Rabu, 21 November 2018
Politik

Soal Politik Genderuwo, Karding: Bisa Saja Itu untuk Nyindir Prabowo

Soal Politik Genderuwo, Karding: Bisa Saja Itu untuk Nyindir Prabowo Presiden Jokowi (FOTO: Istimewa)
Jum'at, 09 November 2018 - 20:55

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Tim Kampanye Nasional (TKN) duet Jokowi-KH Ma'ruf Amin mengakui, bahwa Presiden Joko Widodo bisa saja menggunakan istilah politik gendurowo untuk menyidir lawan politiknya di Pilpres 2019.

Sebab, menurut Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding, kubu rival, Prabowo-Sandiaga Uno diketahui kerap kali membuat narasi kampanye pesimisme, pernyataan agitator dan propagandis di tengah masyarakat.

"Jadi kalau, Pak Prabowo sering melontarkan pesimisme, pernyataan yang agitator dan propagandis terkait hal-hal yang menakutkan, mungkin, salah satu yang disebut yang dimaksud salah satunya Pak Prabowo," ucap Karding, Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Namun yang jelas, penggunaan istilah politik genderuwo tersebut untuk melawan narasi politik kebohongan yang dinilai masih banyak digunakan elit politisi selama kampanye Pilpres 2019 ini berlangsung.

"Itu adalah satu pernyataan simbolik yang ditujukan kepada semua orang, pemimpin, politisi yang di dalam kampanye-nya selalu membangun narasi-narasi propaganda, tentang ketakutan di tengah masyarakat," bebernya.

Saat kunjungan kerja di Tegal, Jawa Tengah, tadi pagi, Presiden Jokowi kembali melempar diksi baru, yakni 'politik genderuwo' karena kebanyakan politisi saat ini masih suka melakukan propaganda ketakutan kepada masyarakat.

Kata Karding, politik genderuwo dilontarkan Presiden Jomowi juga sebagai sindiran keras bagi politisi penebar ketakutan dan pesimisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Sementara politik itu semestinya buat politik itu tenang, nyaman, bergembira, dan senang hati, mendapatkan pendidikan. Itu yang disindir oleh pak Jokowi." tandas Karding, Wakil Ketua TKN duet Jokowi-KH Ma'ruf Amin mengenai politik genderuwo(*)

Jurnalis : Hasbullah
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Registration