Kamis, 19 September 2019
Kopi TIMES

Islam dan Selangkangan Politik

Islam dan Selangkangan Politik Ach Dhofir Zuhry, pendiri STF AL-FARABI dan pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen-Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)
Kamis, 22 November 2018 - 09:08

Ini yang banyak kaum otak cingkrang dan cuti nalar tak tahu dan tak mau tahu: perang yang dihadapi Nabi semata defensif (difa'i), bukan ofensif (thalabi). Nabi tidak pernah menyatakan perang, beliau dan para pengikutnya—diperangi, sehingga, mau tak mau—melawan dan mempertahankan diri. 

Nah, jika Nabi adalah Rasul yang cerdas dan penuh welas-asih, seharusnya pengikutnya pun juga demikian, lebih menggunakan akal sehat dan hati nurani dalam beragama. Lantas, mengapa belakangan ini kian berjibun-jibun Abu Jabal Abu Lahab modern yang teriak-teriak di jalanan mengaku membela Islam dengan menyatakan perang kepada siapapun yang tidak sepaham dengan mereka? Benarkah mereka membela agama, atau sebenarnya hanya para gelandangan dan pengangguran pencari nasi bungkus? Benarkah mereka pejuang kemanusiaan dan kedamaian, atau sesungguhnya Dajjal-Dajjal sok agamis pemburu selangkangan politik? Benarkah meraka para pejuang (mujahidin) atau tak lebih dari begundal dan bromocorah yang memahami agama sebatas atribut dan lantas menyembah-nyembah simbol?

Jangan lupa, perang dan saling bunuh adalah tradisi jahiliyah pra-Muhammad Saw. Di zaman jahiliyah, perang etnik sudah lazim terjadi dan mendarah-daging. Inilah tribalisme kebanggan Arab yang sedikit-banyak masih terus dibangga-banggakan oleh mereka yang mabuk Arab dan kerasukan Abu Jahal di era digital ini. Dan, sayangnya, terus-menerus terjadi hingga cahaya Islam datang, bahkan hingga milenium ketiga ini. Jangan lupa pula, tidak ada perang (atas nama dan demi membela) agama beberapa dekade belakangan ini, apalagi cuma bela bendera dan simbol-simbol politik tertentu dengan bungkus agama.

Praktis, perang di zaman jahiliyah—dan memang kebiasan Arab jahiliyah, termasuk jahiliyah modern dewasa ini—adalah perang perebutan sumber daya ekonomi dan akses politik, tak jauh-jauh dari selangkangan politik, sampai sekarang dan entah hingga kapan. 

Oleh karena itu, kanjeng Nabi ditolak para begundal Arab jahiliyah bukan karena kebenaran agama dan Kitab Suci yang dibawa, sebab agama Muhammad Saw adalah kontinuasi dari agama para Rasul terdahulu. Islam ditolak oleh bangsa Arab jahiliyah karena jalas-jalas akan merusak secara radikal tatanan ekonomi monopoli sentralistik mereka, akan mangancam sistem politik golongan dan aristokrasi patrimonial mereka, serta akan merombak konstelasi budaya barbar mereka yang sangat menindas kaum lemah dan perempuan. Mau bukti?

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Registration