Selasa, 23 April 2019
Opini

Islam dan Selangkangan Politik

Islam dan Selangkangan Politik Ach Dhofir Zuhry, pendiri STF AL-FARABI dan pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen-Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)
Kamis, 22 November 2018 - 09:08

TIMESINDONESIA, MALANG – Anda sudah ngopi hari ini? Baik, mari selamatkan anak bangsa dari cuti nalar karena kurang ngopi! Biar saya yang traktir kali ini.

Selama hidup, Nabi Muhammad Saw terlibat dalam 9 peperangan dan 54 kali ekspansi militer. Korban dari masyarakat sipil lebih-kurang 3000 jiwa. Bandingkan misalnya dengan perang dunia ke-II, korban nyawa lebih dari 60 juta jiwa!

Selalu, dalam setiap pertempuran, kanjeng Nabi menghidari perang di tengah kota. Nabi, sebagai panglima tertinggi militer kala itu lebih memilih perang di bukit, Uhud misalnya, juga di lembah, Badar contohanya, bahkan perang di benteng, Khaibar umpamanya. Beliau juga melarang kaum difabel, lansia, ibu-ibu dan anak-anak ke medan laga.

Pendek kata, adalah sangat keliru jika Islam dianggap sebagai agama perang, bengis dan haus darah. Teramat banyak tempurung jahat yang menyebarkan hoaks ini, bahkan dalam pelajaran-pelajaran sejarah peradaban Islam, nyaris selalu tentang perang dan perang. Bukankah kesalahan yang diulang-ulang akan membentuk cara berpikir dan lantas dianggap sebagai kebenaran pada gilirannya? Bukankah keyakinan bahwa Islam melegitimasi perang secara serampangan justru akan menjadi prilaku para penganutnya?

Tapi, Al-Qu'an sendiri dalam sekian ayat melegalkan perang? Bukankah ini justru menyelingkuhi misi perdamaian yang dicita-citakan Islam sendiri? Bukankah ini malah kontraproduktif dengan spirit Islam sebagai cinta-kasih untuk semesta (rahmatan lil 'alamin)?

Baiklah, kopi tambah lagi, Kisanak! Dalam Al-Qur'an memang terdapat ayat-ayat perang (musayifah), tapi jangan lupa juga terdapat ayat-ayat tentang perdamaian (musalimah). Pertanyaan lugunya: dalam rangka apa perang? Untuk misi apakah angkat senjata? Yang tak kalah prinsipil adalah: benarkah Nabi berperang atas nama agama? 

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Loading...
Registration