Kamis, 22 November 2018
Peristiwa - Daerah

Peringati Hari Pahlawan, Generasi Milenial Disuguhi Drama Perjuangan Arek-arek Suroboyo

Peringati Hari Pahlawan, Generasi Milenial Disuguhi Drama Perjuangan Arek-arek Suroboyo Para aktor teater Citra SMADA Lamongan, unjuk kebolehan di dalam pertunjukkan memperingatan Hari Pahlawan, Jumat, (9/11/2018). (FOTO: Siti Nura/TIMES Indonesia)
Jum'at, 09 November 2018 - 18:14

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Sirine tanda bahaya tiba-tiba meraung-raung memekakkan telinga generasi milenial SMA Negeri 2 (SMADA) Lamongan, Jawa Timur di tengah kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.

Bahkan, teriakan histeris minta tolong juga terdengar jelas dari luar kelas. Suasana mencekam terasa jelas, para guru maupun murid pun berhamburan keluar kelas, penasaran akan apa yang terjadi.

Hari-Pahlawan-lamongan-2.jpg

Ada apa? Itulah pertanda mulai berlangsungnya drama kolosal yang digelar oleh teater Citra SMADA Lamongan dalam peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada Sabtu (10/11/2018) besok.

"Yang keliling ini sambil teriak, biar yang lain merasa penasaran ada apa kuk ramai, merasakan mencekamnya jaman dahulu seperti apa. Saya gambarkan situasi sebelum Indonesia merdeka dulu," kata pembina Teater Citra SMADA Lamongan, Niko Dwi Ariyanto, Jumat (9/11/2018).

Setelah semua siswa keluar, para siswa pun diajak melihat penggambaran perjuangan para pahlawan yang membawa Kemerdekaan bagi Indonesia di lapangan basket yang disulap dengan background Hotel Yamato, Surabaya.

"Kita ceritakan kejadian Jepang menjajah Indonesia merebut kekuasaan, serta rentetan-rentetan yang akhirnya muncul suara Bung Karno membacakan teks proklamasi," ucapnya.

Adanya pembacaan Proklamasi ini, juga dibarengi dengan tarian yang menggambarkan perkelahian antara Rakyat Indonesia yang mejadi tawanan dengan tentara Jepang. Hingga akhirnya seluruh tentara Jepang digelandang dibawa keluar, pribumi yang lain masuk dan merayakan Kemerdekaan dan melanjutkan kehidupan.

Namun kebahagian akan kemerdekaan ini hanya bisa dirasakan sebentar saja. Sebab, setelah itu datanglah tentara sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Mallaby, komandan Brigade 49 Divisi India merupakan bagian dari Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Mereka memaksa Indonesia untuk tunduk di bawah sekutu.

Hari-Pahlawan-lamongan-3.jpg

Di bawah pimpinan Mallaby, yang mengemban misi mengembalikan Indonesia kembali menjadi Hindia Belanda kekuasaan Belanda di bawah administrasi NICA (Netherlands Indies Civil Administration), menurunkan merah putih dan akhirnya memicu kemarahan pribumi yang mengakibatkan banyaknya pertempuran.

Saat pertempuran terjadi, ada satu waktu Mallaby berkeliling di Surabaya tanpa pengawalan ketat, akhirnya dicegat sama arek-arek Suroboyo dan dibunuh.

Itu membuat tentara sekutu semakin marah, akhirnya mereka melakukan penyerangan namun Indonesia tak gentar. Bung Tomo membangkitkan semangat sampai terakhir menyobek bendera Belanda yang berwarna biru dan meninggalkan bendera merah putih di Hotel Yamato.

Di saat bersamaan, seorang anak membacakan puisi yang menggambarkan Indonesia sebelum Merdeka, saat Merdeka, saat dijajah lagi dan akhirnya benar-benar Merdeka. "Puisi itu menambah dramatisnya," kata Niko.

Setelah aksi perobekan bendara itu terdengarlah suara nyanyian lagu Pahlawan Merdeka dan Indonesia Raya yang dikumandangkan oleh tim paduan suara.

Drama kolosal ini berdurasi sekitar 25 menit dengan melibatkan puluhan pemain yang merupakan siswa SMADA lamongan. "Aktor ada sekitar 78 pemain," ucapnya.

Ia pun berharap dengan adanya drama kolosal ini memberikan info kepada siswa-siswa mengenai perjuangan yang dilakukan oleh pahlawan terdahulu.

"Apalagi anak-anak generasi milenial, kalau mereka tidak cari di YouTube, kalau tidak dapat dongeng dari nenek-neneknya sebenarnya tidak akan tahu sejarah seperti itu, makanya saya ingin munculkan dari info-info pertunjukan itu," tuturnya.

Di sisi lain, Wakasek Kurikulum SMADA, Hamim mengapresiasi apa yang dilakukan oleh teater Citra SMADA yang membuat drama kolosal ini.

Hari-Pahlawan-lamongan-4.jpg

"Kegiatan semacam ini bagus, kita semua tahun zaman sekarang ini berbeda dengan era zaman dahulu, kegiatan semacam ini untuk mengingatkan kembali bahwa masa-masa itu bagaimana perjuangan orang-orang dulu untuk memerdekakan kita setelah lepas dari penjajahan, Merdeka kemudian ada penjajahan lagi dan akhirnya benar-benar Merdeka," ujarnya.

Hamim menjelaskan, dengan adanya drama kolosal itu membuat para siswa lebih bersemangat untuk berjuang dalam berprestasi.

"Ini mengingatkan kepada anak-anak, bagaimana orang dulu berjuang jiwa dan raga, harta kalau dibanding dengan anak-anak sekarang itu kurang. Dengan melihat ini diharapkan anak-anak bisa bangkit semangatnya, paling tidak semangat untuk menggapai cita-citanya," pesannya terkait peringatan Hari Pahlawan. (*)

Jurnalis : Siti Nura
Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Lamongan

Komentar

Registration