Rabu, 21 November 2018
Politik

Politik Genderuwo, Cara Jokowi Ingatkan Rakyat Agar Tak Takut

Politik Genderuwo, Cara Jokowi Ingatkan Rakyat Agar Tak Takut Jubir TKN duet Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga. (FOTO: TKN for TIMES Indonesia)
Jum'at, 09 November 2018 - 20:44

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pernyataan Presiden Jokowi soal politik genderuwo adalah cara untuk membesarkan hati sekaligus meyakinkan masyarakat bahwa tak perlu pesimis dan takut dengan upaya pihak tertentu yang terus berusaha menebar ketakutan.

Menurut Juru Bicara TKN, Arya Sinulingga, politik genderuwo, bahasa lain dari firehose of falsehood, sebuah istilah asing yang belum tentu awam bagi masyarakat. Presiden Jokowi membumikannya menjadi 'politik genderuwo'.

"Bahwa rakyat jangan mau ditakut-takuti. Ini seperti, ada orang yang menakut-nakuti, jangan lewat jalan itu karena ada genderuwo di sana. Pak Jokowi datang dan bilang jangan takut. Jadi jangan mau ditakut-takuti, mereka tak bicara fakta, hanya bluffing," beber Arya, Jumat (9/11/2018).

Dalam konteks lebih luas, lanjut politisi Partai Persatuan Indonesia (Perindo) tersebut, pernyataan Presiden Jokowi ini juga sebagai peringatan kepada semua pihak yang suka memakai politik genderuwo. 

Kata dia, wujud politik genderuwo seperti suka menghantui, menakut-nakuti, membuat seakan-akan ada situasi mengerikan. Politik demikian berbeda dengan yang suka membawa kedamaian dan membangun optimisme.

Politik genderuwo juga suka mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sebagai contoh, jelas Arya, berusaha membangun kepanikan dan kebencian lewat omongan bahwa harga barang-barang naik. 

Atau pernyataan yang menyebut bahwa Indonesia di ambang kehancuran. Lalu pernyataan 90 persen rakyat Indonesia miskin. Niatnya tentu saja demi membangun ketakutan dan kecemasan soal masa depan Indonesia yang tak baik.

Padahal terang Arya, faktanya, harga barang-barang di pasar sama sekali tidak naik. Indonesia pun sama sekali tak diambang kehancuran dan tak pula ada 90 persen masyarakat Indonesia berada dalam kemiskinan.

"Apa ada 90 persen masyarakat miskin? Padahal kemacetan ada dimana-mana karena mobil bertambah. Bukan hanya di Jakarta, tapi juga kota di daerah," beber Arya.

"Lihat Lombok. Warga di sana bisa recovery dengan cepat. Aktivitas ekonomi sudah jalan lagi. Kalau miskin, kan tak mungkin bisa. Tak ada yang meminta-minta, jadi tak miskin," lanjutnya.

Lanjut Arya, tipikal politisi genderuwo akan terus menerus tanpa henti berusaha menyatakan kebohongannya. Mereka berusaha selalu meyakinkan sesuatu yang tak ada, menjadi ada di pikiran masyarakat.

"Itulah politik genderuwo. Genderuwo itu adalah hantu. Mereka berusaha menakut-nakuti. Yang tidak ada, berusaha diada-adakan," kata Arya.

Seharusnya, Arya mengatakan, kampanye yang baik adalah yang mendorong ide-ide baru, menjelaskan visi misi ke masyarakat dengan baik. Sehingga masyarakat berpikir memilih pemimpin yang bisa membawa kebaikan hidup bersama di masa mendatang.

"Jadi jangan ketakutan dibangun, supaya rakyat takut. Saya katakan, kalau yang bikin takut itu kan sebenarnya genderuwo," tandas Arya, Juru Biacara TKN duet Jokowi-KH Ma'ruf Amin(*)

Jurnalis : Hasbullah
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Registration