Kamis, 22 November 2018
Politik

Politik Genderuwo, Politik yang Menyebarkan Propaganda

Politik Genderuwo, Politik yang Menyebarkan Propaganda Wakil Ketua TKN duet Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding.
Jum'at, 09 November 2018 - 18:47

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Tim Kampanye Nasional (TKN) duet Jokowi-KH Ma'ruf Amin, menilai, pernyataan Presiden Joko Widodo soal 'politik genderuwo' sebagai pernyataan simbolik bagi elit politisi yang suka mengeluarkan narasi propaganda, kebohongan dan ketakutan di tengah masyarakat.

Karena itu, Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding berpandangan, bahwa penggunaan istilah tersebut untuk melawan narasi politik kebohongan yang dinilai masih mewarnai kampanye Pilpres 2019.

"Itu adalah satu pernyataan simbolik yang ditujukan kepada semua orang, pemimpin, politisi yang di dalam kampanye-nya selalu membangun narasi-narasi propaganda, tentang ketakutan di tengah masyarakat," jelas Karding, Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Politisi PKB itu juga tak menampik jika penggunaan diksi 'politik genderuwo' ditujukan pada lawan politiknya di Pemilihan Presiden 2019, yakni duet Prabowo-Sandiaga Uno. 

"Jadi kalau, pak Prabowo sering melontarkan pesimisme, pernyataan yang agitator dan propagandis terkait hal-hal yang menakutkan. Mungkin, salah satu yang disebut yang dimaksud salah satunya pak Prabowo," beber dia.

Tapi, yang jelas lanjut Karding, pernyataan Presiden Jokowi itu tidak hanya terbatas pada pihak tertentu, namun berlaku bagi semua elit politisi yang suka menyebarkan ketakutan, pesimisme dan hoaks.

"Tetapi, menurut saya (politik genderuwo) seluruh politisi bahkan seluruh orang itulah yang dimaksud oleh pak Jokowi. Jadi rakyat sedemikian rupa dihantui oleh isu-isu palsu, hoaks, fitnah, nyinyir yang tujuannya adalah untuk menakut-nakuti rakyat," tandas Karding, Wakil Ketua TKN duet Jokowi-KH Ma'ruf Amin(*)

Jurnalis : Hasbullah
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration