 09:58

TIMESINDONESIA, LOMBOKPERBEDAAN pendapat dikalangan kaum Muslimin adalah sebuah rahmat terindah karunia tuhan pada setiap pemeluk agama islam. Analogi kalau umat muslim sebagai sebuah keluarga besar dan satu tubuh sudah sangat melekat dan tidak mampu kita bantah. 

Dalam sebuah keluarga besar perbedaan pendapat terkait cara mencintai dan membuktikan cinta pada orang tua tentunya tidak akan sama. Tidak jarang juga satu diantara saudara kita membuktikan cintanya dengan sikap profesional dan sangat tertib. Tapi tidak menutup kemungkinan satu dari lainnya menunjukkan cinta hanya dengan ungkapan dan kata- kata cinta. 

Tidak jarang ungkapan cinta dianggap sebagai cara terbaik mendekatkan diri pada orang tua, begitu juga dengan yang lainnya. Menganggap kebaktian yang sesuai aturan adalah cara terbaik berbakti. Tidak berlebihan dan tidak gombal.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam satu keluarga yang berasal dari darah daging yang sama, bisa memiliki cara pandang yang berbeda. Masing-masing diantara mereka memiliki pembenaran akan sikap sesuai dengan pemahaman dari apa yang pernah dilakukan dan dikatakan oleh orang tuanya.

Analogi diatas, memang tidak bisa disamakan dengan sikap beragama. Akan tetapi, jika ditinjau dari interpretasi rukun iman yang pertama dan kedua. Maka percaya pada Allah dan Rasulnya akan mencapai puncaknya jika kepercayaan itu dilandasi Rasa cinta yang tinggi pada Allah dan Nabinya. 

Dan menumbuhkan cinta pada Tuhan dan Nabinya tidak semudah menumbuhkan cinta pada sang Gadis atau seorang lelaki. Komitmen cinta akan ada ketika yang dicinta betul-betul dirasakan kehadirannya dalam setiap gerak kehidupan. 

Kondisi orang yang berusaha menumbuhkan rasa cinta pada tuhan dan Nabinya akan melakukan segala hal. Mulai dari berusaha tau apa yang disuka dan tidak disuka oleh yang dirindu cintanya. 

Dan dalam Islam sudah sangat jelas, untuk bisa menggapai cinta pada sang pencipta adalah dengan cara mendapatkan cinta dari sang kekasih yakni baginda Rasulullah SAW. Sang kekasihpun telah menggariskan cara mencintainya melalui syariat yang diajarkan.

Syariat ini berupa apa yang pernah beliau ungkapkan, lakukan dan tetapkan. Dalam posisi  ketiga yakni "penetapan" inilah terjadi perbedaan pendapat dikalangan ummat muslim. Beberapa ulama yang pernah bertemu dalam mimpi dan bisyarah secara langsung dengan baginda Rasul. 

Maka mereka akan sangat rindu untuk bisa ketemu secara terus menerus. Rasa cinta untuk bisa ketemu dan rasa cinta menceritakan keindahan pertemuan dengan Baginda Rasul inilah yang membuat para ulama menulisnya menjadi sebuah syair.

Mengabadikan ungkapan cinta dengan syair adalah sebuah tradisi di dunia Arab. Maka sangat tidak menjadi sebuah keanehan jika Imam al Busyiri menyindir para pencela Maulid dengan syirnya:

"Mungkinkah aku bisa mengingkari Rasa cinta setelah aku menyaksikannya Langsung"?

"Sampai air mataku jatuh berderai dan membuatku merana. Seandainya tidak ada cinta yang memggores tak akan mungkin air mataku berderai".

"Maafkan aku wahai yang membenciku karena cintaku ini. Seandainya kau merasakan apa yang aku alami, tak akan mungkin kau mencelaku".

"Begitu tulus kau menasihatiku, Tapi aku tak bisa mendengarkan nasihatmu. Karena orang yang sedang dimabuk cinta, begitu tuli dan tak akan pernah menggubris cacian dan celaan".

Surat cinta ini ditulis oleh Imam al Busyiri dalam kitabnya al Burdah. Berisi tentang ungkapan cinta pada nabi dan kutipan sejarah baginda Rasul. Adapun inspirasi penamaan Burdah dikarenakan Imam al Busyiri diselendangkan jubah langsung oleh baginda Rasul dalam pertemuan Mubasyarah. 

Sehingga tidak jarang para pencari cinta Rasulullah membaca kitab ini disetiap datangnya bulan Maulid dengan harapan bisa bertemu langsung melalui mimpi atau Mubasyarah dengan Kanjeng baginda Rasulullah Muhammad SAW. Wallahu alam. (*)

Penulis: Ahmad Patoni, S.S, Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Lombok

Komentar

Registration